Kicauan Burung di Pinggir Jalan Pasar Jatinegara

17 Feb

Di antara kerumunan orang yang menyalami saya, seorang lelaki tua menghampiri saya. Dia memberi salam, lalu mencium tangan saya. Saya rasakan keikhlasannya di saat ia mencium tangan saya bolak-balik. Saya lihat matanya mengembang, menahan jatuhnya air mata. Saya tersenyum padanya sambil mengusap-usap pundaknya. Ia begitu senang dengan keramahan saya, dan kembali mencium tangan saya.

‘Pak Ustadz, saya minta waktu sebentar’, begitu kata laki-laki tua itu ketika saya bersiap membuka pintu mobil, meninggalkan majlis akad nikah.

‘Oya, silakan, Pak’, jawab saya. 

‘Saya terkesan dengan ceramah Pak Ustadz tadi, apalagi kisah penutupnya. Mudah-mudahan Pak Ustadz selalu dalam lindungan Allah swt.’, kata laki-laki tua itu. Saya mengaminkan apa yang dikatakannya.

Entah sudah berapa kali saya diminta berceramah di acara akad nikah, dan acara-acara lainnya, di hadapan audiens yang beragam. Di setiap akhir ceramah, biasanya saya menutupnya dengan kisah. Kisah yang baik dapat menembus kerasnya hati. Dengan berkisah, sebenarnya saya tidak ingin menceramahi, menasihati, apalagi mencaci orang lain. Dengan berkisah, orang lain tanpa sadar sudah membuka hatinya. Inilah yang disukai manusia. Dan ini pula yang diperintahkan Allah swt. kepada para rasul-Nya dalam mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Dengan berkisah, sebenarnya saya menutupi kelemahan saya, yaitu ketiadaan ilmu yang memadai.

Kembali ke laki-laki tua tadi. Dia tersentuh dengan kisah saya bahwa rumahtangga SAMARATA (sakinah, mawaddah, rahmah, dan takwa) perlu diisi dengan rasa syukur, sabar, dan canda-tawa.

Ceritanya, ada sepasang suami istri yang sudah lama berumah tangga. Sang suami, wajahnya pas-pasan, dengan penghasilan yang pas-pasan pula. Sedangkan sang istri, cantik mempesona. Bagai langit dan bumi perbedaan keduanya. Namun, perbedaan itu tidak membuat mereka terbelah, karena ada rasa syukur, sabar, humor dalam rumah tangga mereka.

Sang istri yang cantik berkata kepada suaminya, ‘Bang, sungguh aku berharap kita sama-sama bisa masuk surga’.

Suaminya berkata, ‘Kok bisa begitu?’

Sambil tersenyum kecil dan bercanda, istrinya berkata, ‘Abang sudah diberikan Allah istri yang cantik seperti saya, dan Abang bersyukur. Saya sudah diberikan Allah suami yang wajahnya dan penghasilannya ala kadarnya seperti Abang, dan saya bersabar. Kata Allah, orang yang bersyukur dan bersabar bakal masuk surga. Bener kan, Bang?’

Mendengar perkataan istrinya, sang suami mencium kening istrinya. Rasanya ia bangga punya istri seperti itu.

Itulah kisah penutup saya dalam ceramah tadi. Laki-laki tua itu tersentuh dengan kisah ini. Saya lihat para Kyai senior yang hadir di acara itu juga ikut mengangguk-anggukkan kepala mendengar kisah itu, karena saya menyampaikannya dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. Mereka tidak tahu, sebenarnya saya hanyalah burung kecil yang dijual di pinggir jalan Pasar Jatinegara. Bisanya hanya berKICAU. Kadangkala kicauan itu tidak enak didengar telinga karena iramanya KACAU.

Di balik kicauan yang kacau, paling tidak sang burung ingin menitip pesan bahwa ‘syukur, sabar, dan humor yang fresh merupakan tiga bumbu yang menyeimbangkan citarasa masakan yang bernama rumahtangga dan kehidupan’.

Begitulah…

Satu Tanggapan to “Kicauan Burung di Pinggir Jalan Pasar Jatinegara”

  1. zakilukmanhakim 19 Februari 2010 pada 10:20 #

    Lucu namun bermakna dalam… senang bisa kenal dengan Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: