Tag Archives: dosa

Dijual Murah: Istana Bertatahkan Intan Permata

29 Mar

Suatu hari, Rasulullah saw. sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Di tengah para sahabatnya, tiba-tiba Rasulullah saw. tertawa ringan sampai-sampai terlihat gigi depannya. Umar r.a. yang berada di di situ, berkata, ‘Demi engkau, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?’

Rasulullah saw.menjawab, ‘Aku diberitahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala mereka di hadapan Allah. Salah satunya mengadu kepada Allah sambil berkata, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku’.

Allah swt. berkata, ‘Bagaimana mungkin saudaramu ini bisa melakukan itu, karena tidak ada kebaikan sedikitpun yang tersisa dalam dirinya?’

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya’.

Sampai di sini, mata Rasulullah saw. berkaca-kaca. Beliau saw. tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis. Lalu, beliau saw. berkata, ‘Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosanya’.

Rasulullah saw. melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi, ‘Angkat kepalamu’. Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata, ‘Ya Rabb, aku melihat di depanku ada tempat yang terbuat dari emas dan istana-istana yang terbuat dari emas dan perak bertatahkan intan permata. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Untuk syahid yang mana, ya Rabb?’

Allah berkata, ‘Istana-istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya’.

Orang itu berkata, ‘Siapakah yang bakal mampu membayar harganya, ya Rabb?’

Allah berkata, ‘Engkau mampu membayar harganya’

Orang itu terheran-heran, sambil berkata, ‘Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?’

Allah berkata, ‘Caranya engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.

Orang itu berkata, ‘Ya Rabb, kini aku memaafkannya’

Allah berkata, ‘Kalau begitu, ambil tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu’.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin’.

Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.

Rasulullah juga pernah bersabda, ‘Barangsiapa yang di dalam dirinya ada 3 hal, maka pada hari kiamat nanti Allah akan mudahkan proses hisab terhadap dirinya dan Allah akan memasukkannya ke dalam surga’. Para sahabat bertanya, ‘Apa yang 3 hal itu, wahai Rasulullah?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Yaitu engkau tetap memberi pemberian kepada orang yang menolak pemberianmu, engkau menyambung silaturrahim kepada orang yang memutuskannya, dan engkau memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu. Jika engkau lakukan yang demikian, maka engkau akan masuk surga’. (Hadits, riwayat Imam al-Hakim)

Ya Allah, selamatkan kami dari dendam yang mengotori hati kami dan membuat tidur kami tidak nyenyak. Hapuskanlah dendam yang selama ini tertanam di hati kami. Jangan biarkan rasa dendam itu membuat kami terhalang masuk surga-Mu.

Amin…

Iklan

Cara Melakukan Maksiat yang Benar

28 Mar

Seseorang mengunjungi Ibrahim bin Adham rahimahullah. Ia berkata, ‘Wahai Imam, saya ingin bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosa. Jika sekiranya aku kambuh lagi, tolong tunjukkan padaku sesuatu yang dapat mencegahku berbuat dosa, sehingga aku tidak menentang Allah lagi’.

Ibrahim bin Adham berpesan kepadanya, ‘Jika engkau ingin berbuat maksiat kepada Allah, maka jangan lakukan maksiat di bumi-Nya’. Orang itu berkata, ‘Kalau begitu, dimana aku bisa berbuat maksiat?’. Ibrahim bin Adham berkata, ‘Pokoknya, keluarlah engkau dari bumi-Nya’. Orang itu berkata, ‘Wahai Imam, bagaimana mungkin, padahal semua bumi adalah milik-Nya?’. Ibrahim berkata, ‘Jika semua bumi adalah milik Allah, lalu mengapa engkau masih ingin berbuat maksiat di bumi-Nya?’

Ibrahim berkata lagi, ‘Jika engkau ingin berbuat maksiat, maka engkau jangan menikmati rizki-Nya’. Orang itu berkata, ‘Lalu bagaimana aku bisa hidup?’. Ibrahim berkata, ‘Tahu begitu, mengapa engkau masih bermaksiat pada-Nya?’

Ibrahim berkata lagi, ‘Jika engkau masih keukeh ingin bermaksiat, maka lakukanlah maksiat itu di tempat yang tidak dilihat-Nya’. Orang itu berkata, ‘Bagaimana mungkin aku melakukan maksiat, padahal Dia selalu bersama kita di manapun kita berada?’. Ibrahim berkata, ‘Kalau begitu, mengapa engkau masih bermaksiat pada-Nya padahal Dia dekat dengan dirimu?’

Ibrahim bin Adham berkata, ‘Jika engkau masih ngotot juga ingin melakukan maksiat, maka ketika malaikat pencabut nyawa mendatangimu untuk mencabut nyawamu, maka katakanlah kepadanya, ‘Eittsss.. jangan cabut nyawaku, biarlah saya taubat dulu’. Orang itu berkata, ‘Siapa yang berani berkata begitu?’. Ibrahim berkata, ‘Jika engkau tidak berani berkata seperti itu, mengapa engkau masih ingin melakukan maksiat?’

Ibrahim bin Adham berkata lagi, ‘Jika engkau masih bersikeras juga ingin melakukan maksiat, maka ketika malaikat Zabaniyah (penjaga neraka) menggiringmu ke neraka, maka katakan kepada malaikat itu, ‘Aku tidak mau ikut bersamamu’. Orang itu berkata, ‘Siapa yang mampu melakukan yang demikian?’

Terakhir, Ibrahim bin Adham berkata, ‘Setelah aku katakan semua ini, apakah engkau masih tidak malu untuk melakukan maksiat?’

Hmm… Jika Anda masih keukeuh bin ngotot ingin melakukan maksiat juga, maka ulangi lagi membaca pesan Ibrahim bin Adham di atas. Mudah-mudahan maksiat Anda menjadi ‘benar’.

Ampuni dan Maafkan Kami Ya Rabb…

10 Mar

Di antara nama-nama Allah yang indah (asma’ al-husna), ada tiga nama yang saling berdekatan maknanya, yaitu al-Ghaffar, al-Ghafur, dan al-Afuwwu.

Allah bersifat al-Ghaffar dan al-Ghafur, yang dua-duanya artinya mengampuni, meskipun berbeda pada penekanannya.

Allah disebut al-Ghaffar karena ia sering mengampuni kesalahan kita setiap kali kita melakukan kesalahan. Sifat ini menekankan pada kuantitas pengampunan. Allah disebut al-Ghafur karena ia dapat memberikan pengampunan dengan pengampunan yang sempurna, sampai pada batas pengampunan yang paling tinggi. Sifat ini menekankan pada kualitas pengampunan. Dengan begitu, sifat Allah al-Ghafur lebih tinggi dari sifat al-Ghaffar.

Begitu komentar Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali rahimahullah, dalam karyanya al-Maqshad al-Asna fi Syarhi Asma’ Allah al-Husna.

Baca lebih lanjut