Tag Archives: syukur

Gara-gara Ayam Bakar

14 Mei

Ini hanyalah catatan iseng-iseng. Isinya juga sepele dan kurang greget untuk dibaca. Namun, bukankah kita seringkali jatuh terjerembab karena persoalan sepele? Bukankah kita lebih sering tersandung batu kecil ketimbang batu besar?

Ibnu Khallikan dalam Tarikh-nya, sebagaimana dikutip juga oleh ad-Damiri dalam Hayat al-Hayawan, menceritakan tentang seorang laki-laki yang sedang menikmati makan siangnya. Hari itu menu makannya adalah ayam bakar (dajajah masywiyyah). Ketika ia sedang menyantap makanannya, datanglah seorang pengemis. Merasa diganggu makan siangnya, laki-laki itu mengusirnya, karena laki-laki itu begitu berhasrat dengan ayam bakar itu.

Entah mengapa, tak lama kemudian ia bercerai dengan istrinya. Bukan hanya itu, hartanya juga ikut habis.

Lalu mantan istrinya menikah lagi dengan laki-laki lain. Suatu hari, suami wanita ini (yang kedua) sedang menikmati makan siang. Di hadapannya tersedia ayam bakar. Saat itu, datanglah seorang pengemis mengetuk pintu rumahnya. Sang suami berkata kepada istrinya, ‘Berikan ia ayam bakar ini’. Maka, istrinya membawakan ayam bakar itu kepada pengemis. Setelah diperhatikan, ternyata pengemis itu adalah mantan suaminya dulu (yang pertama). Setelah wanita itu memberikan ayam bakar kepada pengemis, ia masuk ke dalam dan menceritakan hal ihwal pengemis itu kepada suaminya (yang kedua).

Pengemis itu berkata kepada mereka, ‘Demi Allah, sekarang aku orang miskin. Allah telah mencabut nikmat-Nya dariku dan membelenggu diriku dengan kemiskinan, lantaran sedikit syukurku atas nikmat-nikmat-Nya’.

Begitulah.

Saudaraku, jangan tangisi yang hilang dan jangan panjang angan-angan. Syukurilah yang ada, niscaya Anda akan menjadi orang yang kaya. Jangan biarkan diri Anda menjadi pengemis di kemudian hari.

Benarlah kata Allah, ‘Barangsiapa yang bersyukur kepada-Ku, niscaya Aku tambahkan nikmat-Ku kepadanya. Sebaliknya, siapa yang tidak bersyukur, maka ketahuilah akibatnya bahwa azab-Ku sangat pedih’ (al-Quran, surat Ibrahim/14: 7)

Iklan

Obat Hati

15 Mar

Kata Sayyiduna Ali radhiyallahu anhu, ‘Orang beriman itu, jika memandang suatu hal atau peristiwa, maka ia mengambil pelajaran. Jika diam, ia merenung (tafakur). Jika berbicara, maka bicaranya menggugah dan mengingatkan orang. Jika ditimpa musibah, ia bersabar. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur’.

Kata Hatim al-Asham rahimahullah, ‘Tanda orang beriman adalah melakukan ketaatan sambil menangis, sedangkan tanda orang munafik adalah meninggalkan amal sambil tertawa’.

Kata Fudhayl bin Iyadh rahimahullah, ‘Orang beriman itu seperti orang yang menanam bibit kurma dan ia takut kalau-kalau yang tumbuh adalah semak dan duri. Sedangkan orang munafik seperti orang yang menanam bibit duri dan ia berharap akan berbuah kurma’.

Kata Wahb bin Munabbih rahimahullah, ‘Siapa saja yang mencari dunia dengan amalan akhirat, maka Allah swt. akan menjungkirbalikkan hatinya dan mencatat nama-Nya dalam daftar ahli neraka’.

Kata Syaikh Abul Hasan as-Sadzili rahimahullah, ‘Dunia adalah anak perempuannya Iblis. Siapa saja yang ingin melamarnya, pastilah ia mondar-mandir datang kepada bapaknya. Jika ia sudah masuk ke dalamnya, maka ia akan berikan segala yang ia punya’.

Kata Abu Najih rahimahullah, ‘Jika orang beriman tidak melakukan maksiat kepada Tuhan-nya, niscaya ketika ia bersumpah atas nama Allah untuk menghilangkan gunung, maka pastilah sumpahnya itu dikabulkan Allah’

Kata Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad rahimahullah, ‘Barangsiapa yang memandang dirinya dengan pandangan kemuliaan sementara ia memandang orang lain dengan pandangan kehinaan, maka ia termasuk orang sombong’

Karakter Orang yang Percaya dengan Qadha Allah swt.

14 Mar

Percaya kepada qadha (ketentuan) Allah swt. adalah salah satu rukun iman. Dengan beriman kepada qadha Allah maka kita akan memiliki karakter sebagai berikut.

Pertama, merasa ridha dengan apa yang terjadi terhadap diri kita, karena semuanya itu adalah kehendak Allah. Bisa jadi, apa yang tidak baik menurut pandangan kita, justru membawa kebaikan untuk kita. Begitu pula sebaliknya. Allah lebih tahu apa yang baik dan buruk untuk diri kita.

Allah berfirman, ‘… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia membawa kebaikan untukmu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia membawa keburukan untukmu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui’. (Q.s. al-Baqarah/2: 216)

Oleh karena itu, orang yang beriman kepada qadha Allah, maka ia akan bersabar ketika ditimpa musibah, dan bersyukur ketika diberi nikmat. Begitulah karakter orang beriman.

Menurut pengakuan Shuhaib radhiyallahu anhu Rasulullah saw. pernah bersabda, ‘Sungguh fantastis kehidupan orang beriman, karena seluruh urusannya membawa kebaikan. Tidak ada orang yang seperti itu kecuali orang beriman. Jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar, maka yang demikian itu membawa kebaikan baginya. Jika ia mendapatkan nikmat, ia bersyukur, maka yang demikian itu membawa kebaikan baginya’. (Hadits, riwayat Muslim)

Kedua, tidak merasa dengki dengan orang yang diberi nikmat. Orang yang beriman kepada qadha Allah percaya bahwa rizki datang dari-Nya dan Ia memberi kadar rizki yang berbeda untuk setiap makhluknya.

Ketiga, memiliki jiwa yang mulia dan hati yang qana‘ah (merasa-cukup)

Keempat, menyerahkan segala urusan-hidup kepada Allah dengan lapang dada dan hati yang senang

Kelima, bersungguh-sungguh dalam berusaha tanpa dihinggapi rasa lemah dan malas. Semua ini dilakukan untuk mengikuti tuntunan Rasulullah, di mana beliau bersabda, ‘Bersungguh-sungguhlah melakukan sesuatu yang mendatangkan manfaat untuk diri kalian, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kalian lemah. Jika kalian ditimpa sesuatu yang kurang menggembirakan, janganlah kalian berkata, ‘Kalau saja aku melakukan begini, pasti hasilnya juga begini’. Namun, katakanlah, ‘Allah sudah menakdirkannya dan menghendakinya’. (Hadits, riwayat Muslim)

Keenam, memiliki cita-cita yang kuat dan pantang menyerah. Muslim adalah orang yang tahan banting. Baginya, hidup adalah perjuangan.

Kicauan Burung di Pinggir Jalan Pasar Jatinegara

17 Feb

Di antara kerumunan orang yang menyalami saya, seorang lelaki tua menghampiri saya. Dia memberi salam, lalu mencium tangan saya. Saya rasakan keikhlasannya di saat ia mencium tangan saya bolak-balik. Saya lihat matanya mengembang, menahan jatuhnya air mata. Saya tersenyum padanya sambil mengusap-usap pundaknya. Ia begitu senang dengan keramahan saya, dan kembali mencium tangan saya.

‘Pak Ustadz, saya minta waktu sebentar’, begitu kata laki-laki tua itu ketika saya bersiap membuka pintu mobil, meninggalkan majlis akad nikah.

‘Oya, silakan, Pak’, jawab saya. 

‘Saya terkesan dengan ceramah Pak Ustadz tadi, apalagi kisah penutupnya. Mudah-mudahan Pak Ustadz selalu dalam lindungan Allah swt.’, kata laki-laki tua itu. Saya mengaminkan apa yang dikatakannya.

Entah sudah berapa kali saya diminta berceramah di acara akad nikah, dan acara-acara lainnya, di hadapan audiens yang beragam. Di setiap akhir ceramah, biasanya saya menutupnya dengan kisah. Kisah yang baik dapat menembus kerasnya hati. Dengan berkisah, sebenarnya saya tidak ingin menceramahi, menasihati, apalagi mencaci orang lain. Dengan berkisah, orang lain tanpa sadar sudah membuka hatinya. Inilah yang disukai manusia. Dan ini pula yang diperintahkan Allah swt. kepada para rasul-Nya dalam mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Dengan berkisah, sebenarnya saya menutupi kelemahan saya, yaitu ketiadaan ilmu yang memadai.

Kembali ke laki-laki tua tadi. Dia tersentuh dengan kisah saya bahwa rumahtangga SAMARATA (sakinah, mawaddah, rahmah, dan takwa) perlu diisi dengan rasa syukur, sabar, dan canda-tawa.

Ceritanya, ada sepasang suami istri yang sudah lama berumah tangga. Sang suami, wajahnya pas-pasan, dengan penghasilan yang pas-pasan pula. Sedangkan sang istri, cantik mempesona. Bagai langit dan bumi perbedaan keduanya. Namun, perbedaan itu tidak membuat mereka terbelah, karena ada rasa syukur, sabar, humor dalam rumah tangga mereka.

Sang istri yang cantik berkata kepada suaminya, ‘Bang, sungguh aku berharap kita sama-sama bisa masuk surga’.

Suaminya berkata, ‘Kok bisa begitu?’

Sambil tersenyum kecil dan bercanda, istrinya berkata, ‘Abang sudah diberikan Allah istri yang cantik seperti saya, dan Abang bersyukur. Saya sudah diberikan Allah suami yang wajahnya dan penghasilannya ala kadarnya seperti Abang, dan saya bersabar. Kata Allah, orang yang bersyukur dan bersabar bakal masuk surga. Bener kan, Bang?’

Mendengar perkataan istrinya, sang suami mencium kening istrinya. Rasanya ia bangga punya istri seperti itu.

Itulah kisah penutup saya dalam ceramah tadi. Laki-laki tua itu tersentuh dengan kisah ini. Saya lihat para Kyai senior yang hadir di acara itu juga ikut mengangguk-anggukkan kepala mendengar kisah itu, karena saya menyampaikannya dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Mereka tidak tahu, sebenarnya saya hanyalah burung kecil yang dijual di pinggir jalan Pasar Jatinegara. Bisanya hanya berKICAU. Kadangkala kicauan itu tidak enak didengar telinga karena iramanya KACAU.

Di balik kicauan yang kacau, paling tidak sang burung ingin menitip pesan bahwa ‘syukur, sabar, dan humor yang fresh merupakan tiga bumbu yang menyeimbangkan citarasa masakan yang bernama rumahtangga dan kehidupan’.

Begitulah…