Tag Archives: bukhari

Ucapkan Insya Allah

26 Sep

Maher Zain, penyanyi Swedia yang berdarah Lebanon, memang fenomenal. Lewat dendangan lagu-lagunya, ia mampu memikat telinga sekaligus hati orang yang mendengarnya. Lagu-lagunya multibahasa, mulai dari bahasa Inggris, Arab, Perancis, Urdi, Turki, bahkan bahasa Indonesia. Satu lagunya ada yang berjudul Insha Allah. Lagu ini bercerita tentang optimisme bahwa Allah swt akan memberikan jalan keluar ketika kita berada dalam kesukaran.

Nah, kali ini saya ingin menulis tema tentang Insya Allah, sebuah ucapan yang sudah lekat dengan keseharian kita.

Suatu hari, orang-orang Quraisy Makkah bertanya kepada Rasulullah tentang persoalan ruh, tujuh pemuda yang masuk gua (ashabul kahfi), dan Dzul Qornain. Lalu Rasulullah menjawab, ‘Besok akan aku kabari tentang persoalan yang kalian tanyakan’.

Lalu, apa yang terjadi dengan Rasulullah? Ternyata, beberapa hari wahyu tidak turun kepada Rasulullah yang memberi jawaban terhadap persoalan-persoalan yang ditanyakan kepada beliau, sehingga beliau pun tidak bisa menjawab pertanyaan orang-orang Quraisy. Sebabnya adalah karena Rasulullah tidak mengatakan insya Allah. Terhadap peristiwa ini, turunlah wahyu, 

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut), ‘Insya Allah’… (surat al-Kahfi: 23-24)

Ayat itu bukan hanya ditujukan untuk Rasulullah. Kita, sebagai umatnya, juga termasuk yang dituju oleh ayat itu. Jadi, kalau kita ingin melakukan sesuatu, maka janganlah kalian mengatakan, ‘Aku akan lakukan itu nanti atau besok’. Kita harus menyertainya dengan kalimat insya Allah.

Sesungguhnya efek ucapan insya Allah tidak bisa dianggap remeh. Akibatnya bisa fatal jika kita meninggalkan ucapan insya Allah. Kita tahu siapa Sulayman, bukan? Beliau bukan hanya seorang Nabi, tapi juga seorang raja. Beliau adalah putra Dawud, yang juga seorang Nabi sekaligus raja. Kerajaan Nabi Sulayman membentang luas dan ia memiliki puluhan istri.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang Nabi Sulayman, yang bunyinya seperti ini,

 قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ: لأَطُوْفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى تِسْعِيْنَ امْرَأَةً، كُلٌّ تَأْتِى بِفَارِسٍ يُقَاتِلُ فِى سَبِيْلِ اللهِ. فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ: قُلْ إِنْ شَاءَ اللهُ، فَلَمْ يَقُلْ إِنْ شَاءَ اللهُ. فَطَافَ عَلَيْهِنَّ جَمِيْعًا فَلَمْ تَحْمِلْ مِنْهُنَّ إِلاَّ امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ فَجَاءَتْ بِشِقِّ رَجُلٍ. وَأَيْمُ الَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ قَالَ إِنْ شَاءَ اللهُ لَجَاهَدُوْا فِى سَبِيْلِ اللهِ فُرْسَانًا أَجْمَعُوْنَ

‘Sulayman bin Dawud berkata, ‘Sungguh, aku akan menggilir 99 istriku pada malam ini, sehingga masing-masing istriku itu akan melahirkan pejuang yang akan berjuang di jalan Allah’. Lalu sahabatnya mengingatkannya, ‘Ucapkanlah insya Allah’. Tapi Nabi Sulayman tidak mengucapkannya. Kemudian Nabi Sulayman menggauli semua istrinya, dan tidak ada satu orang pun dari mereka yang hamil, kecuali satu orang istri saja yang melahirkan satu orang anak dengan wujud setengah manusia. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya ia (Sulayman) mengucapkan insya Allah, niscaya semua istrinya akan melahirkan pejuang-pejuang yang berjuang di jalan Allah’. 

Itulah yang didapatkan Nabi Sulayman ketika lupa mengucapkan insya Allah. Anak yang dilahirkan istrinya mengalami cacat fisik dan mental. Kita tidak tahu setengahnya lagi berwujud apa. 

Jadi, kalau kita ingin melakukan sesuatu, maka ucapkan insya Allah. Ucapkanlah dengan benar. Jangan mengucapkan insya Allah sekedar basa-basi dan pemanis lidah. Ucapan insya Allah yang benar akan menambah kesempurnaan sesuatu yang akan kita lakukan.

Iklan

Akhlak kepada Rasulullah saw.: Belajar dari Imam Malik dan Kalajengking

25 Feb

Makam Imam Malik di Baqi' al-Gharqad, Medinah.Di Madinah, ada kompleks kuburan tua yang bersejarah. Namanya Baqi’. Lengkapnya: Baqi’ al-Gharqad, karena dulunya tempat ini penuh dengan pohon gharqad (sejenis pohon duri di gurun). Kini, lokasinya menyatu dengan halaman Masjid Nabawi, namun dibatasi dengan tembok besar yang mengelilinginya.

Ribuan sahabat Rasul dikuburkan di sini. Fathimah az-Zahra dan ahlul bayt (keluarga Rasul) lainnya juga dikuburkan di sini. Kubur ahlul bayt adalah objek ziarah yang paling dipadati pengunjung, lebih-lebih oleh kelompok Syiah.

Tidak jauh dari kubur ahlul bayt, ada kubur dua putri Rasulullah, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Di sebelah kubur mereka, ada kubur istri-istri Rasulullah. Semua istri Rasul dikuburkan di sini, kecuali Khadijah (di Ma’la, Mekkah) dan Maymunah (di perbatasan kota Mekkah dan Madinah).

Tidak banyak orang yang mengenali siapa yang dikuburkan di Baqi’, karena semua kubur tanpa nama. Yang paling mudah dikenali adalah kubur Sayyiduna Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Tempatnya strategis, tersendiri, dan nyaman untuk diziarahi.

Setelah shalat Shubuh di Masjid Nabawi dan berziarah kepada Rasulullah saw. dan dua sahabatnya (Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma), saya terus menuju Baqi’. Ini adalah kebiasaan saya jika saya sedang berada di Madinah.

Ziarah kubur bukan hanya mengingatkan kita akan fananya dunia dan kekalnya akhirat, namun juga membuat hati kita menjadi lembut dengan meneladani akhlak orang yang kita ziarahi.

Seperti yang sudah-sudah, banyak peziarah dari negara lain yang membuntuti saya. Secara diam-diam, mereka menunjuk saya sebagai guide ziarah, karena saya tahu tentang keberadaan kubur-kubur yang ada di sana. Maklum, di Baqi’ semua kubur tanpa nama. Saya teringat, para petugas yang berbadan besar dan berjenggot lebat pernah menginterogasi saya karena saya memegang kitab yang berisi informasi detail tentang orang-orang yang dikuburkan di Baqi’. Awalnya mereka bersikap kasar. Namun, setelah saya jelaskan siapa saya dan dari mana saya dapatkan kitab itu, mereka menjadi cair. Mereka tidak menyangka bahwa saya bisa berkomunikasi dalam bahasa Arab. Mereka minta maaf.

Sampailah saya di kubur Imam Malik rahimahullah. Di sebelahnya, ada kubur Nafi’, imam qiraat yang terkenal dan guru Imam Malik sendiri. Jadi, guru dan murid berdampingan. Imam Malik adalah imam besar dalam mazhab Islam. Imam Malik adalah pendiri mazhab Maliki. Jauh sebelum Bukhari, Muslim, dan lainnya menulis kitab hadits, Imam Malik sudah lebih dulu menulis kitab hadits, yang dikenal dengan al-Muwattha’ (artinya: yang paling shahih). Imam Malik lahir di Madinah, besar di Madinah, dan wafat di Madinah. Imam Malik tidak pernah menetap di negeri lain.

Bagi saya, berziarah ke kubur Imam Malik punya kesan tersendiri. Imam Malik adalah orang yang paling menghormati apa pun yang berhubungan dengan Rasulullah. Jika ia ingin mengajar di tempat lain di luar Madinah, maka ia tidak pernah menaiki kudanya dari rumahnya, sampai ia keluar dari Madinah. Dari rumahnya, ia hanya menuntun kudanya dan berjalan di sisi kudanya. Jika sudah keluar dari perbatasan kota Madinah, barulah ia menaiki kudanya. Ia takut kalau ia menaiki kudanya dari rumahnya, kudanya itu akan mengepulkan debu. Buat Imam Malik, itu sudah dianggap menyakiti Rasulullah.

Ada lagi akhlak Imam Malik yang membuat saya terkesan. Saya ingin berkisah sedikit.

Hari itu, pengajian Imam Malik dipenuhi banyak orang. Seperti biasanya, beliau mengajar hadits. Di saat beliau mengajar, paha beliau disengat kalajengking sebanyak 16 kali. Wajah Imam Malik langsung pucat, namun ia tidak menghentikan pengajiannya. Ia terus melanjutkan kajian haditsnya, seakan-akan tidak ada kejadian yang menimpanya.

Setelah pengajian selesai dan orang-orang bubar, salah satu jamaah mendekati Imam Malik. Orang itu bernama Abdullah bin Mubarak. Abdullah melihat kejadian itu.

Abdullah berkata, ‘Wahai Imam Malik, sungguh aku tadi melihat peristiwa yang luar biasa dari dirimu’.

Imam Malik berkata, ‘Ya, begitulah. Namun, aku tetap bertahan melanjutkan pengajian, karena aku begitu memuliakan hadits Rasulullah saw.’

Masya Allah…

Saya sering teringat kisah itu, lebih-lebih ketika saya sedang berada di depan makam Imam Malik. Saya kagum, dan sudah pasti merasa kecil di hadapannya.

Begitulah akhlak Imam Malik kepada Rasulullah. Bagaimana dengan kita?

Akankan kita penuhi jiwa kita dengan cacian kepada orang yang memuliakan Rasul dengan sepantasnya? Akankan kita klaim sesat orang yang mengambil pelajaran dari hari lahirnya (maulid) Rasulullah? Akankah kita klaim pelaku bid‘ah buat orang yang mengucapkan kata ‘Sayyidina’ ketika menyebut nama Rasulullah?

Ahh… kita memang sudah keterlaluan. Menghapal hadits pun tidak, apalagi mengamalkannya. Pemahaman kita terhadap sunnah Rasul baru sebatas pemahaman kelompok, dan anehnya itulah yang kita klaim sebagai kebenaran tunggal sembari mengklaim kelompok lain sesat (dan menyesatkan).

Kita belum meniru akhlaknya Imam Malik. Nampaknya, kita lebih senang menjadi kalajengking, yang menyengat saudara kita sendiri.

Allahu Akbar…

Ya Nabiyy, salam alayka…
Ya Rasul, salam alayka…
Ya Habib, salam alayka…
Shalawatullah alayka…

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad…