Arsip | Maret, 2010

Jangan Lihat Kesalahannya

31 Mar

Suatu hari Rasululullah saw. akan melakukan shalat jenazah. Ketika jenazah itu diletakkan, Umar r.a. berkata, ‘Ya Rasulullah, jangan kau shalatkan dia. Dia seorang bajingan’.

Lalu Rasulullah menghadap kepada para jamaah sambil berkata, ‘Adakah di antara kalian pernah melihatnya melakukan amal islami?’

Seseorang menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah. Dia pernah ikut berjaga-jaga di medan jihad’.

Maka Rasulullah menshalatkannya. Setelah itu Rasulullah menaburkan debu kepada jenazah tersebut sambil bersabda, ‘Teman-temanmu mengira engkau ahli neraka, namun aku bersaksi bahwa engkau adalah ahli surga’.

Lalu Rasulullah berkata kepada Umar, ‘Wahai Umar, jangan kau bertanya tentang perilaku seseorang, namun tanyakan kebaikan fitrahnya’.

Iklan

Dijual Murah: Istana Bertatahkan Intan Permata

29 Mar

Suatu hari, Rasulullah saw. sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Di tengah para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah saw. tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi depannya. Umar r.a. yang berada di di situ, berkata, ‘Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?’

Rasulullah saw.menjawab, ‘Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’.

Allah swt. berkata, ‘Bagaimana mungkin saudaramu ini bisa melakukan itu, karena tidak ada kebaikan sedikitpun yang tersisa dalam dirinya?’

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya’.

Sampai di sini, mata Rasulullah saw. berkaca-kaca. Beliau saw. tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis. Lalu, beliau saw. berkata, ‘Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya’.

Rasulullah saw. melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi, ‘Angkat kepalamu’. Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata, ‘Ya Rabb, aku melihat di depanku ada tempat yang terbuat dari emas dan istana-istana yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan intan permata. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Untuk syahid yang mana, ya Rabb?’

Allah berkata, ‘Istana-istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya’.

Orang itu berkata, ‘Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?’

Allah berkata, ‘Engkau mampu membayar harganya’

Orang itu terheran-heran, sambil berkata, ‘Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?’

Allah berkata, ‘Caranya engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kini aku memaafkannya’

Allah berkata, ‘Kalau begitu, ambil tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu’.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin’.

Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.

Rasulullah juga pernah bersabda, ‘Barangsiapa yang di dalam dirinya ada 3 hal, maka pada hari kiamat nanti Allah akan mudahkan proses hisab terhadap dirinya dan Allah akan memasukkannya ke dalam surga’. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang 3 hal itu, wahai Rasulullah?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Yaitu engkau tetap memberi pemberian kepada orang yang menolak pemberianmu, engkau menyambung silaturrahim kepada orang yang memutuskannya, dan engkau memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu. Jika engkau lakukan yang demikian, maka engkau akan masuk surga’. (Hadits, riwayat Imam al-Hakim)

Ya Allah, selamatkan kami dari dendam yang mengotori hati kami dan membuat tidur kami tidak nyenyak. Hapuskanlah dendam yang selama ini tertanam di hati kami. Jangan biarkan rasa dendam itu membuat kami terhalang masuk surga-Mu.

Amin…

Cara Melakukan Maksiat yang Benar

28 Mar

Seseorang mengunjungi Ibrahim bin Adham rahimahullah. Ia berkata, ‘Wahai Imam, saya ingin bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosa. Jika sekiranya aku kambuh lagi, tolong tunjukkan padaku sesuatu yang dapat mencegahku berbuat dosa, sehingga aku tidak menentang Allah lagi’.

Ibrahim bin Adham berpesan kepadanya, ‘Jika engkau ingin berbuat maksiat kepada Allah, maka jangan lakukan maksiat di bumi-Nya’. Orang itu berkata, ‘Kalau begitu, dimana aku bisa berbuat maksiat?’. Ibrahim bin Adham berkata, ‘Pokoknya, keluarlah engkau dari bumi-Nya’. Orang itu berkata, ‘Wahai Imam, bagaimana mungkin, padahal semua bumi adalah milik-Nya?’. Ibrahim berkata, ‘Jika semua bumi adalah milik Allah, lalu mengapa engkau masih ingin berbuat maksiat di bumi-Nya?’

Ibrahim berkata lagi, ‘Jika engkau ingin berbuat maksiat, maka engkau jangan menikmati rizki-Nya’. Orang itu berkata, ‘Lalu bagaimana aku bisa hidup?’. Ibrahim berkata, ‘Tahu begitu, mengapa engkau masih bermaksiat pada-Nya?’

Ibrahim berkata lagi, ‘Jika engkau masih keukeh ingin bermaksiat, maka lakukanlah maksiat itu di tempat yang tidak dilihat-Nya’. Orang itu berkata, ‘Bagaimana mungkin aku melakukan maksiat, padahal Dia selalu bersama kita di manapun kita berada?’. Ibrahim berkata, ‘Kalau begitu, mengapa engkau masih bermaksiat pada-Nya padahal Dia dekat dengan dirimu?’

Ibrahim bin Adham berkata, ‘Jika engkau masih ngotot juga ingin melakukan maksiat, maka ketika malaikat pencabut nyawa mendatangimu untuk mencabut nyawamu, maka katakanlah kepadanya, ‘Eittsss.. jangan cabut nyawaku, biarlah saya taubat dulu’. Orang itu berkata, ‘Siapa yang berani berkata begitu?’. Ibrahim berkata, ‘Jika engkau tidak berani berkata seperti itu, mengapa engkau masih ingin melakukan maksiat?’

Ibrahim bin Adham berkata lagi, ‘Jika engkau masih bersikeras juga ingin melakukan maksiat, maka ketika malaikat Zabaniyah (penjaga neraka) menggiringmu ke neraka, maka katakan kepada malaikat itu, ‘Aku tidak mau ikut bersamamu’. Orang itu berkata, ‘Siapa yang mampu melakukan yang demikian?’

Terakhir, Ibrahim bin Adham berkata, ‘Setelah aku katakan semua ini, apakah engkau masih tidak malu untuk melakukan maksiat?’

Hmm… Jika Anda masih keukeuh bin ngotot ingin melakukan maksiat juga, maka ulangi lagi membaca pesan Ibrahim bin Adham di atas. Mudah-mudahan maksiat Anda menjadi ‘benar’.

Dahsyatnya Doa Nabi Yunus

25 Mar

Nabi Yunus alayhissalam diutus oleh Allah swt. kepada masyarakat Naynawa, yang terkenal dengan kekafirannya. Nampaknya, Nabi Yunus kurang sabar dengan perlakuan kaumnya. Dalam keadaan kesal, ia pergi meninggalkan kaumnya menuju tepi laut. Kemudian ia menumpang kapal yang akan berlayar. Di tengah lautan, kapal diterpa badai dan angin kencang. Untuk menghindari kapal karam, muatan kapal harus dikurangi. Semua penumpang kapal sepakat untuk melakukan undian. Siapa yang namanya keluar, maka dialah yang harus dilemparkan ke lautan. Ternyata, yang keluar adalah nama Nabi Yunus. Akhirnya, Nabi Yunus menceburkan dirinya ke lautan, dan ia ditelan ikan besar. Al-Quran menyebut ikan itu dengan Hut atau Nun. Namun, Allah swt. mewahyukan ikan itu untuk tidak memakan tubuh Nabi Yunus.

Ada yang mengatakan Yunus a.s. tinggal di dalam perut ikan selama 3 hari, 7 hari, bahkan 40 hari. Selama itu ia berdoa kepada Allah swt., ‘Allahumma, la ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin – ya Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini termasuk orang-orang yang zalim’.

Doa Yunus menembus Arsy, sampai-sampai para malaikat berkata, ‘Ya Rabb, sepertinya ini adalah suara orang lemah yang sudah dikenali, yang datang dari negeri yang jauh dan asing’. Allah bertanya, ‘Tahukan kalian, suara siapakah itu?’ Malaikat menjawab, ‘Suara siapakah itu?’ Allah berkata, ‘Itu adalah suara Yunus, hamba-Ku’. Malaikat berkata, ‘Yunus yang amalnya senantiasa naik ke langit dan doanya dikabulkan? Ya Rabb, tidakkah Engkau menaruh belas-kasih padanya lantaran dia senantiasa memuji-Mu di saat senang, dengan begitu Engkau selamatkan ia di saat terjepit seperti ini?’ Allah menjawab, ‘Ya, tentu saja’. Maka, Allah memerintahkan kepada ikan hut untuk melemparkan Yunus ke daerah tandus.

Yunus terdampar di sebuah pulau yang tandus, dalam keadaan lemah. Lalu, Allah mengembalikan kekuatannya dengan menumbuhkan pohon labu di dekatnya. Bukan hanya itu, Allah mengembalikan seribu umatnya dalam keadaan beriman, dan Allah berikan kemakmuran hidup kepada mereka. (Q.s. as-Shaffat/37: 145-148)

Doa Nabi Yunus adalah salah satu doa mustajab. Kita dianjurkan untuk sering membacanya, lebih-lebih di saat kita mengalami kesulitan. Saya punya cerita menarik tentang hal ini.

Siang itu, 8 Dzulhijjah, para jamaah haji yang berada di Mekkah mulai bergerak menuju Arafah. Meskipun wuquf baru dilaksanakan keesokan harinya, namun jamaah haji sudah diberangkatkan satu hari sebelumnya. Jarak antara Mekkah dan Arafah tidaklah jauh. Paling-paling 7 km, yang dapat ditempuh dalam waktu tidak berapa lama. Namun, kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan dapat menyebabkan perjalanan menuju Arafah tidak secepat yang kita duga. Ditambah lagi, dengan kemampuan sopir yang tidak menguasai medan. Bahkan, ada kejadian bus baru tiba keesokan harinya. Pemerintah Arab Saudi tidak ingin mengambil risiko besar, karena wuquf adalah rukun haji yang paling penting. Jamaah haji yang tidak wuquf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka hajinya tidak sah. Oleh karena itu, jamaah haji diberangkatkan satu hari sebelum prosesi wuquf, agar pada saat wuquf, mereka benar-benar sudah berada di bumi Arafah.

Saat itu, saya dan 80 orang jamaah haji berada di dalam bus yang diberangkatkan menuju Arafah. Saya duduk di bangku paling depan, sambil memandu para jamaah haji. Suara talbiyah bergema sepanjang jalan menuju Arafah. Berulang kali, bus yang kami tumpangi berputar-putar di jalan yang sama. Saya ikut memberi panduan kepada sopir untuk mengambil rute yang seharusnya. Buat saya, sopir tidak kenal rute-jalan itu masalah biasa. Saya sering mengalaminya di kala musim haji. Maklum, mereka bukan penduduk asli Saudi Arabia. Mereka biasanya datang dari Mesir, Palestina, Syiria, dan Turki. Bahkan, dari identitas mereka yang saya baca, mereka baru menginjakkan kakinya di Mekkah beberapa hari yang lalu. Jadi, wajar saja kalau mereka sering kesasar. Untuk itu, biasanya sopir ditemani oleh satu orang dari maktab, yang ikut memandu perjalanan.

Bus yang kami tumpangi makin jauh dari arah Arafah. Jamaah mulai tahu bahwa sopir sudah salah jalan. Mereka mulai gelisah. Saya berusaha menenangkan mereka. Saya sadarkan mereka bahwa mereka sedang berihram. Saya ingatkan mereka jangan sampai keluar dari mulut mereka kalimat-kalimat yang tidak sepantasnya, karena itu akan merusak ihram mereka. Saya katakan bahwa ini adalah ujian untuk menguji kesabaran kita dalam menjalankan perintah Allah swt. Saya mengajak semua jamaah untuk membaca istighfar. Sepanjang jalan, saya selingi ucapan talbiyah dengan istighfar. Saya pun teringat dengan doa Nabi Yunus ketika berada di perut ikan Nun, ‘La ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazzhalimin’. Saya juga meminta jamaah untuk membaca doa itu. Doa itu pun kami baca berulang-ulang. Suasana di dalam bus menjadi syahdu. Suara talbiyah, istighfar, dan doa Nabi Yunus terdengar tulus keluar dari mulut-muluh jamaah. Mereka begitu khusyu’. Sepertinya semua jamaah tidak mampu menahan tetesan air mata. Terdengar suara isak-tangis kecil.

Alhamdulillah, doa kami menembus Arsy! Allah swt. menghilangkan kegelisahan kami. Bus kami mulai berada di jalur yang benar menuju Arafah.

Kami pun menjadi lega, manakala bus kami sudah memasuki kawasan Arafah yang dipenuhi dengan kemah-kemah.

La ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin… Tidak ada tuhan selain-Mu. Maha Suci Engkau. Sungguh, aku ini sudah berlaku zalim…

10 Hal yang Sia-sia

23 Mar

Kata Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H), ‘Ada 10 hal yang tidak mendatangkan manfaat’.

Pertama, ilmu yang tidak diamalkan. Kedua, amal yang tidak ikhlas dan tidak sesuai tuntunan. Ketiga, harta yang tidak di-infak-kan untuk akhirat. Keempat, hati yang hampa dari cinta, rindu, dan kedekatan dengan Allah. Kelima, badan yang tidak mau diajak untuk ketaatan. Keenam, cinta yang tidak diikat dengan ridha Allah dan taat kepada-Nya. Ketujuh, waktu yang terbuang sia-sia dari melakukan kebaikan. Kedelapan, pemikiran yang tidak mendatangkan manfaat. Kesembilan, aktivitas yang tidak mendekatkan dirimu kepada Allah dan tidak mengajakmu untuk memperbaiki agamamu. Kesepuluh, takut dan harapmu kau sandarkan kepada orang lain, padahal mereka juga berada di genggaman Allah dan tidak dapat memberi manfaat, mudharat, hidup, mati, dan kebangkitan.

Pangkal dari itu semua adalah dua hal: menyia-nyiakan hati dan menyia-nyiakan waktu.

Menyia-nyiakan hati adalah dengan terlalu terpikat dengan dunia. Menyia-nyiakan waktu adalah dengan panjang angan-angan (baca: mau ini mau itu).

Semua kerusakan adalah karena terlalu mengikuti keinginan dan panjang angan-angan. Obatnya adalah dengan mengikuti petunjuk dan melakukan persiapan untuk berjumpa dengan Allah swt.

Haramkah Mendengarkan Nyanyian dan Musik?

22 Mar

Syaikh al-Albani pernah mengkritik salah satu tulisan Syaikh Yusuf Qardhawi yang terdapat dalam buku al-Halal wa al-Haram fi al-Islam yang membolehkan mendengarkan nyanyian dan musik.

Syaikh al-Albani memang dikenal sebagai kritikus. Hampir semua karya-karya ulama dikritisinya. Biasanya, beliau memulai kritiknya dari sudut pandang ilmu hadits. Al-Albani memang dikenal sebagai kritikus hadits (muhaqqiq al-hadits). Ada beda antara kritikus hadits (muhaqqiq al-hadits) dengan muhaddits. Seorang muhaddits adalah al-hafizh, yaitu menghapal ribuan hadits lengkap dengan sanad (matarantai)-nya. Seorang kritikus hadits belum tentu muhaddits. Yang namanya kritikus hadits banyak sekali. Jadi, kritikus hadits bukan hanya al-Albani, yang selama ini dikira sebagian orang.

Dalam buku Ghayah al-Maram, yang mengkritik pandangan al-Qardhawi, Syaikh al-Albani berkata,

‘Penulis kitab itu (maksudnya: al-Qardhawi) hanyalah mengulang-ulang pendapat dengan mengutip pandangan Ibn Hazm dan Ibn al-Arabi… padahal empat imam mazhab sepakat akan keharaman nyanyian dan musik. Sunnah yang shahih juga menguatkan akan keharamannya. Oleh karena itu, tidak pantas seorang alim yang mulia (maksudnya: al-Qardhawi) melakukan yang sebaliknya’.

Begitu kritik al-Albani. Anehnya, al-Albani mengutip pandangan imam mazhab, padahal ia adalah orang yang mempropagandakan anti-mazhab. Lebih aneh lagi ketika ia mengatakan bahwa imam mazhab sepakat akan keharaman nyanyian dan musik, padahal tidaklah demikian. Dan yang paling aneh lagi adalah, beliau melarang orang bertaklid kepada imam mazhab, namun ia membiarkan orang lain bertaklid kepadanya.

Syaikh Yusuf Qardhawi menanggapi kritik al-Albani dengan kepala dingin dan kesantunan. Kedalaman ilmunya dan kerendahhatiannya mengharuskan ia bersikap seperti itu. Beliau tidak menanggapinya dengan hanya sekedar membuat pernyataan singkat, namun ia membuat tanggapan secara ilmiah, yaitu dengan menulis buku Fiqh al-Ghina’ wa al-Musiqi ala Dhaw‘ al-Quran wa al-Sunnah (Hukum Nyanyian dan Musik menurut Persfektif al-Quran dan as-Sunnah). Buku setebal 255 halaman itu dilengkapi dengan pandangan para sahabat, tabi’in, tabi’ at-tabi’in, dan imam mazhab terhadap nyanyian dan musik. Pada bagian penutup buku, al-Qardhawi menuliskan daftar karya-karya ulama tentang nyanyian dan musik, mulai dari ulama terdahulu sampai ulama masa kini. Karya al-Qardhawi itu diterbitkan oleh penerbit Maktabah Wahbah di Kairo, Mesir.

Dalam buku itu, terlihat sekali kedalaman ilmu Syaikh Qardhawi dan kedangkalan kritik al-Albani. Syaikh Qardhawi berhasil memetakan bagaimana kedudukan nyanyian dan musik. Begitulah sikap orang-orang yang berilmu.

Buku al-Qardhawi terlalu tebal untuk dituliskan di sini. Saya akan tuliskan pandangan ulama lain yang sejalan dengan pandangan al-Qardhawi.

Syaikh Ali Jum’ah, mufti negara Mesir, pernah ditanya tentang hukum mendengarkan musik.

Beliau menjawab,

Musik adalah suara yang menghasilkan keindahan sekaligus keburukan. Nabi pernah bersabda, ‘Bacalah al-Quran dengan logat orang Arab, jangan baca al-Quran dengan logat orang yang bergelimang dosa (Hadits, riwayat at-Thabrani, al-Bayhaqi, dan al-Haytsami)

Sungguh, ada perbedaan yang besar antara musik yang menuntun kepada iman kepada Allah dan musik yang mengajak kepada kekejian. Bagaimanapun juga, yang namanya suara ya suara, jika baik ia menjadi baik, jika buruk ia menjadi buruk. Ini adalah pendapatnya Ibn Hazm dan Syaikh Abdul Ghani an-Nabilisi.

Ibnu Sam’ani menulis kitab yang bernama as-Sima’ yang diterbitkan oleh Majlis Luhur Urusan Keislaman, yang merupakan buku yang bermanfaat yang sepatutnya dibaca. Di dalamnya ada banyak pandangan yang menyatakan tentang masalah ini. Namun, pandangan yang terbaik dan yang lebih sesuai adalah pandangan yang mengatakan bahwa: musik adalah suara yang jika ia baik maka menjadi baik, jika ia buruk maka menjadi buruk.

Jika nyanyian itu mengajak kepada kecintaan kepada Allah dan berisi pujian terhadap Rasulullah saw. dan dapat menambah keimananan, mengajak kepada cinta negara, mengajak kepada kemulian hidup, maka nyanyian hukumnya menjadi  HALAL. Jika sebaliknya, maka menjadi HARAM dan MAKRUH, bergantung pada kadar kerusakan yang ditimbulkannya.

Pandangan Syaikh Ali Jum’ah ini dapat dibaca dalam bukunya, al-Kalim at-Thayyib: Fatawa Ashriyyah (Ucapan yang Sejuk: Fatwa-fatwa Kontemporer), yang diterbitkan oleh penerbit Dar el-Salam, Kairo, Mesir.


Pesan Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

18 Mar

Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad (wafat 1132 H) adalah seorang alim besar. Beliau gigih berdakwah ke segala lapisan masyarakat, sehingga digelari Quthb al-Dakwah wa al-Irsyad (Poros Dakwah dan Petunjuk). Beliau juga dianggap sebagai mujaddid (pembaharu). Biasanya orang mengenal Habib Abdullah melalui kumpulan doa-doanya, yang biasa disebut Ratib al-Haddad dan Wird al-Lathif. Paling tidak, ada 10 karya Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad yang sudah dicetak.

Kali ini, saya ingin menuliskan (tepatnya: menerjemahkan) sebagian pesan beliau yang ada dalam kitab Risalah al-Mu’awanah, tentang bagaimana akhlak kita sesama Muslim.

Beliau berpesan,

Hendaknya Anda banyak-banyak berdoa dan istighfar (memohon ampun) secara khusus untuk diri sendiri, kedua orangtua, kerabat, dan teman-teman Anda, dan kepada seluruh kaum Muslim pada umumnya. Sesungguhnya doa seorang Muslim kepada saudaranya yang jauh adalah mustajab, sebagaimana sabda Rasulullah saw., ‘Ada dua doa yang tidak ada hijab (penghalang) dengan Allah, yaitu doa orang yang tertindas dan doa orang muslim kepada saudaranya yang jauh’.

Rasulullah saw. juga bersabda, ‘Jika seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang jauh, maka malaikat berkata, ‘Amin, dan engkau juga mendapatkan seperti itu’.

Maymun bin Mahran rahimahullah berkata, ‘Barangsiapa yang memohonkan ampun kepada kedua orangtuanya sehabis shalat lima waktu, maka dia sudah dianggap orang yang bersyukur kepada kedua orangtuanya, sebagaimana yang Allah perintahkan dalam firman-Nya, ‘Hendaknya engkau bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu’.

Ada juga keterangan yang mengatakan bahwa, ‘Barangsiapa yang memohonkan ampun kepada orang beriman laki-laki dan perempuan setiap hari sebanyak 27 kali, maka ia menjadi orang yang doanya dikabulkan dan dengan doanya itu manusia mendapatkan rizki dan menurunkan hujan’. Kalau sudah seperti ini, maka ia sudah menyandang sifat wali Allah.