Arsip | April, 2010

Dahsyatnya Doa Nabi Musa

29 Apr

Dalam catatan sebelumnya, saya pernah menulis tentang Dahsyatnya Doa Nabi Yunus. Kali ini saya akan menulis tentang dahsyatnya doa Nabi Musa alayhissalam.

Suatu hari, Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya, ‘Maukah kalian aku beritahu tentang ucapan yang diucapkan Musa alayhissalam ketika beliau menyeberangi laut bersama kaumnya, Bani Israil?’

Para sahabat menjawab, ‘Tentu saja kami mau, wahai Rasulullah’

Rasulullah berkata, ‘Nabi Musa berdoa: Allahumma laka al-hamdu, wa ilayka al-musytaka, wa anta al-musta’an, wa la hawla wa la quwwata illa billah al-‘aliyy al-azhim’.

Itulah doa yang diucapkan Nabi Musa ketika ia sampai di pinggir laut Merah karena dikejar-kejar tentara Firaun. Allah mengabulkan doanya dengan memerintahkan Musa untuk mengetukkan tongkatnya ke air laut. Seketika, laut terbelah menjadi daratan. Musa beserta kaumnya melintasi lautan yang berubah menjadi daratan itu. Firaun dan tentaranya juga mengikutinya dari belakang. Ketika Musa dan seluruh kaumnya berhasil melintasi lautan itu, maka Allah kembali menutup laut itu dengan air. Maka, tenggelamlah Firaun dan tentaranya.

Anggap saja kita berada di posisi Nabi Musa dan kaumnya itu. Kita tidak bisa keluar dari kejaran musuh. Yang ada hanyalah hamparan lautan. Tidak ada alat apapun yang dapat membawa kita menyeberangi lautan itu. Betapa mencekamnya suasana hati kita saat itu. Apa yang dialami Musa dan kaumnya juga kita alami dalam bentuk masalah yang lain. Namun, apapun masalah itu, Allah senantiasa memberi pertolongan kepada orang-orang beriman.

Allahumma laka al-hamdu… ya Allah, segala puji bagi-Mu

wa ilayka al-musytaka… hanya kepada Engkau-lah tempat mencurahkan segala isi hati

wa anta al-musta’an… dan Engkau adalah Sang Penolong

wa la hawla wa la quwwata illa billah al-aliyy al-azhim… dan tidak ada daya dan kekuatan apa pun jua selain daya dan kekuatan yang datangnya dari Engkau, Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Bacalah doa itu dengan hati khusyu’ dan merasa kecil di hadapan Allah swt., niscaya Allah akan mengeluarkan kita dari belenggu kesulitan hidup.

Iklan

Inilah Bidadari Surga yang Anda Rindukan

20 Apr

Jika Anda bertanya tentang bidadari dan istri penghuni surga, maka mereka adalah adalah wanita-wanita yang montok payudaranya dan umurnya sebaya. Darah muda mengalir dalam tubuh mereka. Pipinya seperti bunga mawar dan buah apel. Payudaranya seperti buah delima. Gigi-giginya seperti mutiara yang tersusun rapi. Pinggangnya halus dan mulus. Matahari langsung terbenam jika mereka menampakkan wajahnya yang molek. Kilat bercahaya ketika mereka tersenyum. Jika mereka berbicara kepada suaminya, maka seperti dua sejoli yang sedang memadu kasih. Jika dirangkul, maka seperti rangkulan dua ranting pohon. Wajah suaminya dapat dilihat dari pipinya sebagaimana wajah bisa dilihat dari kaca cermin yang putih bersih.

Sumsum tulang betisnya dapat dilihat dari luar. Keindahan tulang sumsumnya tidak tertutup oleh kulitnya, tulangnya, dan pakaiannya. Kalau saja mereka menampakkan diri di dunia, niscaya aroma tubuhnya memenuhi langit dan bumi. Jika mereka membaca tahlil, takbir, dan tasbih, maka semua yang ada di langit dan bumi menjadi indah, semua mata tidak akan mau melihat yang lain selain mereka, dan sinar mentari menjadi redup seperti mentari meredupkan cahaya bintang-bintang. Kerudungnya lebih baik dibanding dunia dan seisinya. Semakin bertambah usia mereka, maka mereka semakin cantik.

Mereka terbebas dari mengeluarkan dahak, ludah, kencing, tinja, dan semua kotoran. Pakaian mereka senantiasa baru dan kecantikan mereka tidak memudar. Mereka hanya memandang suaminya dan tidak tertarik melihat pria lain selain suaminya. Suaminya pun begitu. Ia hanya mau memandangi mereka. Jika suaminya memandangnya, maka ia menyenangkan suaminya. Jika suaminya memerintah sesuatu, ia pun menaati perintahnya. Jika suaminya pergi, maka ia menjaga kehormatan dirinya. Ia tidak pernah disentuh oleh manusia dan jin. Setiap kali suaminya memandangnya, maka ia memenuhi hati suaminya dengan kebahagiaan. Jika ia menampakkan diri, maka istana dan kamar-kamar (ghuraf) penuh dengan cahaya.

Jika Anda bertanya tentang payudara mereka, maka payudaranya lebih halus dari buah delima. Jika Anda bertanya tentang warna kulit mereka, maka mereka laksana mutiara yaqut dan marjan. Jika Anda bertanya tentang akhlak mereka, maka mereka adalah wanita yang baik akhlaknya dan cantik rupanya. Mereka diberikan kecantikan dalam dan luar. Mereka membahagiakan hati dan menyejukkan mata.

Jika ia berbicara kepada suaminya, maka langkah indah nada bicaranya. Jika ia menggandeng tangan suaminya, maka alangkah enaknya rangkulannnya dan gandengannya.

Jika ia bernyanyi, maka mata dan telinga akan terpuaskan. Jika ia menghibur, maka alangkah baik cara menghiburnya. Jika ia mencium, maka tidak ada ciuman yang lebih mesra dan hangat dibanding ciumannya. Jika ia memberi sesuatu, maka tidak ada pemberian yang lebih baik dari pemberiannya.

Begitulah…

 

Sumber: Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Hadi al-Arwah ila Bilad al-Afrah (Makkah: Maktabah Nizar Musthafa al-Baz, 2000), hlm. 253-254

Sabar dan Sukses adalah Dua Sahabat Lama

14 Apr

Suatu kali Imam as-Syafii rahimahullah ditanya, ‘Wahai Abu Abdillah, mana yang lebih utama bagi seseorang: dia diberi kedudukan lalu bersyukur atau dia diuji lalu bersabar?’

Imam as-Syafii menjawab, ‘Seseorang tidak akan diberi kedudukan sampai dia diuji. Sesungguhnya Allah telah menguji Nuh, Ibrahim, Muhammad shalawatullah alayhim ajma‘in. Di saat mereka bersabar, maka Allah memberi kedudukan kepada mereka. Oleh karena itu, janganlah seseorang menyangka bahwa ia akan bebas dari penderitaan selama hidupnya’.

Ya, para Nabi dan Rasul adalah orang-orang yang paling banyak diuji. Nabi Nuh pernah dipukuli oleh kaumnya sampai pingsan, lalu dibiarkan tergeletak sendirian di pinggir jalan. Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Nabi Yusuf dimasukkan ke dalam sumur tua oleh saudara-saudaranya sendiri dan dimasukkan penjara karena fitnah wanita. Nabi Ya‘qub kehilangan putranya (Yusuf) dan penglihatannya. Nabi Ayyub ditimpa penyakit bertahun-tahun. Nabi Musa dikejar-kejar tentara Firaun yang ingin membunuhnya. Dan seterusnya.

Dengan kesabaran yang baik, akhirnya para Nabi dan Rasul berhasil mengatasi segala persoalan yang menghadangnya. Para rasul yang paling berat ujiannya adalah: Nabi Nuh, Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Karena beratnya ujian mereka, maka Allah menamai mereka dengan Ulul Azmi (yang memiliki keteguhan menghadapi cobaan dari kaumnya).

Kita sering mengucapkan dan mendengar kata sabar. Kata ‘sabar’ sudah melekat dalam hidup kita sehari-hari. Secara bahasa, sabar artinya ‘menahan diri’. Dalam al-Quran, lebih dari 70 kali Allah menyebut masalah sabar. Allah swt. memerintahkan kita sabar dalam melakukan ketaatan, sabar dalam menghindari maksiat, dan sabar dalam menghadapi persoalan hidup. 

Sabar dan sukses adalah dua sahabat lama. Jika si Sabar berjalan di depan, maka si Sukses akan mengiringinya dari belakang.

Berbuat Baik kepada Orangtua yang Berbeda Agama

13 Apr

Saad bin Abi Waqash masuk Islam. Namun, ibunya yang masih musyrik tidak setuju dengan pilihan Saad. Ibunya berusaha menggoyahkan pilihannya, agar ia kembali kepada agamanya semula. Ibunya tahu bahwa selama ini Saad adalah anak yang berbakti kepada orangtua dan Saad sangat lembut perasaannya.

Ibunya mulai merayu, ‘Wahai anakku Saad, agama apa yang kau peluk itu? Akibat tindakanmu itu, sekarang kau harus pilih: tinggalkan agama itu atau Ibu mogok makan dan minum sampai mati, sehingga hatimu diliputi kesedihan dengan kepergianku dan engkau menyesali tindakanmu itu’.

Dengan santun, Saad menjawab, ‘Jangan lakukan itu, Ibu. Bagaimanapun juga, aku tidak akan meninggalkan agama baruku’.

Sehari semalam ibunya mogok makan-minum. Pada hari ketiga, kondisi ibunya sudah payah. Lalu Saad berkata, ‘Ya ummah, inni ala syadidi hubbi laki, la asyaddu hubban lillahi wa rasulihi.. wa wallahi, law kana laki alfu nafsin fa kharajat minki nafsan ba‘da nafsin ma taraktu dini hadza li syay‘in — Wahai Ibu, sungguh aku cinta padamu. Namun cintaku kepada Allah dan rasul-Nya lebih besar lagi. Demi Allah, meskipun Ibu punya seribu nyawa yang keluar satu persatu, aku tetap  tidak akan meninggalkan agamaku ini dengan apapun juga’.

Melihat kuatnya tekad Saad, Ibunya akhirnya mengalah. Ia akhirnya kembali makan dan minum.

Karena peristiwa ini, turunlah wahyu kepada Rasulullah saw., ‘Jika kedua orangtuamu memaksamu untuk berbuat syirik kepada-Ku dengan sesuatu yang kau sendiri tidak tahu, maka jangan kau turuti ajakan mereka dan pergaulilah mereka berdua di dunia ini dengan ma‘ruf’ (al-Quran, surat Luqman ayat 15)

Begitulah. Islam memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik kepada orangtua kita, meskipun mereka berbeda agama. Satu saja yang tidak bisa ditolerir, yaitu manakala mereka mengajak kita kepada kekufuran, maka kita wajib tidak taat padanya. Kita juga boleh mendoakan mereka dengan kebaikan, asal tidak memohonkan ampun untuk mereka. Islam melarang kita untuk memohonkan ampun untuk orang non-Muslim. Selain dari itu, kita tetap diperintahkan berlaku ma‘ruf kepada keduanya. Secara bahasa, ma‘ruf artinya ‘diketahui’. Secara istilah, artinya ‘tindakan kebaikan yang sudah diketahui atau dimaklumi oleh masing-masing pihak’. Jadi, berbuat ma‘ruf artinya melakukan kebaikan yang kondisional, sesuai dengan tempat, keadaan, dan orangnya. Makanya, tradisi atau kebiasaan di suatu daerah disebut Urf, seakar kata dengan ma‘ruf. Tentu saja, urf satu daerah dengan daerah lain tidak selalu sama, bukan?

Jadi, berbuat baik kepada orangtua yang berbeda agama adalah berdasarkan yang ma‘ruf, berdasarkan kepantasan.

Akhlak Rasulullah saw. terhadap Musuh

11 Apr

Shofwan bin Umayyah adalah seorang yang memusuhi Rasululullah saw. Bapaknya, Ummayyah, juga memusuhi Rasulullah. Jadi, komplit sudah. Anak dan bapak sama-sama memusuhi Rasulullah.

Ketika Rasulullah memasuki Makkah dalam peristiwa Fath Makkah (Penaklukkan kota Makkah), banyak orang-orang Quraisy yang merasa ketakutan, bahkan tidak sedikit yang melarikan diri. Mereka takut kalau Rasulullah akan balas dendam atas perbuatan mereka selama ini. Di antara yang melarikan diri adalah Shofwan. Ia pergi menuju Jeddah. Dari Jeddah ia berencana menuju Yaman, dengan menyeberangi lautan. Shofwan merasa bahwa lebih baik ia mati di tengah lautan daripada mati di tangan Rasulullah. Padahal, Rasulullah memaafkan semua orang-orang yang sejak lama memusuhinya. Bahkan, Rasulullah memberi mereka hadiah-hadiah.

Shofwan tetap bersikeras dengan keinginannya. Maka, berangkatlah ia menuju Jeddah.

Pada saat yang sama, Umayr bin Wahb datang kepada Rasulullah. Umayr berkata, ‘Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shofwan sudah melarikan diri darimu. Saat ini ia akan menyeberangi lautan dan ia akan bunuh diri di sana. Maka, berilah ia jaminan keamanan’.

Rasulullah berkata, ‘Dia akan aman’. Umayr berkata, ‘Wahai Rasulullah, berikan padaku tanda jaminan keamananmu’. Maka, Rasulullah memberikan imamah (sorban yang melilit di kepala) yang dipakainya saat itu.

Maka, berangkatlah Umayr menuju Jeddah, menyusul Shofwan. Umayr berhasil menemukan Shofwan, yang saat itu akan menaiki kapal. Lalu Umayr berkata, ‘Wahai Sofyan, demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya. Ingatlah dirimu. Jangan kau celakakan dirimu sendiri! Aku datang kepadamu dengan membawa jaminan kemananan dari Rasulullah’. Umayr menunjukkan sorban Rasulullah kepada Shofwan.

Shofwan berkata, ‘Tapi aku kuatir dengan keselamatan diriku’. Umayr berkata, ‘Dia (Rasulullah) lebih lembut dan mulia dari yang kau kira’. Shofwan membatalkan niatnya naik kapal. Lalu, bersama Umayr ia kembali ke Makkah, mendatangi Rasulullah.

Sesampainya di hadapan Rasulullah, Shofwan berkata, ‘Inikah orang yang telah engkau berikan jaminan kemananan?’ Rasulullah menjawab, ‘Benar’. Shofwan berkata, ‘Kalau begitu, beri aku waktu 2 bulan untuk menentukan sikap (apakah masuk Islam atau tidak)’.

Rasulullah menjawab, ‘Engkau aku beri waktu 4 bulan’.

Subhanallah… Begitulah akhlak Rasulullah terhadap musuh-musuhnya.

Rasululullah tidak menekan Shofwan untuk mengambil keputusan dengan cepat, namun memberinya waktu lebih lama dari yang ia minta.

Rasulullah tidak eforia dengan kemenangannya. Rasulullah tidak memanfaatkan posisinya yang ‘di atas angin’ untuk membalas perlakuan buruk para musuhnya.

Rasulullah begitu lembut hatinya dan begitu sempurna pemaafannya.

I miss you, duhai Rasulullah…