Tag Archives: firaun

Empat Kelompok Hamba Allah

8 Des

Sebagian para ulama berkata bahwa para mukallaf terbagi atas 4 kelompok:

Pertama, kelompok yang Allah ciptakan untuk ber-khidmat (melayani) kepada-Nya dan mendapatkan surga-Nya. Mereka adalah para Nabi, wali, orang beriman, orang shalih.

Kedua, kelompok yang Allah ciptakan untuk mendapatkan surga-Nya tanpa ber-khidmat kepada-Nya. Mereka adalah orang yang hidup dalam kekafiran lalu diberikan iman pada akhir hidup mereka. Mereka telah menyiakan-nyiakan hidup mereka sepanjang waktu dan getol berbuat kemaksiatan, namun akhirnya Allah menerima taubat mereka, lalu mereka mati dalam keadaan telah bertaubat dan berbuat kebaikan layaknya para penyihir Firaun (yang beriman kepada Allah setelah melihat mukjizat Nabi Musa alayhissalam)

Ketiga, kelompok yang Allah ciptakan tidak untuk ber-khidmat kepada-Nya juga tidak diberikan surga-Nya. Mereka adalah orang-orang kafir yang mati dalam kekafiran. Di dunia mereka terhalang mendapatkan kenikmatan iman dan di akhirat mereka kekal dalam azab dan kesengsaraan.

Keempat, kelompok yang Allah ciptakan untuk ber-khidmat kepada-Nya namun tidak diberikan surga-Nya. Mereka adalah orang-orang banyak beramal dalam ketaatan kepada Allah, kemudian Allah berbuat makar kepada mereka. Akhirnya mereka diusir dari pintu (rahmat) Allah dan mati dalam kekafiran.

Iklan

Dahsyatnya Doa Nabi Musa

29 Apr

Dalam catatan sebelumnya, saya pernah menulis tentang Dahsyatnya Doa Nabi Yunus. Kali ini saya akan menulis tentang dahsyatnya doa Nabi Musa alayhissalam.

Suatu hari, Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya, ‘Maukah kalian aku beritahu tentang ucapan yang diucapkan Musa alayhissalam ketika beliau menyeberangi laut bersama kaumnya, Bani Israil?’

Para sahabat menjawab, ‘Tentu saja kami mau, wahai Rasulullah’

Rasulullah berkata, ‘Nabi Musa berdoa: Allahumma laka al-hamdu, wa ilayka al-musytaka, wa anta al-musta’an, wa la hawla wa la quwwata illa billah al-‘aliyy al-azhim’.

Itulah doa yang diucapkan Nabi Musa ketika ia sampai di pinggir laut Merah karena dikejar-kejar tentara Firaun. Allah mengabulkan doanya dengan memerintahkan Musa untuk mengetukkan tongkatnya ke air laut. Seketika, laut terbelah menjadi daratan. Musa beserta kaumnya melintasi lautan yang berubah menjadi daratan itu. Firaun dan tentaranya juga mengikutinya dari belakang. Ketika Musa dan seluruh kaumnya berhasil melintasi lautan itu, maka Allah kembali menutup laut itu dengan air. Maka, tenggelamlah Firaun dan tentaranya.

Anggap saja kita berada di posisi Nabi Musa dan kaumnya itu. Kita tidak bisa keluar dari kejaran musuh. Yang ada hanyalah hamparan lautan. Tidak ada alat apapun yang dapat membawa kita menyeberangi lautan itu. Betapa mencekamnya suasana hati kita saat itu. Apa yang dialami Musa dan kaumnya juga kita alami dalam bentuk masalah yang lain. Namun, apapun masalah itu, Allah senantiasa memberi pertolongan kepada orang-orang beriman.

Allahumma laka al-hamdu… ya Allah, segala puji bagi-Mu

wa ilayka al-musytaka… hanya kepada Engkau-lah tempat mencurahkan segala isi hati

wa anta al-musta’an… dan Engkau adalah Sang Penolong

wa la hawla wa la quwwata illa billah al-aliyy al-azhim… dan tidak ada daya dan kekuatan apa pun jua selain daya dan kekuatan yang datangnya dari Engkau, Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Bacalah doa itu dengan hati khusyu’ dan merasa kecil di hadapan Allah swt., niscaya Allah akan mengeluarkan kita dari belenggu kesulitan hidup.

Kaya Belum Tentu Mulia, Miskin Belum Tentu Terhina

12 Mar

Hari ini (12/3/2010) koran Republika menurunkan berita tentang 7 WNI yang masuk daftar seribu orang kaya dunia versi majalah Forbes edisi 10 Maret 2010. Jika Anda memiliki kekayaan 1 miliar dolar AS, maka Forbes akan mencatat nama Anda sebagai salah satu orang kaya dunia. Itu adalah syarat keramat yang diajukan Forbes.

Mereka adalah kakak-beradik Michael Hartono dan Budi Hartono (Group Djarum), Martua Sitorus (Wilmar International), Peter Sondakh (Group Rajawali), Sukanto Tanoto (Raja Garuda Mas), Low Tuck Kwong (Bayan Resources), dan Chairul Tanjung (Group Para).

Jika kita ditanya, apakah ingin seperti mereka? Kebanyakan di antara kita akan menjawab: YES! Kita menganggap bahwa kekayaan adalah parameter tunggal untuk menjadi mulia. Kita menganggap bahwa harta banyak pertanda bahwa kita disayang Tuhan. Benarkah begitu? Sebaiknya, anggapan itu Anda lupakan saja.

Allah swt. berfirman,

Dan jika Allah melapangkan rizki kepada hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat. (Q.s. as-Syura/42: 27)

Tentang ayat di atas, Syaikh Wahbah az-Zuhayli berkomentar, ‘Seandainya Allah melapangkan dan memberikan rizki kepada hamba-Nya di atas kebutuhan mereka, niscaya mereka akan bersikap pongah, melampaui batas, melakukan maksiat di bumi, mengingkari nikmat, sombong, dan mengejar sesuatu yang tidak perlu dikejar. Hal yang demikian terjadi pada diri Firaun dan Qarun. Namun, Allah menurunkan rizki untuk hamba-Nya dengan takaran yang telah ditentukan berdasarkan keadaan hamba-Nya dan memilihkan rizki yang sesuai dengan kemaslahatan mereka. Oleh karena itu, Allah memberikan kekayaan kepada orang yang pantas menerimanya dan memberikan kemiskinan kepada orang yang pantas menerimanya. Allah sungguh tahu keadaan hamba-Nya. Allah sungguh melihat apa yang paling pantas untuk hamba-Nya, apakah dengan meluaskan rizki hamba-Nya atau menyempitkannya’. (Tafsir al-Munir, jilid ke-13)

Allah itu Maha Adil, yang dengan Keadilan-Nya Ia bagikan rahmat-Nya sesuai keadaan hamba-Nya. Allah itu Maha Pemelihara, yang dengan Pemeliharaan-Nya Ia memelihara keseimbangan hidup umat manusia.

Sesungguhnya, kaya adalah kaya hati, dan miskin adalah miskin iman. Berbahagialah orang yang kaya materi yang dapat menjaga hatinya dari belitan dunia, dan berbahagia pula orang miskin yang dapat menjaga imannya dari serbuan budaya konsumerisme.

Kelembutan dalam Berdakwah

17 Feb

Suatu hari, seorang ustadz datang ke istana Amirul Mukminin Harun al-Rasyid. Ia datang untuk menasihati Harun al-Rasyid. Di hadapan Harun al-Rasyid, ustadz itu mengucapkan kata-kata yang kasar dan pedas.

Ustadz itu berkata, ‘Wahai Harun al-Rasyid, selama ini Anda sudah melakukan begini dan begitu’. Ia menyebutkan keburukan-keburukan Harun al-Rasyid.

Setelah selesai mendengarkan perkataan ustadz itu, Harun al-Rasyid menjawab, ‘Duhai saudaraku, apakah Anda lebih baik dari Musa alayhissalam?’

Ustadz itu menjawab, ‘Tentu saja, tidak’.

Harun al-Rasyid kembali bertanya, ‘Apakah saya lebih jahat dari Firaun?’

Ustadz itu menjawab, ‘Tentu saja, tidak’.

Harun al-Rasyid berkata, ‘Kalau begitu, selama Anda tidak lebih mulia dibanding Musa alayhissalam dan saya tidak lebih jahat dibanding Firaun, maka tidakkah Anda perhatikan bahwa Allah swt. berfirman kepada Musa, ‘Hendaknya kalian berdua (yakni Musa dan Harun) berkata kepada Firaun dengan ucapan yang menyejukkan, mudah-mudahan dengan cara demikian ia menjadi sadar dan takut kepada-Ku’? (al-Quran, surat Thoha ayat 44).

Begitulah jawaban Harun al-Rasyid kepada ustadz yang menasihatinya. Ya, sebuah jawaban yang halus dan mengena. Kisah ini saya dapatkan dalam sebuah buku yang ditulis oleh salah satu ulama Mesir, yang diterbitkan oleh salah satu penerbit ternama di Lebanon.

Saudaraku, kita persis seperti ustadz itu. Kita nasihati dan ceramahi orang dengan kalimat-kalimat munafik, bid’ah, dan kufur. Kita katakan orang lain islamnya tidak kaffah (total), padahal makna kaffah belum tentu kita pahami dengan benar. Dari atas mimbar, kita caci orang yang tidak satu golongan, mazhab, ormas, atau partai dengan kita. Dari status atau catatan jejaring sosial, kita sentil orang dengan menampilkan diri kita sebagai Mr. Clean.

Subhanallah…

Perhatikanlah, Nabi Musa dan Harun saja diperintahkan oleh Allah untuk menasihati Firaun dengan tutur kata yang lembut. Kita tahu siapa Firaun. Dialah yang mengaku Tuhan. Namun, apa yang terjadi dengan kita? Kita nasihati orang lain dengan cara sebaliknya. Kita telanjangi orang lain. Kita puas manakala kita membongkar aibnya. Padahal, yang kita nasihati tidak lebih buruk dari Firaun, dan kita sendiri tidak ada apa-apanya dibanding Musa dan Harun.

Subhanallah, betapa arogannya diri kita…

Sesungguhnya musuh kita adalah kejahilan, bukan si jahil (orangnya). Oleh karena itu, nasihatilah si jahil atas dasar kecintaan kepada Allah, bukan atas dasar kedengkian dan kebencian, apalagi untuk menghinakannya. Manusia bukan malaikat. Manusia adalah makhluk yang senantiasa tergelincir dalam kesalahan. Bersikaplah santun, toleran, dan sejuk kepada orang lain, sambil Anda menyadari pula bahwa Anda juga berpotensi untuk tergelincir dalam kesalahan.

Jangan sedih manakala nasihat kita dianggap angin lalu. Jika kita sedih, itu tanda kita kurang ikhlas. Jangan kita terlampau bernafsu agar orang lain menjadi baik di tangan kita. Kita hanyalah penyampai (muballigh). Tidak lebih.

‘Engkau tidak akan mampu memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang engkau cintai, namun hanya Allah yang mampu memberi hidayah kepada siapapun yang Ia kehendaki. Allah tahu siapa yang mau menerima petunjuk’. (al-Quran, surat al-Qashash, ayat 56).

Percayalah, buat orang beriman, nasihat mendatangkan kebaikan… Percayalah, dengan nasihat yang beradab kita bisa masuk surga…