Tag Archives: kalbu

Keajaiban Hati

6 Mei

‘Sesungguhnya kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan sesuatu bergantung pada kondisi dasarnya. Kondisi dasar sesuatu adalah menyangkut untuk apa ia diciptakan. Oleh karena itu, kenikmatan mata adalah dengan melihat yang indah-indah. Kenikmatan telinga adalah dengan mendengar suara-suara merdu. Begitulah seterusnya untuk anggota badan lainnya. Namun, khusus berkaitan dengan hati, kenikmatannya hanyalah manakala ia dapat mengenal Allah swt., karena hati diciptakan untuk itu. Jika manusia mengetahui apa yang tidak diketahuinya, maka senanglah ia. Begitu juga dengan hati. Manakala hati mengenal Allah swt., maka senanglah ia, dan ia tidak sabar untuk ‘menyaksikan-Nya’. Tidak ada yang maujud yang lebih mulia dibanding Allah, karena setiap kemuliaan adalah dengan-Nya dan berasal dari-Nya. Setiap ketinggian ilmu adalah jejak yang dibuat-Nya, dan tidak ada pengetahuan yang lebih digdaya dibanding pengetahuan tentang diri-Nya.’

Untaian kata-kata itu keluar dari goresan pena Hujjatul Islam, al-Imam al-Ghazali rahimahullah.

Hati memang ajaib!

 

Qolbun Salim (Hati yang Selamat)

13 Mar

Hati adalah wadah iman dan tempat tumbuhnya akhlak terpuji. Orang yang hatinya baik, maka fisiknya juga baik. Begitu juga sebaliknya. Rasul sudah mengatakannya itu kepada kita. Jadi, ada kaitan antara hati yang baik dengan fisik yang baik. Hati yang baik itulah yang disebut Qolbun Salim.

Hati yang selamat (qolbun salim) adalah akhlaknya para Nabi. Allah swt. menyebut Nabi Ibrahim sebagai orang yang memiliki qolbun salim.

Kata Allah swt., ‘Dan sesungguhnya Ibrahim termasuk golongan (Nabi Nuh), dan (ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang selamat’ (Q.s. as-Shaffat/37: 83-84).

Allah swt. memerintahkan kita untuk menunjukkan hati kita yang bersih kepada sesama saudara kita. Bahkan, terhadap orang yang memusuhi kita sekalipun.

Hanya qolbun salim yang dilihat oleh Allah swt. Kata Rasul, ‘Sesungguhnya Allah swt. tidak melihat rupa fisik kalian dan jumlah harta kalian. Namun, Allah hanya melihat kepada hati dan amal kalian’. Ini adalah hadits qudsi yang sering kita dengar, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dengan indah menggambarkan karakter orang yang memiliki qolbun salim. Ia berkata,

‘Tidaklah hujan turun di suatu tempat, melainkan aku memuji Allah swt. dan bergembira dengan turunnya hujan itu, meskipun aku tidak memiliki kambing atau unta barang seekor pun. Tidaklah aku mendengar tentang seorang hakim yang adil, melainkan aku mendoakan kebaikan untuknya, meskipun aku tidak punya perkara peradilan yang dipimpinnya. Tidaklah aku mengerti suatu ayat dari Kitabullah, melainkan aku ingin agar orang lain mengetahui apa yang aku ketahui’.

Subhanallah…

Pantaslah, Rasulullah saw. mendoakan Ibnu Abbas dengan doa, ‘Ya Allah, berikan ia pemahaman yang baik terhadap persoalan-persoalan agama dan ajari ia takwil (penafsiran al-Quran)’.

Kita perlu meneladani Ibnu Abbas. Pemahaman-agama yang baik memang salah satu kunci memiliki qolbun salim.