Tag Archives: ridha

Menemukan Keridhaan Allah

15 Mei

Kitab Risalah al-Qusyayriyyah boleh dibilang sebagai buku-panduan standar buat orang-orang yang ingin memperbaiki akhlak dan menajamkan ruhaninya. Inilah buku tasawwuf, yang usianya hampir 1000 tahun sejak ditulis, yang banyak dibaca di dunia Islam. Imam al-Qusyayri, sang penulis, menulisnya melalui pendekatan al-Quran, as-Sunnah, dan atsar. Didalamnya, ditambahkan pula kehidupan orang-orang shalih dan pengalaman-pengalaman ruhani mereka, sehingga buku ini bukan bualan semata. Bahkan, seorang Syaikhul Islam sekelas Zakariya al-Anshari berkenan memberikan syarh dan tahqiq terhadap kitab ini, sehingga kita lebih mudah memahaminya.

Ketika membahas tentang maqam ridha, Syaikh al-Qusyayri menuliskan sebuah diskusi menarik antara seorang murid dengan gurunya. 

Seorang murid bertanya kepada gurunya, ‘Apakah seorang hamba dapat mengetahui bahwa Allah swt ridha padanya?’ 

Sang Guru menjawab, ‘Tidak bisa. Bagaimana ia bisa tahu yang demikian, sedangkan ridha-Nya adalah perkara ghaib?’ 

Sang murid berkata, ‘Aku kira dia bisa tahu’ 

Sang Guru bertanya, ‘Bagaimana caranya?’ 

Sang murid menjawab, ‘Jika aku rasakan hatiku ridha kepada Allah swt, maka tahulah aku bahwa Dia juga ridha kepadaku’ 

Sang Guru berkata, ‘Hebat! Bagus sekali jawabanmu, nak!’

Iklan

Kualitas Hidup Kita Ikut Dibentuk oleh Pikiran Kita Sendiri

15 Jan

Suatu hari, Rasulullah menjenguk seseorang yang sedang sakit demam. Beliau menghibur dan membesarkan hati orang tersebut. Beliau berkata, ‘Semoga penyakitmu ini menjadi penawar dosamu’.

Orang itu menjawab, ‘Tapi ini adalah demam yang mendidih, yang menimpa orangtua yang sudah peot, yang bisa menyeretnya ke lubang kubur’.

Mendengar keluhan orang itu, Rasulullah berkata, ‘Kalau demikian anggapanmu, maka akan begitulah jadinya’.

Saya minta Anda membaca lagi dialog Rasulullah di atas.

Well, sungguh indah apa yang dikatakan Rasulullah itu. Itulah chicken soup ala Rasulullah. Singkat, padat, dan lezat. Nah, Rasulullah seakan-akan mengatakan kepada kita bahwa hidup kita dibentuk oleh pikiran kita sendiri. Jika kita mau menerima (ridha) dengan kesusahan yang kita derita, maka kita bisa menjadikan penderitaan itu sebagai pelebur sebagian dosa kita. Atau sebaliknya, jika kita tidak ridha, maka kita sendiri yang memilih penderitaan itu menjadi kebinasaan, dan akhirnya kita ngedumel, nyerocos, dan marah-marah sendiri.

Sungguh merdu apa yang dikatakan Rasulullah. Perhatikan pesan-pesan Rasulullah berikut ini.

‘Barangsiapa yang ridha, maka ke-ridha-an itu untuknya. Barangsiapa yang benci, maka kebencian itu akan menjadi miliknya’ (Hadits, riwayat at-Tirmidzi)

‘Salah satu kebahagiaan seseorang adalah ke-ridha-annya menerima keputusan Allah’ (Hadits, riwayat Ahmad)

Jika kita memikirkan kebahagiaan, maka kita akan bahagia.

Jika kita berpikiran sedih, maka kita menjadi sedih.

Jika kita berpikiran takut, kita menjadi takut.

Jika kita berpikiran sakit, kita pun menjadi sakit.

You are what you think… Anda adalah apa yang Anda pikirkan…

 

Karakter Orang yang Percaya dengan Qadha Allah swt.

14 Mar

Percaya kepada qadha (ketentuan) Allah swt. adalah salah satu rukun iman. Dengan beriman kepada qadha Allah maka kita akan memiliki karakter sebagai berikut.

Pertama, merasa ridha dengan apa yang terjadi terhadap diri kita, karena semuanya itu adalah kehendak Allah. Bisa jadi, apa yang tidak baik menurut pandangan kita, justru membawa kebaikan untuk kita. Begitu pula sebaliknya. Allah lebih tahu apa yang baik dan buruk untuk diri kita.

Allah berfirman, ‘… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia membawa kebaikan untukmu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia membawa keburukan untukmu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui’. (Q.s. al-Baqarah/2: 216)

Oleh karena itu, orang yang beriman kepada qadha Allah, maka ia akan bersabar ketika ditimpa musibah, dan bersyukur ketika diberi nikmat. Begitulah karakter orang beriman.

Menurut pengakuan Shuhaib radhiyallahu anhu Rasulullah saw. pernah bersabda, ‘Sungguh fantastis kehidupan orang beriman, karena seluruh urusannya membawa kebaikan. Tidak ada orang yang seperti itu kecuali orang beriman. Jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar, maka yang demikian itu membawa kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan nikmat, ia bersyukur, maka yang demikian itu membawa kebaikan baginya’. (Hadits, riwayat Muslim)

Kedua, tidak merasa dengki dengan orang yang diberi nikmat. Orang yang beriman kepada qadha Allah percaya bahwa rizki datang dari-Nya dan Ia memberi kadar rizki yang berbeda untuk setiap makhluknya.

Ketiga, memiliki jiwa yang mulia dan hati yang qana‘ah (merasa-cukup)

Keempat, menyerahkan segala urusan-hidup kepada Allah dengan lapang dada dan hati yang senang

Kelima, bersungguh-sungguh dalam berusaha tanpa dihinggapi rasa lemah dan malas. Semua ini dilakukan untuk mengikuti tuntunan Rasulullah, di mana beliau bersabda, ‘Bersungguh-sungguhlah melakukan sesuatu yang mendatangkan manfaat untuk diri kalian, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kalian lemah. Jika kalian ditimpa sesuatu yang kurang menggembirakan, janganlah kalian berkata, ‘Kalau saja aku melakukan begini, pasti hasilnya juga begini’. Namun, katakanlah, ‘Allah sudah menakdirkannya dan menghendakinya’. (Hadits, riwayat Muslim)

Keenam, memiliki cita-cita yang kuat dan pantang menyerah. Muslim adalah orang yang tahan banting. Baginya, hidup adalah perjuangan.