Tag Archives: imam al-ghazali

Keajaiban Hati

6 Mei

‘Sesungguhnya kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan sesuatu bergantung pada kondisi dasarnya. Kondisi dasar sesuatu adalah menyangkut untuk apa ia diciptakan. Oleh karena itu, kenikmatan mata adalah dengan melihat yang indah-indah. Kenikmatan telinga adalah dengan mendengar suara-suara merdu. Begitulah seterusnya untuk anggota badan lainnya. Namun, khusus berkaitan dengan hati, kenikmatannya hanyalah manakala ia dapat mengenal Allah swt., karena hati diciptakan untuk itu. Jika manusia mengetahui apa yang tidak diketahuinya, maka senanglah ia. Begitu juga dengan hati. Manakala hati mengenal Allah swt., maka senanglah ia, dan ia tidak sabar untuk ‘menyaksikan-Nya’. Tidak ada yang maujud yang lebih mulia dibanding Allah, karena setiap kemuliaan adalah dengan-Nya dan berasal dari-Nya. Setiap ketinggian ilmu adalah jejak yang dibuat-Nya, dan tidak ada pengetahuan yang lebih digdaya dibanding pengetahuan tentang diri-Nya.’

Untaian kata-kata itu keluar dari goresan pena Hujjatul Islam, al-Imam al-Ghazali rahimahullah.

Hati memang ajaib!

 

Iklan

Ampuni dan Maafkan Kami Ya Rabb…

10 Mar

Di antara nama-nama Allah yang indah (asma’ al-husna), ada tiga nama yang saling berdekatan maknanya, yaitu al-Ghaffar, al-Ghafur, dan al-Afuwwu.

Allah bersifat al-Ghaffar dan al-Ghafur, yang dua-duanya artinya mengampuni, meskipun berbeda pada penekanannya.

Allah disebut al-Ghaffar karena ia sering mengampuni kesalahan kita setiap kali kita melakukan kesalahan. Sifat ini menekankan pada kuantitas pengampunan. Allah disebut al-Ghafur karena ia dapat memberikan pengampunan dengan pengampunan yang sempurna, sampai pada batas pengampunan yang paling tinggi. Sifat ini menekankan pada kualitas pengampunan. Dengan begitu, sifat Allah al-Ghafur lebih tinggi dari sifat al-Ghaffar.

Begitu komentar Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali rahimahullah, dalam karyanya al-Maqshad al-Asna fi Syarhi Asma’ Allah al-Husna.

Baca lebih lanjut

Dahulukan Akhlak, Stop Bertengkar !

3 Mar

Wa kana al-insanu aktsara syay’in jadalan – manusia memang paling senang berdebat. Begitu kata Allah dalam surat al-Kahfi/18: 54.

Ya, memang benar, kita ini senang berdebat. Debat itu sendiri tidak jadi soal. Yang jadi soal adalah manakala debat itu tidak disandarkan pada pengetahuan yang cukup tentang objek yang diperdebatkan. Kalau sudah begini, maka yang muncul adalah debat kusir yang tidak berkesudahan.

Akses informasi memang ada kaitannya dengan cara pandang kita. Semakin banyak informasi yang kita akses, maka semakin toleran kita. Semakin beragam bacaan yang kita baca, maka semakin berwarna cara pandang kita.

Soal qunut shubuh dan membaca basmalah dalam shalat, adalah sekian contoh kecil yang diributkan ‘orang-orang bodoh’. Mereka lupa bahwa dalam soal-soal seperti itu, maka yang diperlukan adalah kelapangan dada dalam menerima perbedaan. Mereka lupa, bahwa mendahulukan akhlak adalah jauh lebih penting dibanding bertengkar.

Orang yang mencari ilmu dengan niat untuk mendebat ulama, memperdaya orang bodoh, atau agar orang lain merujuk kepadanya, maka neraka siap menampung orang-orang semacam ini. Ini adalah sabda Rasulullah saw.

Nampaknya, apa yang dikatakan Rasulullah saw. sudah benar-benar terjadi. Banyak sekali blog yang dibuat bukan untuk mempersatukan umat, namun untuk kepentingan duniawiah semata.  Anehnya, kita menganggap diri kita bak juru penyelamat. Islam sebagai rahmatan lil alamin tenggelam oleh perilaku orang islam sendiri.

Kita sering lupa, bahwa ilmu adalah untuk diamalkan. Kata Imam al-Ghazali, ‘Law qara’ta al-ilma mi’ata sanatin wa jama’ta alfa kitabin, la takunu mustaiddan li rahmatillahi illa bi al-amali – walaupun Anda sudah membaca (mempelajari) ilmu selama ratusan tahun dan mengoleksi ribuan buku, namun Anda tidak akan mendapatkan rahmat Allah kecuali Anda mengamalkan ilmu yang telah Anda pelajari itu’.

Kita lebih sering jadi katak dalam tempurung. Akhirnya, cuma jadi jago kandang.

Wallahul musta’an…