Sunnah-sunnah yang Mulai Ditinggalkan

14 Jan

Pertama, me-ruqyah diri sendiri dan keluarga

Menurut Aisyah, ‘Rasulullah meniupkan badannya dengan bacaan al-muawwidzat (surat al-Falaq dan surat an-Nas) di saat sakit yang membawanya kepada kematian. Ketika sakitnya makin parah, aku sendiri yang meniupkan ke tubuhnya dengan bacaan tersebut, dan aku mengusapkan badannya dengan tangan beliau sendiri untuk mendapatkan keberkahan’ (Hadits, riwayat Bukhari)

Kedua, berdoa ketika memakai pakaian baru

Menurut Said al-Khudri, ‘Jika Rasulullah mendapatkan pakaian baru, maka beliau memberi nama terhadap pakaian tersebut, apakah pakaian itu berupa ‘imamah (sorban yang melilit di kepala), baju, atau selendang. Lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, segala puji untuk-Mu. Engkau-lah yang memakaikan aku dengan pakaian ini. Aku memohon kepada-Mu kebaikan pakaian ini dan kebaikan dari tujuan pembuatannya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pakaian ini dan keburukan dari tujuan pembuatannya’ (Hadits, riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Ketiga,  mengucapkan salam kepada semua orang Islam termasuk anak kecil

Menurut riwayat Abdullah bin Amr, ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah tentang ajaran Islam yang paling baik. Rasulullah menjawab, ‘Engkau memberi makan kepada orang lain, membacakan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal’ (Hadits, riwayat Muslim)

Menurut riwayat Anas, Rasulullah melewati sekelompok anak kecil, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka (Hadits, riwayat Muslim)

Keempat, berwudhu sebelum mandi janabah (mandi hadats besar)

Menurut riwayat Aisyah, jika Rasulullah mandi janabah, beliau memulainya dengan mencuci tangannya, lalu berwudhu, lalu memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu dengan jari-jarinya itu beliau menyela-nyela pangkal rambutnya, lalu menyiramkan air ke atas kepalanya, lalu menyiramkannya ke seluruh kulitnya (Hadits, riwayat Bukhari)

Kelima, mengucapkan amin dengan keras di belakang imam

Menurut riwayat Abu Hurayrah, Rasulullah bersabda, ‘Jika imam mengucapkan amin, maka kalian ucapkan juga amin. Barangsiapa yang ucapan amin-nya bersamaan dengan ucapan amin malaikat, maka dosanya yang lalu diampuni Allah’ (Hadits, riwayat Bukhari dan Muslim).

Para generasi salaf (terdahulu) terbiasa mengeraskan suara amin mereka sampai-sampai masjid menjadi bergema.

Keenam, mengeraskan zikir setelah shalat

Dalam kitab Shahih dinyatakan bahwa orang-orang mengeraskan suara mereka dengan zikir setelah selesai shalat, dan kebiasaan ini sudah terjadi pada zaman Rasulullah.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah berkata, ‘Dianjurkan mengeraskan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir setelah selesai shalat’.

Ini adalah sunnah yang terputus (ditinggalkan) pada kebanyakan masjid setelah imam mengucapkan salam, karena para jamaah shalat tidak mengeraskan membaca zikir-zikir yang telah dicontohkan Rasulullah.

Ketujuh, membuat sutrah (pembatas) ketika shalat

Menurut riwayat Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda, ‘Jika kalian shalat, hendaknya ia shalat menghadap sutrah (pembatas) dan mendekat kepadanya. Jangan biarkan seorangpun melintasi pembatas itu. Jika ada yang melintasi, maka tolaklah ia, karena sesungguhnya ia adalah syetan’ (Hadits, riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Menurut riwayat Abdullah bin Umar, Rasulullah mendirikan jariyah (budak)-nya, lalu shalat menghadapinya’ (Hadits, riwayat Bukhari)

Kedelapan, mengikuti (menjawab) azan mu’azin

Abdullah bin Amr mendengar bahwa Rasulullah bersabda, ‘Jika kalian mendengar suara muazin mengumandangkan azan, maka katakanlah seperti yang ia katakan, lalu (setelah selesai azan) ucapkan shalawat kepadaku, karena barangsiapa yang mengucapkan satu kali shalawat kepadaku maka Allah akan ber-shalawat kepadanya sebanyak 10 kali. Setelah itu, mintalah kepada Allah untukku al-wasilah, karena itu adalah suatu tempat di surga yang tidak akan diberikan kecuali kepada hamba Allah. Dan aku berharap akulah orang yang mendapatkannya. Barangsiapa yang memintakan untukku al-wasilah, maka ia berhak mendapatkan syafaatku’ (Hadits, riwayat Muslim)

Kesembilan, berlomba-lomba dalam mengumandangkan azan, bersegera menuju shalat, dan berada di shaf (barisan) paling depan

Menurut riwayat Abu Hurayrah, Rasulullah bersabda, ‘Seandainya manusia tahu keutamaan mengumandangkan azan dan berada di shaf terdepan, lalu mereka tidak mendapatkan peluang itu kecuali dengan melakukan undian, niscaya mereka akan melakukan undian itu. Seandainya manusia tahu tentang keutamaan bersegera menuju shalat di masjid, niscaya mereka akan saling berlomba-lomba. Seandainya manusia tahu tentang keutamaan shalat Isya dan Shubuh berjamaah di masjid, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan cara merangkak’ (Hadits, riwayat Bukhari dan Muslim)

Kesepuluh, mengibaskan tempat tidur ketika akan tidur

Menurut riwayat Abu Hurayrah, Rasulullah bersabda, ‘Jika kalian mendatangi tempat tidur, hendaknya ia mengambil bagian dalam (ujung) sarungnya lalu mengibaskan tempat tidurnya dengan sarung itu, kemudian menyebut nama Allah, karena tak seorangpun tahu apa yang terjadi setelah ia meninggalkan tempat tidurnya. Jika ia berbaring, hendaknya ia berbaring dengan sisi kanan sambil berkata, ‘Maha Suci Engkau wahai Tuhanku. Dengan-Mu aku baringkan dan aku angkat pinggangku. Jika Engkau menahan nyawaku (ketika tidur) maka ampunilah aku. Jika engkau melepaskan nyawaku (yaitu bangun tidur) maka jagalah nyawaku dengan apa yang telah Engkau jaga terhadap hamba-hamba-Mu yang shalih’ (Hadits, riwayat Muslim)

Kesebelas, segera tidur malam (tidak begadang)

Jika ada keperluan penting, seperti mempelajari ilmu, mengobati orang sakit, dan sebagainya, maka dibolehkan tidak segera tidur malam. Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah tidak menyukai tidur sebelum melakukan shalat Isya dan tidak menyukai banyak mengobrol (begadang) sesudah melakukan shalat Isya.

Diterjemahkan dari:

Abdul Malik al-Qasim, Durus al-Am, (Riyadh: Dar al-Qasim, 2000).

20 Tanggapan to “Sunnah-sunnah yang Mulai Ditinggalkan”

  1. kgs m syukri 14 April 2015 pada 08:55 #

    Kenyataannya, apa yang kita lihat kebanyakan sudah seperti itu, itulah dogma-dogma wahabi, gampang mengatakan sirik, bid’ah, khurafat bahkan kafir bagi yang tidak sepaham dengan mereka. Seolah-olah mereka sudah memiliki kunci untuk menuju surga,dan fatwa dari marj’anya sekarang adalah membid’ahkan orang yang bertepuk tangan . wslm

  2. nassya 24 Desember 2014 pada 09:08 #

    Jika menemui perselisihan pendapat, maka kembalilah ke Quran dan Hadits. Jika Quran mengatakan “suara pelan” berarti itu yg diikuti dong…? Berarti yg dimaksud suara keras di tempat lain (hadits atau fatwa) adalah melafalkannya (maksudnya, bukan hanya dibaca di dalam hati).

    Dibaca dengan suara keras = melafalkannya dg bibir, bukan dibaca di dalam hati. Jadi, maksud suara keras itu bukan teriak-teriak hingga mengganggu tetangga.

  3. asswandi bin 21 Desember 2014 pada 23:19 #

    Saya suka dengan smua penjelasannya,lbh mmntapkan iman saya,dr dulu dkmpung sy mmng shbis shlt sprti ini,yg mnylhkan itu smua adalah Salafi(salah filih),muhammadiyah

  4. bagas 19 Maret 2012 pada 09:17 #

    Bang Aziem
    urun rembug aja dan tidak mencari sebuah kemenangan dalam berdebat…

    Dalam suatu hadits disebutkan sebagai berikut: Ada suatu hadits dalam Shahihain dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:

    “Artinya : Dahulu kami mengetahui selesainya shalat pada masa Nabi karena suara dzikir yang keras”.

    Akan tetapi sebagian ulama mencermati dengan teliti perkataan Ibnu ‘Abbas tersebut, mereka menyimpulkan bahwa lafal “Kunnaa” (Kami dahulu), mengandung isyarat halus bahwa perkara ini tidaklah berlangsung terus menerus.

    Berkata Imam Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm bahwasanya Nabi Shallallahu
    ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya ketika berdzikir adalah untuk mengajari orang-orang yang belum bisa melakukannya. Dan jika amalan tersebut untuk hanya pengajaran maka biasanya tidak dilakukan secara terus menerus.

    Ini mengingatkanku akan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang bolehnya imam mengeraskan suara pada bacaan shalat padahal mestinya dibaca perlahan dengan tujuan untuk mengajari orang-orang yang belum bisa.

    Ada sebuah hadits di dalam Shahihain dari Abu Qatadah Al-Anshari bahwa Nabi
    Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu terkadang memperdengarkan kepada para
    shabahat bacaan ayat Al-Qur’an di dalam shalat Dzuhur dan Ashar, dan Umar juga melakukan sunnah ini.

    Imam ASy-Syafi’i menyimpulkan berdasarkan sanad yang shahih bahwa Umar
    pernah men-jahar-kan do’a iftitah untuk mengajari makmum ; yang menyebabkan
    Imam ASy-Syafi’i, Ibnu Taimiyah dan lain-lain berkesimpulan bahwa hadits di atas mengandung maksud pengajaran. Dan syari’at telah menentukan bahwa sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi.

    Walaupun hadits : “Sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi (perlahan)”.
    Sanad-nya Dhaif akan tetapi maknanya ‘shahih’.

    Banyak sekali hadits-hadits shahih yang melarang berdzikir dengan suara yang keras, sebagaimana hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang terdapat dalam Shahihain yang menceritakan perjalanan para shahabat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa berkata : Jika kami menuruni lembah maka kami bertasbih dan jika kami mendaki tempat yang tinggi maka kami bertakbir. Dan kamipun mengeraskan suara-suara dzikir kami. Maka berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib. Sesunguhnya kalian berdo’a kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat dengan kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri”.

    Kejadian ini berlangsung di padang pasir yang tidak mungkin mengganggu siapapun. Lalu bagaimana pendapatmu, jika mengeraskan suara dzikir itu berlangsung dalam masjid yang tentu mengganggu orang yang sedang membaca Al-Qur’an, orang yang ‘masbuq’ dan lain-lain. Jadi dengan alasan mengganggu orang lain inilah kita dilarang mengeraskan suara dzikir.

    Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat (berbisik-bisik) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian men-jahar-kan bacaannya dengan mengganggu sebagian yang lain.

    Al-Baghawi menambahkan dengan sanad yang kuat.

    “Artinya : Sehingga mengganggu kaum mu’minin (yang sedang bermunajat)”.

    [Fatwa-Fatwa AlBani, hal 39-41, Pustaka At-Tauhid]

    Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Al-A’raf [7]: 55).

    Artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Q.s. Al-A’raf [7]: 55).

    Diriwayatkan dari Abu Musa, ia berkata: Kami pernah bersama Nabi saw dalam suatu perjalanan, kemudian orang-orang mengeraskan suara dengan bertakbir. Lalu Nabi saw bersabda: Wahai manusia, rendahkanlah suaramu. Sebab sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada (Tuhan) yang tuli, dan tidak pula jauh, tetapi kamu sedang berdoa kepada (Allah) Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat.” [HR. Muslim, No. 44/2704]

    Ibnu Abbas pernah berkata, ‘Aku tahu tanda selesainya shalat Rasulullah (bersama jamaah) yaitu dengan takbir (yang dibaca dengan keras)’.

    Ibnu Abbas juga berkata, ‘Mengeraskan suara dalam berzikir ketika selesai shalat fardhu sungguh terjadi pada zaman Rasulullah’.

    Ibnu Abbas berkata, ‘Cara aku mengetahui bahwa mereka telah selesai shalat adalah dengan mendengar suara berzikir yang keras itu’.

    MASALAHNYA TINGGI MANAKAH AL QUR`AN DAN SUNNAH…

    Al Qur`an selalu dijaga ALLOH sampai kiamat…….dan hadits bukanlah WAHYU

    Dan tiadalah yang diucapkan oleh Nabi menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

    “Sesungguhnya kami yang menurunkan adz-dzikr dan kami pula yang menjaganya.” (Al-Hijr: 9)
    Dan telah kami turunkan adz-Dzikr (Al-Qur`an) kepadamu agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang kami turunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)

    “Wahai orang-orang yang beriman ja-nganlah kalian mengangkat suara kalian dari suara Nabi, dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian lainnya, supaya tidak terhapus amalan kalian sementara kalian tidak menyadari.” (Al-Hujurat: 2)

    Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullaahu berkata ketika menjelaskan ayat di atas, “Dalam ayat ini Allah subhaanahu wa ta’aalaa memperingatkan kaum muslimin dari terhapusnya amalan-amalan mereka disebabkan mengeraskan suara kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sebagian mereka mengeraskan suara kepada sebagian yang lain.” (Al-Wabilush Shoyyib 1/11, Ta’zhimus Sunnah hal. 22)

    “Aku telah meninggalkan kepada kalian dua hal, jika kalian berpegang dengan keduanya pasti tidak akan tersesat, yaitu kitabullah (Al-Qur`an) dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dan al-Hakim)

    “Ketahuilah sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an dan bersama itu yang semisalnya (As-Sunnah).” (HR. Abu Dawud dan yang selain beliau dari sahabat al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallaahu ‘anhu, dishahihkan Ibnu Hibban, al-Hakim dan asy-Syaikh al-Albani rahimahumullaahu)

    “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir; maknanya kekufuran di bawah kekufuran (yakni kufur kecil).” (HR. Al-Hakim, 2/313, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Al-Imam Adz-Dzahabi, juga dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 6/113)

    jadi pahami dulu Al Qur`an baru Hadits

    • Bang Aziem 10 Mei 2012 pada 16:06 #

      Bang Bagas, insya Allah saya menulis bukan untuk mencari kemenangan, apalagi berdebat, karena biasanya orang yang senang berdebat amalnya kurang dan akhlaq-nya minus, sebab niatnya adalah menjatuhkan lawan. Blog ini saya buat untuk menjembatani pemahaman orang yang tidak seimbang. Saya maklum, zaman sekarang orang belajar Islam bukan dari ulama. Kebanyakan copas, baca buku terjemahan, dan kurang banyak membaca literatur.

      Adapun fatwa yang antum tulis itu bukan sesuatu yang baru buat saya, apalagi fatwa2 yang datang dari Syaikh al-Albani maupun ulama2 Saudi. Saya punya ribuan fatwa dari kalangan mereka. Saya bisa saja meng-counter fatwa tersebut dari ulama lainnya, semisal dari ulama-ulama Mesir, Siria, Yordan, Hadramaut, dsb. Tapi saya tidak mau lakukan itu. Cukuplah bahwa mengeraskan zikir (tapi bukan teriak2) adalah sunnah Rasulullah. Saya sudah tuliskan nama penulisnya, yaitu Syaikh Abdul Malik Qasim, orang Saudi. Bahkan, cover kitab itu juga saya tampilkan dalam tulisan, agar orang lain bisa mengecek kebenaran sumbernya.

      Kalo soal memahami al-Quran, saya sudah sebutkan penafsiran ahli tafsir tentang ayat2 yang di-counter oleh orang2 yang tidak setuju dengan zikir keras. Begitu juga soal penafsiran hadits. Apalagi yang belum saya lakukan? Kita tidak akan bisa memahami al-Quran dan al-Hadits melainkan lewat bantuan dari para pakarnya langsung. Jadi, saran antum bahwa ‘Pahami al-Quran baru Hadits’, itu sudah saya lakukan dan insya Allah akan terus saya lakukan. Namun, saya tidak berani memahami al-Quran dan al-Hadits dengan pikiran saya sendiri. Saya takut kebodohan saya makin menjadi-jadi. Saya lebih memilih belajar memahami al-Quran dan al-Hadits dengan cara duduk di majlis ilmu para ulama, mengambil berkah dari mereka, memperbanyak koleksi rujukan, mendahulukan perkataan mereka dibanding perkataan saya, dan mendahulukan akhlak dibanding bertengkar.

  5. ixesexi 21 November 2011 pada 07:33 #

    …mengeraskan suara saat zikir tidak sejalan dengan Al Araaf 205 ….
    ” Dan sebutlah nama Tuhanmu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai ” …………..

    Ada interprestasi lain ?

    • Bang Aziem 21 November 2011 pada 09:55 #

      Salah satu syubhat dr kelompok yang mengharamkan zikir dan doa dengan suara keras adalah dengan menggunakan Surat al-A’raf: 205. Padahal, ayat ini termasuk ayat Makkiyah (ayat yang turun di Makkah, sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah), seperti ayat lain dalam surat al-Isra: 110. Ayat tersebut turun ketika Rasulullah membaca al-Quran dgn suara yg keras dan orang-orang musyrik Makkah mendengarnya, lalu mereka mencaci al-Quran dan memaki Allah swt yg menurunkan al-Quran. Oleh karena itu, Rasulullah diperintahkan untuk tidak mengeraskan bacaan al-Quran utk menutup jalan bagi orang2 musyrik agar tidak lagi mencaci al-Quran dan Allah swt. Silakan lihat tafsir Ibnu Katsir yang orisinal, bukan yg ringkasan apalagi yg sudah terkena ‘sentuhan dan penghilangan bagian-bagian tertentu’ dari tafsir tersebut oleh kelompok tertentu.
      Jadi, illat ayat di atas adalah krn ada serangan balik dari orang-orang musyrik. Oleh karena itu pula, Allah swt melarang kaum Muslimin ketika itu utk mencaci berhala-berhala mereka agar mereka tidak balik mencaci Allah swt. Perhatikan firman Allah dlm surat al-An’am ayat 108: ‘Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yg mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan’.
      Wallahu a’lam..

  6. ibrahim salim 14 Juni 2011 pada 10:26 #

    Keenam, mengeraskan zikir setelah shalat, minta referensi mengenai hal ini tadz…..terutama landasan shahihnya untuk ana sebarkan. syukron.

    • Bang Aziem 7 Juli 2011 pada 21:00 #

      Banyak hadits yang menyatakan kesunnahan mengeraskan zikir setelah shalat. Di antaranya adalah tiga hadits berikut yang disepakati keshahihannya oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

      Ibnu Abbas pernah berkata, ‘Aku tahu tanda selesainya shalat Rasulullah (bersama jamaah) yaitu dengan takbir (yang dibaca dengan keras)’.

      Ibnu Abbas juga berkata, ‘Mengeraskan suara dalam berzikir ketika selesai shalat fardhu sungguh terjadi pada zaman Rasulullah’.

      Ibnu Abbas berkata, ‘Cara aku mengetahui bahwa mereka telah selesai shalat adalah dengan mendengar suara berzikir yang keras itu’.

      Ketika menjelaskan hadits ini, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari mengatakan: ‘Hadits ini mengandung dalil bolehnya berzikir dengan suara yang keras selesai shalat’.

      • udin 9 Januari 2012 pada 23:55 #

        saya setuju dengan bang aziem,
        kenapa orang berzikir dengan suara keras pun di tanyain dalilnya,, begini, begitu, kita kan bukannya menjerit,, serasa mereka sudah merasa paling benar, jangan2 mereka tidak berzikir sama sekali, jadi ingat hadits at-Tabrani yg berbunyi kira2: “orang yang tidak berzikir setelah sholat tidak ada ubahnya seperti kera”

        buat kelompok yang merasa benar namun jahil, nih ayat yang cocok untuk kalian, “Dan apabila mereka (orang2 beriman) mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka menyikapinya sambil berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” Surat Al-Qashash: 55.

  7. Wan Omar Fathil Wan Hussin 10 Februari 2011 pada 10:42 #

    Assalamualaikum Ustaz, saya dari Malaysia mengucapkan ribuan terimakasih di atas keperihatinan Ustaz untuk meneruskan perjuangan diatas landasan Agama Islam. Doakan semoga saya dan saudara saudara seperjuangan saya semua di berkati oleh Allah s.w.t.

    • Bang Aziem 10 Februari 2011 pada 14:09 #

      Wa alaykumussalam wa rahmatullah, akhi Wan Omar. Terimakasih sudah silaturrahim. Kita saling mendoakan, menguatkan, dan memberi dukungan untuk menampilkan wajah Islam yang sejuk, tasamuh, dan rahmatan lil alamin. Semoga keberkahan Allah swt. senantiasa tercurah untuk antum dan saudara-saudara seperjuangan di Malaysia.

  8. nonotaryono 20 Januari 2011 pada 18:05 #

    Assalamu’alaikum, Af1 ustadz, itu orang
    yg mengaku salafi, katanya bidah mengeraskan suara
    setelah sholat berjamaah wajib (pada waktu dzikir).
    Karena di masjid ana juga dikeraskan.
    Mohon komentarnya, biar ana di masjid tetap dikeraskan
    rame2 bersama2.
    Syukron

    • Bang Aziem 21 Januari 2011 pada 09:09 #

      Wa alaykumussalam wa rahmatullah…
      Hehehehhe… Praktik yang shahih adalah dengan mengeraskannya, sebagaimana yg ditunjukkan oleh hadits di atas, yg memang sudah berlaku sejak zaman Rasul. Rujukan yg saya pakai adalah buku Salafi (Wahhabi) sebagaimana saya upload dalam tulisan di atas. Jadi, bilang aja sama mereka yang anti mengeraskan zikir setelah shalat, ‘Kok Salafi makan Salafi’? Katanya ingin menghidupkan sunnah Rasulullah, kok malah meninggalkannya?’🙂

  9. anang nurcahyo 17 Januari 2011 pada 22:35 #

    terima kasih telah mengingatkan. evaaluasi besar buat saya karna ternyata banyak yang mulai ditinggalkan..

    • Bang Aziem 18 Januari 2011 pada 15:45 #

      terimakasih telah silaturrahim, saudaraku… sama-sama mengingatkan…

  10. abizakii 14 Januari 2011 pada 15:00 #

    Assalamu a’laikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Alhamdulillah ,Terimakasih Pak ustad Aziem atas ilmunya. Semoga Allah menbalas segala kebaikan2 ustad dg hal yg jauh lebih baik..AMinn..
    kalau boleh saran teks arab do’a2 tersebut juga di tulis,mngkn ada pengunjung yg mau menghapal do’a2 tsb🙂

    Tapi mgnkn agak susah juga nulisnya di blog ya?

    Wassalamu a’alaikum

    • Bang Aziem 14 Januari 2011 pada 15:48 #

      Wa alaykumussalam wa rahmatullah wa barakatuh, ya Aba Zaki…
      Sebetulnya sih enggak susah nulis teks arab di blog, cuma hasilnya kurang indah, karena WordPress tdk punya font arab yang bagus, hehehe… sebagai contoh pada tulisan yg berjudul Doa dan Zikir Penguat Ingatan. Mungkin solusinya adl teks arab di-scan, lalu di-upload ke tulisan, hehehe… Nah, yg ini sedikit makan waktu, hehehe… Lain kali akan saya usahakan, insya Allah.

      Jazakallah ahsanal jaza, ya akhi…

      • abizakii 14 Januari 2011 pada 17:46 #

        Assalamu alaikum,pak Ustadz,saya sudah buka link Doa dan Zikir Penguat Ingatan diatas.
        kalau masalah huruf yg kecil itu ada solusinya tinggal diperbesar saja dan gunakan rata kanan tolbar2 ini sudah disedikan wordpress.
        pada saat kita menulis postingan baru dibagian atas ada toolbar dg tulisan Paragraf yg ada panah arah kebawah tinggal di klik saja disitu ada pilihan ukuran huruf2 nya.kita tinggal drag saja huruf yg akan diperbesar.dan klik panah paragraf tsb pilih penajukan 2 atau penajukan 3.itu sebatas yg saya tahu saya juga udh nyoba bbrp kali.atau mgkn beda temanya beda lagi.
        Mhn maaf kalau ada kata2 yg salah🙂
        wassalamu a’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

      • Bang Aziem 14 Januari 2011 pada 22:36 #

        Wa alaykumussalam, Ustadz…
        Bener kok memang ada pilihan itu, sehingga bisa diperbesar🙂. Sayangnya, WP tdk menyediakan font Arabic yg indah, yg enak dibaca. Font Arabic yg ada masih standar, dan terlihat kaku. Ini yg saya maksud.
        Kalo saran dari antum pasti tokcer🙂🙂
        Jazakallah, Ustadz…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: