Arsip | Renungan RSS feed for this section

Amalan-amalan Bulan Dzulhijjah

12 Okt

Umur umat Nabi Muhammad saw berkisar 60-70 tahun. Namun berkat rahmat Allah swt, umur yang singkat tersebut bisa mendatangkan keberkahan dengan cara melakukan amal-amal shalih pada waktu-waktu yang diberkahi (al-awqot al-mubarokah). Di antara waktu-waktu yang diberkahi tersebut adalah Malam Qadr (Laylatul Qadr) pada malam-malam 10 terakhir di bulan Ramadhan. Amal shalih yang dilakukan pada Malam Qadr lebih baik dari amal seribu bulan (80 tahun) sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qadr ayat 3, ‘Malam Qadr itu lebih baik dari seribu bulan’.

Selain Malam Qadr, Allah swt juga memberikan kita waktu istimewa lainnya, yaitu sepuluh hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah (Ayyam al-Asyri min Dzilhijjah), baik siang atau malamnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ – يَعْنِى أَيَّامُ الْعَشْرِ – قِيْلَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلاً خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ شَيْئٌ

‘Tidaklah ada hari-hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah dibanding hari-hari ini (yakni 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah)’. Lalu para sahabat berkata, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar untuk berjihad dengan diri dan hartanya kemudian semuanya itu tidak kembali lagi (yakni mati syahid)’. (Riwayat Bukhari).

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, ‘Yang jelas, sebab yang membuat istimewa Ayyam al-Asyri min Dzilhijjah adalah karena bersatunya induk ibadah (ummahat al-ibadah) di dalamnya, yaitu shalat, puasa, sedekah, dan haji. Sedangkan pada hari-hari yang lain, tidak ditemukan yang demikian’.

Amalan Umum Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat Bulan Suci (Syahr al-Haram). Tiga bulan lainnya adalah Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Secara umum, dianjurkan untuk meningkatan amal shalih di empat bulan suci tersebut, misalnya membaca al-Quran,  memperbanyak zikir dan doa, memperbanyak sedekah (untuk kerabat dan orang lain), infak, amar ma’ruf nahyu munkar, menunjukkan bakti kepada orangtua (birrul walidayn) baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, memperbanyak sujud melalui shalat-shalat sunat, shalat berjamaah pada shaf terdepan, meninggalkan perbuatan dosa, dan sebagainya. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah swt dalam surat at-Taubah/9: 36, ‘Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu berbuat zalim terhadap dirimu dalam bulan yang empat itu…’

Yang dimaksud  ayat ‘janganlah kamu berbuat zalim terhadap dirimu’ adalah jangan sampai terjerumus dalam perbuatan-perbuatan dosa. Agar diri kita tidak terjerumus perbuatan dosa, maka kita melakukan amal-amal shalih.

Amalan Khusus Bulan Dzulhijjah

Secara khusus, amalan-amalan di bulan Dzulhijjah ditekankan pada 10 hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah (Ayyam al-Asyri min Dzilhijjah) sebagaimana pada hadits di atas. Hadits di atas tidak menyebut jenis amalnya, namun amal shalih apa saja yang dilakukan pada waktu tersebut memiliki nilai istimewa di mata Allah swt.

Amalan-amalan tersebut sebagai berikut.

Pertama, amal-amal shalih apa saja yang dilakukan pada 10 hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Kedua, melakukan haji dan umrah.

Ketiga, memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ، فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ – رواه الطبراني فى المعجم الكبير

Tidaklah ada hari-hari yang lebih mulia di sisi Allah dan amal-amal shalih di dalamnya lebih dicintai-Nya dibanding amal-amal shalih pada 10 hari-hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu perbanyaklah mengucap tahlil, takbir, dan tahmid’ (Riwayat at-Thabrani).

Takbir ada dua: muthlaq (tidak terikat) dan muqoyyad (terikat). Takbir muthlaq dilakukan ketika masuk awal Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah (akhir hari Tasyriq). Adapun takbir muqoyyad dilakukan sehabis shalat fardhu, yaitu mulai dari selesai shalat Subuh 9 Dzulhijjah sampai sehabis shalat Ashar 13 Dzulhijjah (akhir hari Tasyriq). Pada hari Idul Adha dianjurkan untuk melakukan takbir muthlaq dan muqoyyad.

Allah swt berfirman dalam surat al-Baqarah/2: 203, ‘Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang (yakni hari-hari Tasyriq tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah)…

Redaksi takbir (yang di dalamnya juga memuat tahlil dan tahmid):

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Boleh juga ditambah dengan:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Bagi laki-laki sunnah mengeraskan takbir, dan bagi wanita sunnah sebaliknya.

Keempat, Puasa pada hari 9 Dzulhijjah bagi yang tidak melakukan ibadah haji. Diriwayatkan seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang puasa Arafah?’ Rasulullah menjawab,

إِنِّى أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ – رواه مسلم والترمذي، واللفظ للترمذي

Aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa pada tahun yang lalu dan dosa tahun yang akan datang’ (Riwayat Muslim dan at-Tirmidzi)

Kelima, melakukan shalat Idul Adha dan mendengarkan khutbah Idul Adha.

Shalat Idul Adha dilakukan di masjid jika luas, jika tidak maka di tempat yang lebih luas, semisal lapangan, alun-alun, tempat terbuka, dsb.

Keenam, melakukan qurban binatang ternak (kambing, kerbau, sapi, dan unta) setelah shalat Idul Adha tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Allah berfirman dalam surat al-Kautsar 1-3,Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus’.

Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 34 dan 36, ‘Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka…’

Dan telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, karena kamu mendapatkan kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

Rasulullah saw bersabda,

مَنْ وَجَدَ سَعَةً لِأَنْ يُضَحِّيَ فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَخْضُرَنَّ مُصَلاَّنَا – رواه الحاكم

‘Barangsiapa yang diberi keluasan rizki untuk berqurban namun ia tidak berqurban, maka janganlah ia masuk ke dalam tempat shalat kami’ (Riwayat al-Hakim)

Mayoritas ulama (Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad) menilai qurban hukumnya sunnat muakkad, tidak seperti Imam Abu Hanifah yang menilainya sebagai wajib.

 أَنَّ أًصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ قَالُوْا: مَا هَذِهِ اْلأَضَاحِى؟ فَقَالَ: سُنَّةُ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ، قَالُوْا: فَمَا لَنَا فِيْهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ، قَالُوْا: فَالصُّوْفُ؟ قَالَ: بِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنَ الصُّوْفِ حَسَنَةٌ – رواه الترمذي وأبن ماجة والحاكم وغيرهم

Suatu kali, Rasulullah ditanya para sahabatnya, ‘Wahai Rasulullah, apakah qurban itu?’. Rasulullah menjawab, ‘Qurban adalah sunnah ayah kalian, yaitu Ibrahim’. Para sahabat kembali bertanya, ‘Jika kami ber-qurban, apa yang kami dapatkan dari qurban itu?’. Rasulullah menjawab, ‘Pada setiap helai rambutnya, terdapat kebaikan’. Para sahabat kembali bertanya, ‘Bagaimana dengan bulu-bulunya?’. Rasulullah menjawab, ‘Pada setiap helai bulunya juga terdapat kebaikan’. (Hadits hasan, riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, dll).

 

Iklan

Bencilah dengan Perbuatannya, Bukan dengan Orangnya

14 Mei

Mari kita belajar dari 3 orang sahabat Rasulullah: Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah al-Anshari radhiyallahu anhum. Mereka termasuk sahabat-sahabat Rasulullah yang senior.

Suatu hari, Abu Darda berjalan bersama para sahabatnya. Di tengah jalan, ia melihat seorang pendosa. Para sahabatnya yang lain mencaci orang itu.

Lalu Abu Darda berkata, ‘Bagaimana menurut kalian jika kalian menemukan dosa itu pada hati kalian, apakah kalian akan mengeluarkannya?’

Mereka menjawab, ‘Tentu saja’

Abu Darda berkata, ‘Makanya, janganlah kalian mencaci saudara kalian. Sebaiknya pujilah Allah karena Dia-lah yang telah menyelamatkan kalian dari dosa’.

Mereka bertanya, ‘Apakah engkau tidak membenci orang itu?’

Abu Darda menjawab, ‘Innama ubghidhu amalahu, fa idza tarokahu fa huwa akhi -sesungguhnya yang aku benci adalah perbuatannya. Jika ia sudah meninggalkan perbuatannya, maka ia tetap saudaraku’.

Lain lagi dengan Ibnu Masud. Ia pernah berkata, ‘Jika kalian melihat seseorang melakukan perbuatan dosa, maka janganlah kalian ikut-ikutan menjadi backing syetan terhadap orang itu, dengan mengatakan, ‘Ya Allah, balaslah perbuatannya. Ya Allah, laknatlah ia. Namun, mohonlah kepada Allah agar kalian mendapatkan afiat (keselamatan dari dosa). Sesungguhnya kita ini, para sahabat Nabi, tidak akan mengatakan sesuatu terhadap seseorang sampai kita tahu tanda kematiannya. Jika akhir hidup orang itu ditutup dengan kebaikan, maka tahulah kita bahwa ia sudah mendapat kebaikan. Jika hidup orang itu berakhir dengan keburukan, maka kita menjadi takut mendapat yang seperti itu’.

Begitulah sikap mulia Abu Darda dan Ibnu Masud dalam menyikapi pelaku dosa. Padahal kalau dilihat dari persfektif kesucian pribadi mereka, tentu saja keduanya lebih pantas untuk mencaci para pelaku dosa. Sebagaimana kita ketahui, Abu Darda adalah sahabat Rasulullah yang terkenal dengan figur yang rajin ibadah. Begitu pula dengan Ibnu Masud, yang punya suara indah, yang membuat Rasulullah menangis ketika mendengar Ibnu Masud membaca al-Quran di hadapannya. Bukan hanya itu, meskipun Ibnu Masud punya betis yang kecil, namun jika nanti ditimbang pada hari Kiamat, maka berat betisnya yang kecil itu akan melebihi beratnya Bukit Uhud. Ini menjadi tanda bahwa pemilik betis itu adalah orang mulia.

Lain lagi dengan orang yang bernama Abu Dujanah. Suatu hari ia sakit. Para sahabat yang lain datang menjenguknya.

Yang mengherankan, meskipun wajahnya pucat akibat sakit yang dideritanya, wajah Abu Dujanah tetap memancarkan cahaya.

Para sahabat bertanya, ‘Ma li wajhika yatahallalu? – Apa yang membuat wajahmu senantiasa bercahaya?’

Abu Dujanah menjawab, ‘Ada dua amal yang selalu aku pegang teguh dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah berbicara dengan sesuatu yang kurang bermanfaat. Kedua, hatiku  selalu menilai sesama Muslim dengan hati yang tulus’.

Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah menjalani hidup sesuai hati mereka, bukan sesuka hati mereka. Tentu saja, ada beda antara hidup SESUAI hati dengan hidup SESUKA hati.

Setiap hati akan bercerai-berai, kecuali hati yang saling mencinta atas dasar kecintaan kepada Allah, dan surga adalah tempat yang paling pantas untuk bersatunya hati seperti ini…

Ingat-ingat Pesan Mama (Special for Women)

12 Mei

Inilah pesan paling indah sepanjang masa buat orang-orang yang menginginkan indahnya rumahtangga dan harmonisnya perkawinan. Pesan ini melintas batas waktu dan zaman.

Baiklah, saya kembali memulainya dengan sebuah kisah, sebagaimana Ibnul Jauzy menulisnya dalam kitab Ahkam an-Nisa’.

Dahulu kala, ada seorang raja di negeri Yaman yang bernama al-Harits bin Amru al-Kindi. Ia mendengar berita bahwa ada seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya. Wanita itu adalah putri Awf al-Kindi. Lalu sang raja mengutus seorang wanita yang bernama Asham, sebagai comblang, kepada keluarga Awf untuk membuktikan langsung kebenaran berita itu.

Maka berangkatlah Asham menuju rumah Awf. Sesampainya Asham di sana, ia diterima oleh istri Awf yang bernama Umamah binti al-Harits. Asham mengabarkan maksud kedatangannya. Lalu Umamah menemui salah satu putrinya, yang dimaksud oleh Asham. Dari dalam kamarnya, Umamah berkata kepada putrinya, ‘Wahai putriku, sesungguhnya di luar ada bibimu yang datang kepadamu untuk ‘memperhatikan’ sebagian urusanmu. Keluarlah engkau. Temui dia. Jangan kau sembunyikan apapun darinya. Berbicaralah kepadanya sesuai pembicaraan yang dimaksud olehnya’.

Singkat kisah, Asham kembali ke sang Raja, mengabarkan apa yang ia lihat. Ia kabarkan bahwa wanita yang ditemuinya adalah seorang wanita yang wajahnya putih bersih layaknya cermin dan untaian rambutnya tersusun indah.

Sang Raja bulat hati melamar putri Awf. Lamaran diterima, dan Awf, sang ayah, menikahkannya dengan putrinya.

Pada malam pertama, Umamah, sang ibu, mendatangi putrinya. Sang ibu memberinya nasihat berharga sebagai bekal perkawinannya. 

Sang ibu berkata, ‘Wahai putriku, engkau akan pergi dari rumah tempat engkau dibesarkan menuju seorang lelaki yang belum engkau kenal dan kepada seorang teman yang belum tentu dekat. Jadilah engkau seperti hamba-sahaya terhadapnya, niscaya ia akan menjadi hamba-sahaya bagimu juga. Jagalah baik-baik 10 perkara, maka engkau akan bahagia: 

Pertama dan kedua, bergaullah dengannya dengan sikap merasa-cukup (qana’ah) dan dengarkan baik-baik ucapannya dan taatlah padanya. Sesungguhnya dalam sikap merasa-cukup ada ketentraman hati, sedangkan dalam mendengar dan taat ada keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat, perhatikanlah tempat tatapan matanya dan penciumannya tertuju. Jangan sampai matanya tertuju kepada dirimu di saat engkau dalam keadaan jelek dan jangan sampai penciumannya tertuju kepada dirimu di saat dirimu kurang wangi.

Kelima dan keenam, perhatikanlah waktu tidur dan makannya, karena panasnya lapar dapat membakar perasaan dan kurangnya tidur dapat menimbulkan marah.

Ketujuh dan kedelapan, jagalah hartanya dan perhatikan kemuliaannya dan keluarganya. Mengatur harta secara baik adalah dengan cara melakukan takaran yang baik, dan menjaga keluarga secara baik adalah dengan cara mengatur yang baik pula.

Kesembilan dan kesepuluh, janganlah engkau melawan perintahnya dan jangan bongkar rahasianya. Jika engkau melawan perintahnya, berarti engkau membuatnya dadanya cemburu. Jika engkau bongkar rahasianya, maka engkau tidak akan aman dari tipu-dayanya. Janganlah engkau bergembira di hadapannya di saat ia sedang bersusah hati, dan jangan pula engkau bermuram durja di saat ia sedang bahagia.

Begitulah…

Kisah Tiga Roti dan Tiga Batu Emas

11 Mei

Wahb bin Munnabih adalah salah satu alim besar di zamannya. Lahir di masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Dengan begitu, ia termasuk generasi tabi’in. Kelebihannya adalah kemampuannya dalam menganalisis kitab-kitab suci Ahlul Kitab. Dia sendiri pernah mengatakan, ‘Aku sudah membaca 30 kitab yang turun kepada 30 Nabi’. Ia juga terkenal dengan koleksi kisahnya tentang lika-liku hidup kaum Israil.  Selama 40 tahun, Wahb tidak pernah mencaci angin (karena memang ada larangan dari Rasul untuk mencaci angin). Selama 20 tahun, ia melakukan shalat Isya dan Shubuh dengan satu kali wudhu’. Sewaktu melaksanakan haji pada tahun 100 H, ia didatangi para ahli fiqh terkemuka saat itu, di antaranya adalah Atho’ dan Hasan al-Bashri.

Begitulah biografi singkat dari Wahb bin Munabbih, sebagaimana yang ditulis oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’.

Nah, kali ini Wahb bin Munabbih akan bercerita kepada kita tentang kisah Nabi Isa dan Batu Emas. Nabi Isa adalah salah satu Nabi yang berasal dari kalangan Yahudi dan diutus kepada bangsa Yahudi. (Baca juga tulisan sebelumnya tentang turunnya Nabi Isa pada akhir zaman). 

Suatu hari Nabi Isa melakukan perjalanan ditemani seorang Yahudi. Nabi Isa membawa satu roti, sedangkan orang Yahudi membawa dua roti.

Sampai pada suatu tempat, Nabi Isa berkata, ‘Bagaimana kalau sekarang kita makan bersama?’ Yahudi itu menjawab, ‘Baiklah’. Tapi ketika ia mengetahui bahwa Nabi Isa hanya punya satu roti, ia menyesal. Dia berpikir bahwa satu rotinya akan dimakan oleh Nabi Isa. Ia tidak ingin hal itu terjadi.

Sebelum makan, Nabi Isa mencari tempat untuk berdoa. Di saat itu pula, orang Yahudi juga mencari tempat untuk makan satu rotinya secara diam-diam.

Tibalah waktunya makan. Masing-masing mengeluarkan makanannya. Ketika Nabi Isa melihat Yahudi hanya mengeluarkan satu roti, Nabi Isa berkata kepadanya, ‘Di manakah satu roti lagi?’ Yahudi itu menjawab, ‘Saya hanya punya satu roti ini, kok’.

Lalu Nabi Isa makan satu roti dan orang Yahudi makan satu roti. Kemudian mereka pergi, meneruskan perjalanan.

Di perjalanan, mereka melewati sebuah pohon. Nabi Isa berkata kepada Yahudi, ‘Bagaimana kalau kita istirahat di bawah pohon ini, tidur sampai pagi hari?’ Yahudi itu berkata, ‘Baik, mari kita lakukan’. Mereka berdua tidur di bawah pohon itu sampai pagi hari.

Pagi hari, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan orang buta. Nabi Isa berkata kepadanya, ‘Bagaimana kalau aku menyembuhkan matamu, sehingga Allah mengembalikan penglihatanmu, apakah engkau akan bersyukur kepada Allah?’ Orang buta itu menjawab, ‘Ya, tentu saja’.

Lalu Nabi Isa mengusap mata orang buta itu dan berdoa kepada Allah. Setelah itu, orang buta itu dapat melihat. Kemudian Nabi Isa berkata kepada orang Yahudi yang menemaninya, ‘Demi Dia yang telah memperlihatkan kepadamu bagaimana orang buta ini dapat melihat, apakah engkau punya satu roti lainnya?’ Yahudi itu menjawab, ‘Demi Tuhan, hanya ada satu roti’. Nabi Isa terdiam.

Mereka meneruskan perjalanan, hingga melewati seekor rusa. Lalu Nabi Isa memanggil rusa itu, kemudian menyembelihnya dan memakannya. Sehabis menikmati daging rusa, Nabi Isa berkata, ‘Wahai rusa, berdirilah dengan izin Allah’. Maka rusa itu kembali hidup, seperti sedia kala.

Yahudi itu berkata, ‘Mahasuci Allah’. Nabi Isa berkata, ‘Demi Dia yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu, siapakah yang memakan roti ketiga itu?’ Orang Yahudi itu menjawab, ‘Hanya ada satu roti, sebagaimana yang sudah saya katakan’.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hingga tiba di sebuah perkampungan. Tak disangka, di dekat mereka ada tiga batu besar terbuat dari emas. Nabi Isa berkata, ‘Satu batu emas untukku, satu untukmu, dan satu lagi untuk orang yang punya roti ketiga’. Mendengar ucapan Nabi Isa, orang Yahudi berkata, ‘Akulah yang punya roti ketiga itu. Aku memakannya ketika engkau sedang berdoa’.

Nabi Isa berkata, ‘Kalau begitu, semua batu ini untukmu’. Lalu Nabi meninggalkan Yahudi itu.

Tinggallah orang Yahudi itu sendiri. Ia mencoba membawa tiga batu emas itu, namun ia tidak sanggup membawanya. Tidak lama kemudian, lewatlah tiga orang, lalu mereka membunuh Yahudi itu dan menguasai batu emasnya.

Tiga batu emas itu sungguh menggoda. Lalu dua orang di antara mereka berniat buruk kepada salah satunya. Lalu salah satunya berkata, ‘Pergilah engkau ke perkampungan terdekat. Belilah makanan untuk kita’. Setelah orang itu pergi, satu orang berkata, ‘Jika nanti ia datang, kita bunuh saja, dan emas ini kita bagi berdua’. Temannya setuju.

Sementara temannya yang sedang mencari makanan berkata dalam hati, ‘Nanti setelah membeli makanan, maka aku akan taburkan racun di dalam makanan itu agar mereka mati keracunan. Dengan begitu, aku sendiri yang menguasai batu emas itu’.

Sampailah orang itu dengan membawa makanan yang telah ditaburi racun. Lalu dua orang temannya langsung membunuhnya. Kemudian keduanya menikmati makanan itu. Tak lama kemudian, keduanya mati juga.

Setelah peristiwa itu, Nabi Isa melewati batu itu bersama para sahabatnya yang lain. Ketika ia melihat ada 4 orang mati di samping batu emas itu, ia berkata kepada para sahabatnya sambil menunjuk batu emas dan orang-orang yang mati itu, ‘Begitulah dunia memperlakukan penghuninya. Oleh karena itu, berhati-hatilah kalian’.

Pesan moral kisah ini sungguh jelas. Pertama, pilihlah teman perjalanan yang baik, apakah itu istri, suami, atau sahabat. Kedua, jangan berlaku culas terhadap teman perjalanan. Ketiga, jika hati terlalu terpikat dengan dunia, maka ia tidak akan sanggup menghadapi godaan dunia. Keempat, harta berpotensi untuk membuat gelap hidup. Demi harta, orang rela bunuh-membunuh. Inilah yang dimaksud Rasulullah ketika beliau bersabda, ‘Sesungguhnya yang aku kuatirkan terhadap kalian sesudahku adalah terbukanya sebagian kemewahan dan gemerlap dunia’ (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Yang membuat kita selamat di dunia adalah manakala kita menghiasi hidup kita dengan zikir (ingat, mawas diri) kepada Allah, menjadikan apapun sebagai sarana untuk dekat kepada Allah, mendekatkan diri dengan para ulama, dan terus belajar sepanjang hidup. Begitulah pesan Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.

Apa Jadinya Jika Tuhan Tidak Menciptakan Hawwa?

9 Mei

Apa jadinya jika Tuhan tak mencipta sang Hawwa/Apa jadinya hidup kita tanpa hadir mereka/Kelangsungan manusia terletak di pundak seorang wanita/Terimakasih ohhh ibuku/Kasih sayang sepanjang hidupmu/Dengan senyummu terbuka pintu surgaku/

Itulah penggalan lirik lagu yang berjudul Terimakasih Ibu yang disenandungkan oleh grup musik asal Bandung, Sugar Cane. Master-copy lagu ini dikirim ke saya lewat perantara Hendra ‘Ken’ Fauzi, sahabat lama saya, yang terlibat dalam manajemen band Sugar Cane.

Menurut saya, lagu ini liriknya bagus. Manis didengar semanis sugar (gula) dan suara vokalis-nya bening Sebening Mata Air. Musiknya apik. Digarap dengan serius. Punya citarasa tersendiri. Lagu ini bercerita tentang kewajiban sang anak  untuk bersyukur dan berbakti terhadap orangtua, lebih-lebih kepada ibu. Lagu ini mungkin tidak dirancang untuk masuk dalam genre musik religi, namun saya kira isinya agamis, artinya selaras dengan pesan agama. Lagu ini bisa dinikmati oleh para remaja atau anak sekolah. Daripada mendengarkan lagu yang destruktif, lebih baik mendengarkan lagu-lagu seperti ini. (Buat pembaca yang kurang sreg dengan lagu dan musik, silakan baca tulisan saya sebelumnya: Haramkah Mendengarkan Nyanyian dan Musik?)

Gara-gara lagu itu, saya jadi ‘dipaksa’ menulis lagi, setelah sekian lama tidak menulis di blog ini. Bukan karena saya kehabisan bahan untuk menulis, tapi karena kebodohan saya membagi waktu. Waktu saya sebagian besar habis dalam majlis-majlis ilmu. Selain untuk menambah wawasan keilmuan saya, tentu saja majlis-majlis ilmu memberi saya peluang untuk melayani umat. Harap maklum, saya ini pelayan, alias jongos.

Baiklah, saya akan mulai menulis dari soal ibu kita, nenek moyang kita, yaitu Hawwa alayhassalam.

As-Suddi meriwayatkan dari Abu Shalih dan Abu Malik, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari Ibnu Mas‘ud, dari kalangan para sahabat Rasulullah, bahwa mereka berkata, ‘Iblis dikeluarkan dari surga dan Adam ditempatkan di surga. Lalu, Adam merasa kesepian mondar-mandir di surga, lantaran ia tidak punya teman-hidup yang dapat membuatnya tentram. Di saat Adam tertidur dan ia terbangun dari tidurnya, ia melihat seorang wanita yang sedang duduk di sisi kepalanya. Wanita ini diciptakan Allah dari tulang rusuknya. Adam bertanya kepadanya, ‘Siapakah gerangan engkau?’ Yang ditanya menjawab, ‘Aku seorang wanita’. Adam kembali bertanya, ‘Untuk apa engkau diciptakan?’ Wanita itu menjawab, ‘Agar engkau tentram di sisiku’.

Untuk menguji ilmu Adam, para malaikat pun bertanya, ‘Wahai Adam, siapa nama wanita itu?’ Adam menjawab, ‘Hawwa’. Para malaikat kembali bertanya, ‘Mengapa disebut Hawwa?’ Adam menjawab, ‘Li annaha khuliqot min syay’in hayyin – karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup’.

Begitulah yang ditulis Imam Ibnu Katsir ad-Dimasyqi as-Syafii dalam kitab Qoshosh al-Anbiya’  ketika menceritakan penciptaan Hawwa dari tulang rusuk Adam.

Dr Amru Khalid dalam kitab Inni Ja’ilun fil Ardhi Khalifah mengatakan bahwa Hawwa disebut Hawwa karena mengandung tiga makna. Makna pertama, lantaran Hawwa berasal dari kehidupan (li annaha min al-hayat). Ia tidak diciptakan dari tanah (sebagaimana Adam) namun ia diciptakan dari diri Adam sendiri. Dengan makna ini, artinya kehidupan tidak sempurna tanpa seorang Hawwa. Kenikmatan dunia dan nilai dunia menjadi cacat kecuali dengan kehadiran Hawwa. Makna kedua, Hawwa berarti al-ihtiwa’ (mengisi peran), karena dengan itulah ia mengisi hidup Adam. Seorang wanita bisa mengisi hidupnya dengan berperan sebagai seorang ibu, anak, saudara, bahkan seorang ayah. Makna ketiga, Hawwa berarti al-haya’ (malu). Dengan makna ini, seorang wanita perlu punya rasa malu.

Hawwa adalah wanita paling cantik di dunia. Kemungkinan posturnya tinggi, puluhan meter. Dalam sebuah hadits shahih, Adam digambarkan tingginya adalah 60 hasta (30 meter). Untuk mengimbangi postur Adam, bisa jadi postur Hawwa menyamai posturnya Adam. Begitu tingginya postur Hawwa, hingga ada riwayat yang mengatakan bahwa tempat terdalam dari Laut Merah hanyalah seukuran lututnya Hawwa. Masya Allah…

Hawwa dimakamkan di Jeddah, tidak jauh dari Laut Merah. Karena keberadaan Hawwa, kotanya disebut Jeddah, artinya Nenek Moyang. Untuk berziarah ke makam Hawwa tidak mudah. Paling-paling, para peziarah hanya berdiri dan berdoa di depan pintu kompleks makamnya yang bertuliskan ‘Maqbaroh Ummina Hawwa’ – Kuburan Ibu Kita Hawwa. (Maklum, negara Arab Saudi agak ketat soal ziarah kubur. Saking ketatnya, kadang over-acting alias berlebihan). Bahkan, tidak sedikit peziarah yang naik ke atas pohon yang tumbuh di pinggir tembok kompleks makam, sekedar untuk melongok ke dalamnya, menghilangkan rasa penasaran mereka. Beruntung, suatu kali, ketika pintu kompleks makam terbuka dan satpam-nya lengah, saya nekat menerobos masuk ke dalam area makam Hawwa, dan dari dalam area tersebut saya melihat dan memotret bentuk makam yang ukurannya panjang-panjang. Sewaktu saya kecil, ibu saya memang pernah menceritakan tentang panjangnya ukuran makam di kompleks makam Hawwa. Dan memang begitulah yang saya saksikan. Wallahu a’lam.

Setelah Hawwa, wanita tercantik di dunia adalah Sarah, istri Nabi Ibrahim. Pantaslah kalau Nabi Yusuf terkenal dengan ketampanannya, karena ia adalah titisan (cicit) Sarah. Yusuf adalah anak Ya‘qub. Ya‘qub adalah anak Ishaq. Ishaq adalah anak Ibrahim dan Sarah. Karena ketampanan Nabi Yusuf, banyak ibu hamil yang membaca Surat Yusuf ketika hamil, berharap anaknya setampan/secantik Yusuf. Hehehehhe…

Dalam ajaran Islam, wanita memang punya kedudukan mulia. Bahkan, al-Quran merekam banyak figur wanita yang menghiasi perjalanan peradaban manusia. Di antaranya adalah: kisah Ibu Musa dan saudari Musa, kisah Asiyah (istri Firaun), kisah putri Nabi Syuaib (sejarawan menyebutnya: Shafura), kisah Maryam, bunda Isa. Dan, tidak ketinggalan, peran Khadijah, yang membantu Rasulullah dalam perjuangan awalnya memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Quraisy Makkah.

Begitu pentingnya peran wanita dalam kehidupan, sehingga wanita-wanita perkasa itu sering ditambahi dengan gelar Siti. Siti adalah kependekan Sayyidati (Junjunganku atau Yang Dipertuan). Sehingga, dalam masyarakat muncullah nama-nama seperti: Siti Hawwa, Siti Asiyah, Siti Maryam, Siti Khadijah, Siti Aisyah, Siti Sarah, Siti Fathimah, Siti Zaynab, dan sebagainya. Sedangkan untuk kaum lelaki yang hebat, gelar tambahannya adalah Sidi. Sidi adalah kependekan dari Sayyidi (Junjunganku atau Yang Dipertuan). Tentu saja, gelar-gelar ini adalah bentuk penghormatan terhadap keluhuran pribadi seseorang yang dikenal dengan kebajikan hidupnya.

Oleh karena itulah, ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang prioritas bakti kepada orangtua, maka Rasulullah menjawabnya: ibumu dulu… ibumu dulu… ibumu dulu… baru ayahmu. Bakti kepada ibu disebut tiga kali. Itu artinya lebih diprioritaskan. Makanya, surga berada di bawah kaki ibu. Maksudnya, ganjaran berbakti kepada ibu adalah surga. Beruntunglah orang yang masih mempunyai ibu. Dengan begitu, ia punya peluang untuk mendapatkan surga. Senyum seorang ibu kepada sang anak, sebagai tanda ke-ridha-annya, membuat pintu-pintu surga terbuka. Bakti kepada orangtua tidak hanya ketika mereka masih hidup. Ketika mereka sudah wafat, sang anak tetap punya kewajiban untuk berbakti kepada keduanya, yaitu dengan cara mendoakan mereka, memohonkan ampun untuk mereka, berbuat baik atas nama mereka, dan menyambung persaudaraan dengan sahabat-sahabat mereka yang masih hidup.

Mungkin Anda pernah mendengar sebuah kisah masyhur (populer) yang terjadi di zaman Rasulullah, yaitu kisah tentang seorang lelaki yang lebih mementingkan istrinya daripada ibunya sendiri. Lelaki ini bernama Alqamah. Karena ia lebih mementingkan istrinya, sang ibu marah dan sakit hati terhadap Alqamah. Akibatnya sungguh tragis, sang anak tidak mampu mengucap kalimat tauhid (syahadat) ketika sakaratul maut. Rasulullah pun heran dengan kejadian ini, padahal Alqamah termasuk lelaki shalih, rajin shalat, puasa, sedekah, dan lainnya. Lalu Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk membakar Alqamah di depan ibunya. Akhirnya, sang ibu tidak tega anaknya dibakar di depannya. Sang ibu lalu ridha kepadanya. Alqamah akhirnya mampu mengucap kalimat tauhid di saat malaikat maut menjemput ajalnya.

Imam Ahmad dan Imam at-Thabrani meriwayatkan hadits tentang kisah tersebut. Kisah ini memang menjadi perhatian di kalangan para ulama sejak dulu, lebih-lebih dari para ahli hadits. Imam as-Suyuthi dan Imam al-Haytsami, misalnya, menilai kisah tersebut tidak benar, karena periwayat hadits yang menceritakan kisah itu, yaitu Fa’id bin Abdurrahman, dinilai cacat alias tidak kredibel.

Baiklah, kita anggap saja kisah Alqamah itu fiktif alias tidak ada. Namun, pesan moralnya jangan dilupakan. Bukankah ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, ‘Ridha Allah ada pada ridha orangtua, dan murka Allah ada pada murka orangtua’? Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.

Kembali ke soal Hawwa.

Karena Hawwa diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, maka perlakuan terhadap wanita perlu ekstra hati-hati. Jika mau diluruskan secara ekstrem, maka rusuk itu akan patah. Jika wanita didiamkan dalam kebengkokannya, maka ia semakin bengkok. Serba salah, memang. ‘Hendaknya kalian berlaku baik-baik terhadap wanita’, begitu pesan Rasulullah. Di lain kesempatan, Rasulullah juga berpesan, ‘Sebaik-baik suami adalah yang berbuat baik terhadap istrinya’. Wanita yang dimaksud oleh Rasulullah itu bukan hanya istri, namun juga mencakup ibu, anak wanita dan seterusnya ke bawah, saudara yang wanita, keponakan yang wanita, dan wanita pada umumnya.

Sungguh, apa jadinya jika Allah tidak menciptakan seorang Hawwa, atau seorang ibu, atau seorang wanita. Dunia bakal hampa. Namun, kaum wanita perlu juga menengok ke-Hawwa-an mereka. Adam dari tanah, sehingga fungsi kaum lelaki adalah memakmurkan bumi (dunia). Hawwa dari rusuk Adam, sehingga fungsi kaum wanita adalah menjadi mitra internal dan supporter paling dekat terhadap lelaki. Jika kaum wanita menyadari hal ini, niscaya dunia semakin tentram jadinya.

Ala kulli hal, mari kita hormati wanita dan kita muliakan ibu kita.

Empat Kelompok Hamba Allah

8 Des

Sebagian para ulama berkata bahwa para mukallaf terbagi atas 4 kelompok:

Pertama, kelompok yang Allah ciptakan untuk ber-khidmat (melayani) kepada-Nya dan mendapatkan surga-Nya. Mereka adalah para Nabi, wali, orang beriman, orang shalih.

Kedua, kelompok yang Allah ciptakan untuk mendapatkan surga-Nya tanpa ber-khidmat kepada-Nya. Mereka adalah orang yang hidup dalam kekafiran lalu diberikan iman pada akhir hidup mereka. Mereka telah menyiakan-nyiakan hidup mereka sepanjang waktu dan getol berbuat kemaksiatan, namun akhirnya Allah menerima taubat mereka, lalu mereka mati dalam keadaan telah bertaubat dan berbuat kebaikan layaknya para penyihir Firaun (yang beriman kepada Allah setelah melihat mukjizat Nabi Musa alayhissalam)

Ketiga, kelompok yang Allah ciptakan tidak untuk ber-khidmat kepada-Nya juga tidak diberikan surga-Nya. Mereka adalah orang-orang kafir yang mati dalam kekafiran. Di dunia mereka terhalang mendapatkan kenikmatan iman dan di akhirat mereka kekal dalam azab dan kesengsaraan.

Keempat, kelompok yang Allah ciptakan untuk ber-khidmat kepada-Nya namun tidak diberikan surga-Nya. Mereka adalah orang-orang banyak beramal dalam ketaatan kepada Allah, kemudian Allah berbuat makar kepada mereka. Akhirnya mereka diusir dari pintu (rahmat) Allah dan mati dalam kekafiran.

Tiga Teladan Ummat

14 Nov

Khutbah Idul Adha 1432

Masjid Jami’ al-Hidayah

Kampung Rambutan, Jakarta Timur

Oleh: Abdul Aziem al-Batavy

Khutbah Pertama

الخطبة الأولى

اللهُ أَكْبَرُ «تسعا»، الله أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

الحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ الَّذِى وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا وَتَدْبِيْرًا، نَحْمَدُهُ بِجَمِيْعِ مَحَامِدِهِ حَمْدًا كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً أَدَّخِرُهَا لِيَوْمٍ كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، بَعَثَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ مَا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَصَلِّ عَلَيْهِ مَا لاَحَتِ اْلأَنْوَارُ، وَغَرَّدَتِ اْلأَطْيَارُ، وَأَوْرَقَتِ اْلأَشْجَارُ، وَأَيْنَعَتِ الثِّمَارُ، وَلّبَّى الحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

،أَمَّا بَعْدُ

فَـ (ياأيها الناس التقوا ربكم إن زلزلة الساعة شيء عظيم )– الحج:١

اتَّقُوا اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ الْقُرْآنِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah swt.

Pagi ini, ketika kita berkumpul di tempat ini, jutaan saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji sedang berkumpul di Mina. Lautan manusia tumpah-ruah, bergerak menuju satu tempat yang bernama Jumrah al-Aqabah, sambil lisan-lisan mereka membasahi bumi Mina dengan ucapan talbiyah,

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكُ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ.

Ya Allah, kami bergegas memenuhi panggilan-Mu… Tak ada sekutu bagi-Mu… Kami segera datang memenuhi panggilan-Mu… Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan, dan kekuasaan berpulang kepada-Mu… Tak ada sekutu bagi-Mu…

Manakala mereka sampai di Jumrah al-Aqabah, tangan-tangan kecil mereka melempari jumrah dengan bebatuan, sambil lisan mereka bergetar mengucapkan,

اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مبْرُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا

Allahu Akbar, Allahumma ya Allah, jadikanlah (haji ini) haji yang mabrur, dan jadikanlah segala dosa kami, dosa yang terampuni.

Sehabis melempar Jumrah, mereka mengganti gema talbiyyah dengan gema takbir.

Allahu Akbar! Bumi Mina basah dengan kalimat-kalimat thayyibah yang keluar dari jutaan lisan Tamu Allah.

Ada kesamaan antara kehadiran jutaan jamaah haji di Mina dan kehadiran kita di tempat ini, yaitu sama-sama bernilai ibadah, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Semoga saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji mendapatkan haji yang mabrur, sa‘i yang masykur, dan dosa yang maghfur. Dan, bagi kita yang hadir di tempat ini semoga Allah senantiasa berikan rahmat, inayah, dan ampunan-Nya, sepanjang hidup kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Tidak ada ibadah yang begitu menggetarkan jiwa selain haji. Haji mengajarkan kita untuk senantiasa melakukan yang terbaik dalam menjalani hidup. Haji mengajarkan kita untuk meneladani tiga karakter manusia besar, yaitu Adam, Ibrahim, dan Muhammad, shalawatullah wa salamuhu alayhim.

Teladan pertama: Jadilah seperti Adam yang selalu mawas diri

Figur pertama yang patut kita tiru adalah Adam. Ketika Adam lupa dengan larangan Allah swt. agar tidak memakan buah salah satu pohon di surga, Adam merasakan penyesalan yang mendalam. Adam bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Kemudian Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi. Di bumi, Adam merasakan kesedihan yang mendalam. Adam merasa sedih karena ia tidak bisa lagi beribadah di Baytul Ma‘mur yang berada di langit ketujuh bersama malaikat. Untuk mengobati kesedihannya, Allah mewahyukan kepada Adam untuk membangun sebuah Bayt (rumah-ibadah) di bumi. Adam kemudian membangun Bayt di bumi, dan dia lah yang pertama membangun rumah-ibadah di bumi. Bayt itu bernama Ka‘bah, berada di lembah Bakkah, nama lain dari Makkah al-Mukarramah. Allah swt. berfirman,

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia adalah yang berada di Bakkah….’ (Q.s. Ali Imran [3]: 96)

Setelah Adam membangun Ka‘bah, Allah memerintahkannya untuk melakukan thawaf, sebagaimana yang pernah dilakukannya di Baytul Ma‘mur bersama malaikat. Dengan melakukan thawaf di Ka‘bah, Adam kembali merasakan kedekatan dengan Allah. Sampai kini, thawaf yang dilakukan Adam terus terpelihara menjadi salah satu manasik haji.

Setelah Adam membangun Ka‘bah Baytullah, Adam diperintahkan untuk membangun Baytul Maqdis, di Palestina. Rasulullah saw. pernah ditanya sahabatnya, ‘Berapa lama jarak antara dibangunnya Ka‘bah dengan Baytul Maqdis?’. Rasulullah menjawab, ‘Empat puluh tahun’. (Hadits shahih, muttafaq ‘alayh).

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa Allah meng-Isra’-kan Rasulullah dari Masjid al-Haram (Ka‘bah) menuju Masjid al-Aqsha (Baytul Maqdis). Ini menunjukkan bahwa agama yang dibawa oleh Nabi pertama sampai Nabi terakhir adalah sama, yaitu Islam.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Di bumi Arafah, para jamaah haji melakukan wuquf. Secara harfiah, wuquf artinya ‘berhenti atau diam’. Arafah adalah ‘bumi kesadaran’, yang menyadarkan jamaah haji siapa dirinya dan siapa Allah swt., yang menciptakannya dan yang memberinya rizki. Arafah adalah bumi air-mata penyesalan. Barangsiapa yang wuquf di Arafah dan khusyu‘ memohon ampun kepada Allah atas segala nista yang pernah dilakukan, maka ia akan merasakan terlahir kembali menjadi manusia baru. Di bumi Arafah, para jamaah haji menjadi seperti Adam: menyesal dan bertaubat. Bukan tanpa alasan, jika Rasulullah saw. bersabda, ‘Al-hajju arafatu’ (Haji adalah Arafah). Oleh karena itu, mayoritas ulama-madzhab mengatakan bahwa rukun yang paling penting dari ibadah haji adalah wuquf di Arafah. Barangsiapa yang tidak melakukan wuquf di Arafah, maka hajinya tidak sah.

Aku bukan orangnya…

Dalam sebuah hadits panjang, diriwayatkan bahwa pada hari Kiamat nanti, ketika orang-orang beriman dikumpulkan, mereka berharap agar ada orang yang memberikan syafaat kepada mereka. Kemudian mereka mendatangi Adam, sambil berkata, ‘Engkau ini Bapak Manusia, yang Allah ciptakan dari tangan-Nya sendiri, yang malaikat bersujud kepadamu, yang telah diajarkan Allah segala pengetahuan. Tolong, mintakan syafaat dari Tuhanmu, sehingga kami menjadi tentram di tempat ini’.

Apa jawaban yang diberikan Adam kepada mereka? Adam menjawab, ‘Lastu hunâkum – Aku bukan orang yang pantas memintakan syafaat untuk kalian di tempat ini’. Adam kemudian menyebutkan alasannya, yaitu bahwa ia malu dengan kesalahan yang pernah ia lakukan. (Hadits shahih, riwayat Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, dan Abu Dawud).

Subhanallah! Padahal, kesalahan Adam hanyalah satu, yaitu satu suapan saja, dan itu terjadi karena lupa. Kesalahan sekecil itu masih membuatnya trauma sampai akhir zaman. Bagaimana dengan kita, yang sering berbuat kesalahan lebih dari seribu suapan, dan kita lakukan dengan sengaja?

Oleh karena itu, bagi orang yang sudah melaksanakan ibadah haji, pantang baginya untuk berperilaku menyimpang. Pantang baginya untuk mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Jadilah seperti Adam yang selalu mawas diri!

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Teladan kedua:

Jadilah seperti Ibrahim yang tunduk dengan perintah Allah

Figur kedua yang pantas kita teladani adalah Ibrahim a.s. Allah menyebut Ibrahim sebagai seorang yang hanif, seorang yang hidup-lurus, tidak mengikuti arus, yang menyelaraskan hidupnya dengan aturan Allah swt. Qurban yang kita lakukan hari ini awalnya berasal dari perintah Allah kepada Ibrahim – melalui mimpi – untuk menyembelih Ismail, anaknya yang lahir dari rahim Hajar, istri keduanya. Allahu Akbar! Ujian apa yang paling berat bagi seorang ayah, selain menyembelih anaknya dengan tangannya sendiri, padahal anak itu sudah dinantikan kehadirannya selama kurang-lebih 75 tahun?

Al-Quran menceritakan dialog antara Ibrahim dan Ismail, alayhimas salam, tentang perintah Allah swt. itu,

‘Ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-samanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?’. Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’. (Q.s. as-Shaffat [37]:102)

Dibalik perintah Allah ini, yang tidak masuk akal dan terkesan sebagai suatu kezaliman, ada hikmah yang tidak diketahui Ibrahim. Namun, Ibrahim tidak pernah bertanya mengapa Allah memerintahkan itu. Ia hanya tunduk dengan perintah Allah, karena agama bukanlah soal masuk akal atau tidak masuk akal. Agama adalah tuntunan.

‘Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim  membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya atas perintah itu). Dan Kami memanggilnya, ‘Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah mempercayai kebenaran mimpi itu. Sesungguhnya Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang selalu melakukan yang terbaik dalam beribadah. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang berat. Maka sebagai gantinya Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar’. (Q.s. as-Shaffat [37]:103-107)

Allah swt. tidak lupa melipatgandakan ganjaran-Nya…

Karena ketundukan Ibrahim terhadap perintah Allah, bukan hanya Ismail yang tidak jadi dikorbankan, namun Allah melipatgandakan ganjaran-Nya kepada Ibrahim dengan berita akan lahirnya seorang anak laki-laki yang bernama Ishaq a.s., dari rahim Sarah, istri pertamanya. Kelak anak ini, seperti Ismail, diangkat Allah menjadi seorang Nabi.

Kesejahteraan untuk Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang melakukan yang terbaik dalam beribadah. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami sampaikan kepadanya kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang shalih’. (Q.s. as-Shaffat [37]: 109-112).

Hanya keikhlasan dan ketakwaan, bukan darah dan dagingnya…

Sesungguhnya dibalik perintah ber-qurban ini, Allah swt. mengajarkan kita untuk tunduk dengan perintah-Nya, seperti tunduknya Ibrahim. Allah tidak membutuhkan darah dan daging hewan yang kita sembelih. Allah juga tidak melihat apakah hewan yang kita sembelih besar atau kecil, unta atau domba, sapi atau kambing. Allah hanya menguji seberapa besar ketundukan dan keikhlasan kita menjalankan perintah-Nya. 

‘Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darahnya. Tetapi yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaanmu…’ (Q.s. al-Hajj [22]:37)

Sampaikan salamku…

Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah mi‘raj ke langit, beliau melihat Ibrahim sedang menyandarkan punggungnya ke Baytul Ma‘mur, yang berada di langit ketujuh. Rasulullah mengucapkan salam kepadanya. Ibrahim berkata kepada Rasulullah, ‘Tolong sampaikan salamku kepada ummatmu. Katakan kepada mereka bahwa sesungguhnya surga seperti ladang yang tanahnya wangi, airnya lezat, dan bibitnya adalah ucapan Subhanallah, al-Hamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar’. (Hadits shahih, riwayat at-Thabrani).

Subhanallah! Ibrahim merindukan ummat Muhammad, merindukan kita yang hadir di sini!

Begitulah, orang yang hatinya telah tertanam benih ketakwaan tak akan pernah ragu dengan perintah Allah swt. Baginya, Allah adalah al-Wakil, yang kepada-Nya seluruh persoalan hidup diserahkan. Baginya, Allah adalah al-Hasib, yang dari-Nya segala keperluan dicukupi. Baginya, Allah adalah as-Salam, Sumber Kedamaian. Jadilah seperti Ibrahim yang hidup-lurus dan tunduk dengan perintah Allah!

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Teladan ketiga:

Jadilah seperti Muhammad yang penuh kasih kepada ummatnya dan peduli dengan keselamatan manusia

Figur ketiga yang pantas kita tiru keteladanannya adalah Belahan-jiwa kita, yaitu Muhammad saw.

Suatu kali, Rasulullah ditanya para sahabatnya, ‘Wahai Rasulullah, apakah qurban itu?’. Rasulullah menjawab, ‘Qurban adalah sunnah ayah kalian, yaitu Ibrahim’. Para sahabat kembali bertanya, ‘Jika kami ber-qurban, apa yang kami dapatkan dari qurban itu?’. Rasulullah menjawab, ‘Pada setiap helai rambutnya, terdapat kebaikan’. Para sahabat kembali bertanya, ‘Bagaimana dengan bulu-bulunya?’. Rasulullah menjawab, ‘Pada setiap helai bulunya juga terdapat kebaikan’. (Hadits hasan, riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Ketika melaksanakan haji wada‘, Rasulullah menyembelih 63 ekor unta di Mina dengan tangannya sendiri. Begitu pula, setiap hari Raya Idul Adha, Rasulullah membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk, dan berbulu putih bersih. Sehabis memimpin shalat dan berkhutbah, beliau mengambil seekor domba itu dan meletakkan telapak kakinya di sisi tubuh domba, sambil berkata,

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

Bismillah, Allahu Akbar, ya Allah, terimalah ini dariku dan dari ummatku yang tidak mampu ber-qurban’.

Lalu beliau menyembelihnya dengan tangannya sendiri. Setelah itu, beliau membaringkan domba yang satu lagi, sambil berkata,

هَذَا عَنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

‘Ya Allah, terimalah ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad’.

Sebagian daging qurban itu dimakan Rasulullah dan keluarganya, sisanya dibagikan kepada orang-orang miskin. (Hadits hasan, riwayat oleh Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi).

Ketika Rasulullah ber-qurban atas nama dirinya, keluarganya, dan semua ummatnya yang tidak mampu ber-qurban, maka ibadah qurban bukan hanya sebagai ibadah individual, namun juga sebagai ibadah sosial. Dengan qurban – yang secara harfiah artinya mendekatkan – Rasulullah mengajarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mendekatkan diri kepada saudara-saudara kita yang nasibnya di bawah kita. Ketika kita memiliki kenikmatan, maka kenikmatan itu hendaknya juga dapat dirasakan oleh orang lain. Dengan puasa, kita merasakan lapar seperti laparnya orang miskin, dan dengan qurban kita mengajak mereka merasakan kenyang seperti kenyangnya kita. Subhanallah!

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Hidup harmonis dengan alam dan lingkungan…

Bukan hanya qurban yang berdimensi sosial yang menjadi salah satu manasik haji dan disunnahkan pula bagi yang tidak berhaji, namun Rasulullah saw. mengajarkan kita untuk hidup harmonis dengan alam dan lingkungan.

Lebih dari 14 abad yang lalu, jauh sebelum berdiri organisasi Green Peace, jauh sebelum lahir Protokol Kyoto, jauh sebelum diproklamasikan Hari Lingkungan Hidup, apalagi KTT tentang Perubahan Iklim, yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di Bali, Rasulullah sudah mengajarkan ummatnya untuk hidup harmonis dengan alam dan lingkungan. Perhatikanlah, bahwa di antara pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh orang yang berhaji, adalah memotong pepohonan. Subhanallah!

Rasulullah mengajarkan kita untuk memelihara ekosistem. Rasulullah mengajarkan kita untuk menjaga kelestarian alam. Kalau pohon saja dilarang dipotong, apalagi hutan. Rasulullah mengajarkan kita agar tidak melakukan pembalakan liar (illegal logging) terhadap hutan! Untuk urusan hutan, ternyata Indonesia masuk dalam ‘Guiness World Book of Record’, sebagai negara yang hutannya paling tercepat rusaknya, karena dibalak atau dibakar. Masya Allah!

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Akibat industrialisasi negara-negara maju melalui kegiatan pembakaran minyak bumi, batu bara, gas alam, dan pembukaan lahan-hijau yang tak terkontrol, maka dunia kini sedang mengalami tragedi peradaban, yaitu Pemanasan Global (Global Warming). Kegiatan industrialisasi itu menghasilkan karbon dioksida (CO2). Emisi yang dikeluarkan oleh karbon dioksida tertahan di atmosfir, sehingga suhu bumi menjadi panas.

Menurut para ilmuwan, pengaruh yang ditimbulkan pemanasan global ini terhadap kehidupan di bumi sangat dahsyat: mulai dari perubahan iklim yang tidak menentu, penurunan hasil panen, kekeringan, penyakit mematikan, suhu bumi yang makin panas sehingga es di kutub Utara mencair, naiknya permukaan laut sehingga menimbulkan badai tsunami, banjir lokal, sampai banjir besar seperti banjir raksasa di zaman Nabi Nuh, yang akan menimpa umat manusia pada satu abad ini. Allahu Akbar!

Menurut para ilmuwan, Asia adalah kawasan paling berbahaya. Lima negara yang terancam pemanasan global adalah Cina, India, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia. Lebih dari dua per tiga kota-kota besar di dunia akan terkena dampak pemanasan global. Salah satunya adalah Jakarta, yang 70 persen wilayahnya berada di kawasan pantai berelevasi rendah yang terancam oleh naiknya permukaan laut.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd

Mengapa Rasulullah melarang memotong pepohonan? Karena pepohonan menyerap karbon dioksida dari udara untuk melakukan fotosintesis dan menyimpannya sebagai biomassa di tubuhnya. Dengan tetap terpeliharanya pepohonan yang menyerap karbon dioksida, maka suhu bumi menjadi normal, pemanasan global menjadi terhambat, dan kehidupan manusia menjadi terselamatkan.

Allahu Akbar!

Sungguh, Rasulullah adalah teladan kita dan ummat manusia!

Oleh karena itu, di Hari Adha yang penuh keberkahan ini, mari kita kembali kepada petunjuk Islam, dengan merubah gaya-hidup kita. Hiduplah dengan mawas diri, tidak berlebihan, selaraskan akal dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dan peduli dengan lingkungan dan kemaslahatan ummat, karena tidak ada agama yang petunjuknya dapat menyelamatkan ummat manusia, baik di dunia maupun akhirat, kecuali Islam.


Khutbah Kedua

الخطبة الثانية

اللهُ أَكْبَرُ «سبعا»، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ للهِ الْحَكِيْمِ الْعَلِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صّلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ، صَلاَةً وَسَلاَمًا كَامِلَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أمّا بعد

فَيَا عِبَادَ اللهِ،  (فاتقوا الله ما استطعتم ) – التغابون ١٦

اتَّقُوا اللهَ رَبَّكُمْ، وَاعْبُدُوْهُ وَأَطِيْعُوْهُ وَوَحِّدُوْهُ، فَلاَ إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنْ أَرَضْتُمْ دُخُوْلَ الْجِنَانِ، وَرُمْتُمْ رِضَى الرَّحْمَنِ، وَطَلَبْتُمُ السَّلاَمَةَ مِنَ النِّيْرَانِ، فَعَلَيْكُمْ بِتَوْحِيْدِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَسَلاَمَةِ الْعَقِيْدَةِ مِنَ اْلأَدْرَانِ، وَتَحْقِيْقِ الْعُبُوْدِيَّةِ وَاْلإِيْمَانِ

 أَلاَ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا – رَحِمَكُمُ اللهُ – عَلَى الْهَادِى الْبَشِيْرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيْرِ، كَماَ أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ الْمَوْلَى اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ، فَقَالَ تَعَالَى قَوْلاً كَرِيْمًا: (إن الله وملائكته يصلون على النبي، يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما – الأحزاب ٥٦)

 اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِ قُلُوْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الْفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِى النُّوْرَيْنِ، وَعَلِيٍّ أَبِى السِّبْطَيْنِ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيْدَنَا سَعِيْدًا، وَعَمَلَنَا صَالِحًا رَشِيْدًا، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ حُجَّاجِ بَيْتِكَ الْحَرامِ حَجَّهُمْ، اللَّهُمَّ هَؤُلاَءِ عِبَادُكَ، أَتَوْا مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ، يَرْجُوْنَ رَحْمَتَكَ، وَيَخْشَوْنَ عَذَابَكَ، اللَّهُمَّ بَلِّغْهُمْ آمَالَهُمْ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

Ya Allah, ya Tuhan kami,

Jadikanlah hari Raya kami ini sebagai kebahagiaan. Jadikan amal-amal kami sebagai sebagai amal shalih yang mencerahkan hidup kami. Terimalah ibadah-haji saudara-saudara kami yang berhaji tahun ini. Mereka semua adalah hamba-Mu. Mereka datang dari segala pelosok bumi-Mu, mengharapkan rahmat-Mu, dan takut akan azab-Mu. Maka, ya Allah, kabulkanlah keinginan-keinginan mereka. Hanya Engkau-lah Yang Maha Lestari dan Berkuasa, yang memiliki kekuasaan dan kemuliaan sempurna.

 اللَّهُمَّ كَمَا جَمَعْتَ أَجْسَادَهُمْ فِى الْمَكَانِ الْمُبَارَكِ فَاجْمَعْ قُلُوْبَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، اللَّهُمَّ كَمَا جَمَعْتَهُمْ وَجَمَعْتَنَا فِى هَذَا الْمَكَانِ فَاجْمَعْ قُلُوْبَنَا عَلَى كِتَابِكَ وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

Ya Allah, ya Tuhan kami,

Sebagaimana Engkau telah rekatkan jasad-jasad mereka di Tanah Suci-Mu, maka rekatkanlah hati mereka dengan kebenaran dan petunjuk. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah kumpulkan mereka di Tanah Suci-Mu dan Kau kumpulkan kami di tempat ini, maka rekatkan pula hati kami untuk bersedia mengikuti tuntunan yang Engkau tunjukkan dalam Kitab-Mu dan sunnah Rasul-Mu. Satukan hati kami, perbaiki persoalan-persoalan yang terjadi di depan kami, tuntun kami menuju jalan keselamatan, jauhkan kami dari keburukan dan marabahaya, baik yang sedang terjadi di depan mata atau yang masih tersembunyi dari penglihatan kami.

اللَّهُمَّ وَفِّقْ إِمَامَنَا بِتَوْفِيْقِكَ، وَوَفِّقْهُمْ إِلَى مَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَاصِيَتِهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَإِلَى مَا فِيْهِ إِعْلاَءُ كَلِمَتِكَ، وَإِعْزَازُ دِيْنِكَ، وَصَلاَحُ الْبِلاَدِ وَالْعِبَادِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, ya Tuhan kami,

Berikan petunjuk-Mu kepada pemimpin-pemimpin kami.  Tuntun mereka dalam membuat kebijakan publik yang selaras dengan aturan-Mu. Ya Allah, pegang ubun-ubun mereka untuk selalu berada di jalan kebenaran dan ketakwaan, untuk bersemangat meninggikan kalimat-Mu dan kejayaan agama-Mu, dan berkomitmen untuk memperbaiki keadaan bangsa dan masyarakat.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِى كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللَّهُمَّ مُنَّ عَلَيْنَا بِإِعَادَةِ الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى إِلَى بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَتَحْرِيْرِ أَوْطَانِنَا مِنْ بَرَاثِنِ أَعْدَائِكَ أَعْدَاءِ الدِّيِْنِ، اللَّهُمَّ عَجِّل بِنَصْرِنَا، اللَّهُمَّ عَجِّلْ بِفَرَجِنَا، يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، يَا هَيُّ يَا قَيُّوْمُ

Ya Allah, ya Tuhan kami,

Jayakanlah Islam dan kaum Muslim, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin. Ya Allah, bantulah saudara-saudara kami yang berjuang di jalan-Mu, di manapun mereka berada. Bantu mereka mengalahkan musuh-Mu dan musuh mereka. Ya Allah, bahagiakan kami dengan kembalinya Masjid al-Aqhsa ke pangkuan kami dan terbebasnya bangsa kami dari belenggu agresi musuh-Mu dan musuh agama-Mu. Ya Allah, segerakan kemenangan kami dan pecahkan belenggu yang melilit kami.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْمَيِّتِيْنَ، اللَّهُمَّ لاَ تَرُدَّناَ خَائِبِيْنَ، وَلاَ عَنْ بَابِكَ مَطْرُوْدِيْنَ، وَلاَ مِنْ رَحْمَتِكَ مَحْرُوْمِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Ya, Allah, dengan rahmat-Mu

Terimalah amal-amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengetahui. Ampuni kami, orangtua kami, dan saudara-saudara kami kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, karena Engkau yang Maha Pengampun dan Penyayang. Ya Allah, jangan Kau kecewakan kami, jangan Kau tolak kami dari pintu-Mu, dan jangan jadikan kami terhalang mendapatkan kasih sayang-Mu.