Bukan Hanya Tiga Amal yang Terus Mengalir Ketika Mati

16 Sep

syarh_shudrKita sering mendengar  para muballigh atau penceramah yang mengatakan bahwa tidak ada lagi amal yang bermanfaat bagi seseorang setelah kematiannya, kecuali tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang mendoakannya. Hal ini berdasarkan hadits berikut,

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا مات الإنسانُ انقطعَ عملُه إلا من ثلاثٍ: صدقةٍ جاريةٍ، أو علمٍ يُنْتفعُ بهِ، أو ولدٍ يدعو له (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Hurayrah, bahwa Rasulullah bersabda, ‘Jika manusia mati maka terputuslah amalnya, kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang mendoakannya’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Padahal, hadits tersebut hanyalah sekedar menyebut jumlah, tidak bermaksud membatasi hanya pada tiga amal tersebut. Dalam hadits-hadits lain, kita akan temukan bahwa selain tiga amal tersebut, masih banyak amal lain yang tetap mengalir kepada orang yang sudah mati setelah kematiannya.

Dalam kitab Syarh as-Shudur, Imam al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi menyebutkan hadits-hadits lain yang menyebut lebih dari tiga amal tersebut. Berikut adalah hadits-hadits yang dimaksud.

عن أبي أمامة، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: أربعةٌ تجري عليهم أجورهم بعد الموت: مرابطٌ في سبيل الله، ومن علّم علما، ورجلٌ تصدّق بصدقة، فأجرها له ما جرت، ورجل ترك ولدا صالحا يدعو له (رواه أحمد)

Dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Ada 4 golongan yang senantiasa mengalir pahala kepada mereka setelah meninggal dunia, yaitu: orang yang berjaga untuk berjihad di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmu, orang yang berrsedekah jariah, dan orang yang meninggalkan anak shalih yang berdoa untuknya’. (Riwayat Ahmad)

عن جرير بن عبد الله مرفوعا: من سنّ سنّة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء، ومن سنّ سنّة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء (رواه مسلم)

Dari Jarir bin Abdullah secara marfu’, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang merintis suatu tradisi yang baik, maka ia mendapatkan pahala rintisan tersebut dan setelah ia meninggal dunia ia mendapatkan pula pahala orang yang melanjutkan tradisi baik tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melanjutkan tradisi tersebut. Barangsiapa yang merintis suatu tradisi yang jelek, maka ia maka ia mendapatkan dosa rintisan tersebut dan setelah ia meninggal dunia ia mendapatkan pula dosa orang yang melanjutkan tradisi jelek tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melanjutkan tradisi tersebut’ (Riwayat Muslim)

عن أبي سعيد الخدري مرفوعا: من علّم آيةً من كتاب الله أو بابا من علم أنمى الله أجره إلى يوم القيامة (رواه أبن عساكر)

Dari Abu Sa’id al-Khudry secara marfu’, Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang mengajarkan satu ayat dari Kitabullah atau satu pembahasan dari suatu ilmu, maka akan mengembangkan pahalanya sampai hari Kiamat’ (Riwayat Ibnu Asakir)

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أن مما يلحق المؤمن من حسانته بعد موته: علما نشره، أو ولدا صالحا تركه، أو مصحفا ورّثه، أو مسجدا بناه، أو بيتا لإين السبيل بناه، أو نهرا أجراه، أو صدقةً أخرجها من ماله في صحته تلحقه بعد موته (رواه أبن ماجة وابن خزيمة)

Abu Hurayrah menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya di antara amal kebaikan orang beriman yang akan mengalir kepadanya setelah kematianny adalah: ilmu yang disebarluaskannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf al-Quran yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah singgah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, sedekah yang dikeluarkannya semasa sehatnya. Semua itu akan mengalir baginya setelah kematiannya’ (Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

عن أنس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سبعٌ يجري للعبد أجرها بعد موته وهو في قبره: من علّم علما، أو أجرى نهرا، أو حفر بئرا، أو غرس نخلا، أو بنى مسجدا، أو ورّث مصحفا، أو ترك ولدا يستغفر له بعد موته (رواه البزار وأبو نعيم)

Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Ada 7 hal yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba setelah kematiannya dan ia berada di kuburnya, yaitu: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali/membuat sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf al-Quran, dan meninggalkan anak yang memohonkan ampunan baginya setelah kematiannya’ (Riwayat al-Bazzar dan Abu Nu’aim)

عن ثوبان، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كنت نهيكم عن زيارة القبور فزوروها، واجعلوا زيارتكم لها صلاةً عليهم، واستغفارا لهم (رواه الطبراني)

Tsauban menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Dulu aku pernah melarang kalian melakukan ziarah kubur, maka sekarang lakukan ziarah kubur. Jadikan ziarah kubur kalian itu sebagai kesempatan untuk mendoakan mereka sekaligus permohonan ampunan bagi mereka’ (Riwayat at-Thabrani)

Jika kita gabungkan informasi semua hadits tersebut, maka kita dapatkan bahwa ada 13 amal yang pahalanya tetap mengalir setelah kematian, sebagai berikut:

1. Sedekah jariah

2. Ilmu yang bermanfaat buat orang lain

3. Doa (permohonan ampun) anak setelah kematian seseorang.

4. Berjaga untuk jihad di jalan Allah

5. Merintis suatu tradisi yang baik

6. Pelestarian tradisi yang baik oleh generasi berikut

7. Mewariskan mushaf al-Quran

8. Membangun masjid

9. Membangun rumah singgah untuk ibnu sabil

10. Mengalirkan sungai

11. Membuat sumur

12. Menanam pohon kurma (atau pohon lain yang buahnya/hasilnya dapat dinikmati oleh orang lain atau binatang)

13. Doa dan permohonan ampun dari peziarah kubur kepada penghuni kubur.

Jadi, amal yang pahalanya akan terus mengalir setelah kematian bukan hanya tiga.

Amalan-amalan Bulan Dzulhijjah

12 Okt

Umur umat Nabi Muhammad saw berkisar 60-70 tahun. Namun berkat rahmat Allah swt, umur yang singkat tersebut bisa mendatangkan keberkahan dengan cara melakukan amal-amal shalih pada waktu-waktu yang diberkahi (al-awqot al-mubarokah). Di antara waktu-waktu yang diberkahi tersebut adalah Malam Qadr (Laylatul Qadr) pada malam-malam 10 terakhir di bulan Ramadhan. Amal shalih yang dilakukan pada Malam Qadr lebih baik dari amal seribu bulan (80 tahun) sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qadr ayat 3, ‘Malam Qadr itu lebih baik dari seribu bulan’.

Selain Malam Qadr, Allah swt juga memberikan kita waktu istimewa lainnya, yaitu sepuluh hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah (Ayyam al-Asyri min Dzilhijjah), baik siang atau malamnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ – يَعْنِى أَيَّامُ الْعَشْرِ – قِيْلَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلاً خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ شَيْئٌ

‘Tidaklah ada hari-hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah dibanding hari-hari ini (yakni 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah)’. Lalu para sahabat berkata, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar untuk berjihad dengan diri dan hartanya kemudian semuanya itu tidak kembali lagi (yakni mati syahid)’. (Riwayat Bukhari).

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, ‘Yang jelas, sebab yang membuat istimewa Ayyam al-Asyri min Dzilhijjah adalah karena bersatunya induk ibadah (ummahat al-ibadah) di dalamnya, yaitu shalat, puasa, sedekah, dan haji. Sedangkan pada hari-hari yang lain, tidak ditemukan yang demikian’.

Amalan Umum Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat Bulan Suci (Syahr al-Haram). Tiga bulan lainnya adalah Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Secara umum, dianjurkan untuk meningkatan amal shalih di empat bulan suci tersebut, misalnya membaca al-Quran,  memperbanyak zikir dan doa, memperbanyak sedekah (untuk kerabat dan orang lain), infak, amar ma’ruf nahyu munkar, menunjukkan bakti kepada orangtua (birrul walidayn) baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, memperbanyak sujud melalui shalat-shalat sunat, shalat berjamaah pada shaf terdepan, meninggalkan perbuatan dosa, dan sebagainya. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah swt dalam surat at-Taubah/9: 36, ‘Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu berbuat zalim terhadap dirimu dalam bulan yang empat itu…’

Yang dimaksud  ayat ‘janganlah kamu berbuat zalim terhadap dirimu’ adalah jangan sampai terjerumus dalam perbuatan-perbuatan dosa. Agar diri kita tidak terjerumus perbuatan dosa, maka kita melakukan amal-amal shalih.

Amalan Khusus Bulan Dzulhijjah

Secara khusus, amalan-amalan di bulan Dzulhijjah ditekankan pada 10 hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah (Ayyam al-Asyri min Dzilhijjah) sebagaimana pada hadits di atas. Hadits di atas tidak menyebut jenis amalnya, namun amal shalih apa saja yang dilakukan pada waktu tersebut memiliki nilai istimewa di mata Allah swt.

Amalan-amalan tersebut sebagai berikut.

Pertama, amal-amal shalih apa saja yang dilakukan pada 10 hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Kedua, melakukan haji dan umrah.

Ketiga, memperbanyak tahlil, takbir, dan tahmid. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ، فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ – رواه الطبراني فى المعجم الكبير

Tidaklah ada hari-hari yang lebih mulia di sisi Allah dan amal-amal shalih di dalamnya lebih dicintai-Nya dibanding amal-amal shalih pada 10 hari-hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu perbanyaklah mengucap tahlil, takbir, dan tahmid’ (Riwayat at-Thabrani).

Takbir ada dua: muthlaq (tidak terikat) dan muqoyyad (terikat). Takbir muthlaq dilakukan ketika masuk awal Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah (akhir hari Tasyriq). Adapun takbir muqoyyad dilakukan sehabis shalat fardhu, yaitu mulai dari selesai shalat Subuh 9 Dzulhijjah sampai sehabis shalat Ashar 13 Dzulhijjah (akhir hari Tasyriq). Pada hari Idul Adha dianjurkan untuk melakukan takbir muthlaq dan muqoyyad.

Allah swt berfirman dalam surat al-Baqarah/2: 203, ‘Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang (yakni hari-hari Tasyriq tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah)…

Redaksi takbir (yang di dalamnya juga memuat tahlil dan tahmid):

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Boleh juga ditambah dengan:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Bagi laki-laki sunnah mengeraskan takbir, dan bagi wanita sunnah sebaliknya.

Keempat, Puasa pada hari 9 Dzulhijjah bagi yang tidak melakukan ibadah haji. Diriwayatkan seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang puasa Arafah?’ Rasulullah menjawab,

إِنِّى أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ – رواه مسلم والترمذي، واللفظ للترمذي

Aku berharap kepada Allah agar puasa tersebut dapat menghapus dosa pada tahun yang lalu dan dosa tahun yang akan datang’ (Riwayat Muslim dan at-Tirmidzi)

Kelima, melakukan shalat Idul Adha dan mendengarkan khutbah Idul Adha.

Shalat Idul Adha dilakukan di masjid jika luas, jika tidak maka di tempat yang lebih luas, semisal lapangan, alun-alun, tempat terbuka, dsb.

Keenam, melakukan qurban binatang ternak (kambing, kerbau, sapi, dan unta) setelah shalat Idul Adha tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Allah berfirman dalam surat al-Kautsar 1-3,Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus’.

Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 34 dan 36, ‘Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka…’

Dan telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, karena kamu mendapatkan kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

Rasulullah saw bersabda,

مَنْ وَجَدَ سَعَةً لِأَنْ يُضَحِّيَ فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَخْضُرَنَّ مُصَلاَّنَا – رواه الحاكم

‘Barangsiapa yang diberi keluasan rizki untuk berqurban namun ia tidak berqurban, maka janganlah ia masuk ke dalam tempat shalat kami’ (Riwayat al-Hakim)

Mayoritas ulama (Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad) menilai qurban hukumnya sunnat muakkad, tidak seperti Imam Abu Hanifah yang menilainya sebagai wajib.

 أَنَّ أًصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ قَالُوْا: مَا هَذِهِ اْلأَضَاحِى؟ فَقَالَ: سُنَّةُ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ، قَالُوْا: فَمَا لَنَا فِيْهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ، قَالُوْا: فَالصُّوْفُ؟ قَالَ: بِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنَ الصُّوْفِ حَسَنَةٌ – رواه الترمذي وأبن ماجة والحاكم وغيرهم

Suatu kali, Rasulullah ditanya para sahabatnya, ‘Wahai Rasulullah, apakah qurban itu?’. Rasulullah menjawab, ‘Qurban adalah sunnah ayah kalian, yaitu Ibrahim’. Para sahabat kembali bertanya, ‘Jika kami ber-qurban, apa yang kami dapatkan dari qurban itu?’. Rasulullah menjawab, ‘Pada setiap helai rambutnya, terdapat kebaikan’. Para sahabat kembali bertanya, ‘Bagaimana dengan bulu-bulunya?’. Rasulullah menjawab, ‘Pada setiap helai bulunya juga terdapat kebaikan’. (Hadits hasan, riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, dll).

 

Doa Ibu yang Membuat Anaknya yang Mati Hidup Lagi

17 Mei

Sebelumnya saya pernah menulis tentang dahsyatnya Doa Nabi Yunus  dan dahsyatnya Doa Nabi Musa. Kali ini saya akan menulis tentang dahsyatnya doa seorang ibu terhadap anaknya yang sudah mati, kemudian anak itu hidup kembali. Kisah ini saya dapatkan dalam kitab Mujab ad-Da’wah yang ditulis oleh Imam al-Hafizh Ibnu Abi ad-Dunya rahimahullah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu , dia bercerita:

Suatu hari kami menjenguk seorang anak muda dari Anshar (Madinah) yang sedang sakit berat. Kami tidak beranjak dari sisinya sampai ajal menjemputnya. Lalu kamipun membentangkan kain untuk menuntupi wajahnya. Ibunya yang sudah lemah dan tua berada di samping kepalanya. Lalu kami menoleh kepadanya sambil menghiburnya dengan berkata, ‘Berharaplah pahala dari Allah atas musibah yang menimpamu’.

‘Apakah anakku sudah mati?’, tanya wanita tua itu.

‘Ya’, jawab kami.

‘Benarkah apa yang kalian katakan?’, tanyanya lagi.

‘Ya, benar’, jawab kami.

Lalu wanita tua itu mengulurkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku pasrah kepada-Mu dan berhijrah kepada Rasul-Mu, dengan harapan agar Engkau berkenan menolongku dalam tiap kesulitan. Ya Allah, janganlah Engkau timpakan kepadaku musibah ini pada hari ini’.

Kemudian dibukalah penutup wajah yang telah kami tutupkan kepada anak muda itu. Tidak berapa lama kemudian, kami menyantap makanan bersamanya.

Ajaib, anak muda itu hidup kembali.

Apa hikmah kisah ini?

Pertama, kisah ini memberi bukti akan dahsyatnya efek doa seorang ibu yang shalihah. Doa orangtua kepada anaknya seperti doa Nabi untuk umatnya. Jangan ragu untuk selalu meminta doa dari orangtua.

Kedua, kisah ini memotivasi kita agar terus berdoa. Jangan pernah berhenti berdoa. Jangan berpikir mengapa doa kita belum terkabulkan. Kalaupun Allah swt ‘belum’ menjawab doa kita, maka kita sudah mendapatkan dua pahala: pahala berdoa dan pahala bersabar menunggu keputusan Allah swt. Tidak ada doa yang tidak terkabul. Allah swt mengabulkan doa-doa kita yang sesuai dengan kebutuhan kita dan sesuai pada waktu yang kita butuhkan.

Ketiga, kisah ini memotivasi kita untuk terus mempertebal keyakinan kepada Tuhan. Ya, keyakinan penuh kepada Allah swt, Sang Pemberi Kehidupan, bahwa Dia akan selalu menyertai langkah hidup kita. Keyakinan seperti ini tidak akan tumbuh dalam hati seseorang yang tidak percaya dengan Kemahakuasaan Allah swt. Keyakinan seperti ini tidak akan lahir dari hati yang lalai dari Allah swt. Itulah hati yang penuh dengan doa dan pengharapan kepada Allah, hati yang penuh dengan cinta kepada Allah, hati yang selalu berusaha lurus di jalan-Nya. Pemilik hati seperti ini akan selalu ditolong oleh Allah swt. persis seperti yang dilakukan-Nya terhadap wanita tua itu.

Kita seringkali merasa putus asa dan terombang-ambing dengan ujian hidup. Itu karena kita tidak punya keyakinan penuh kepada Allah swt. bahwa Dia akan menolong kita. Bisa jadi, hati kecil kita berkata bahwa sebabnya adalah karena kita kurang dekat dengan-Nya selama ini.

Jika kita selalu berusaha mendekat kepada Allah swt dan memperbaiki ibadah kepada-Nya, maka yakinlah Dia akan memberi jalan keluar pada setiap kesulitan kita.

Menemukan Keridhaan Allah

15 Mei

Kitab Risalah al-Qusyayriyyah boleh dibilang sebagai buku-panduan standar buat orang-orang yang ingin memperbaiki akhlak dan menajamkan ruhaninya. Inilah buku tasawwuf, yang usianya hampir 1000 tahun sejak ditulis, yang banyak dibaca di dunia Islam. Imam al-Qusyayri, sang penulis, menulisnya melalui pendekatan al-Quran, as-Sunnah, dan atsar. Didalamnya, ditambahkan pula kehidupan orang-orang shalih dan pengalaman-pengalaman ruhani mereka, sehingga buku ini bukan bualan semata. Bahkan, seorang Syaikhul Islam sekelas Zakariya al-Anshari berkenan memberikan syarh dan tahqiq terhadap kitab ini, sehingga kita lebih mudah memahaminya.

Ketika membahas tentang maqam ridha, Syaikh al-Qusyayri menuliskan sebuah diskusi menarik antara seorang murid dengan gurunya. 

Seorang murid bertanya kepada gurunya, ‘Apakah seorang hamba dapat mengetahui bahwa Allah swt ridha padanya?’ 

Sang Guru menjawab, ‘Tidak bisa. Bagaimana ia bisa tahu yang demikian, sedangkan ridha-Nya adalah perkara ghaib?’ 

Sang murid berkata, ‘Aku kira dia bisa tahu’ 

Sang Guru bertanya, ‘Bagaimana caranya?’ 

Sang murid menjawab, ‘Jika aku rasakan hatiku ridha kepada Allah swt, maka tahulah aku bahwa Dia juga ridha kepadaku’ 

Sang Guru berkata, ‘Hebat! Bagus sekali jawabanmu, nak!’

Bencilah dengan Perbuatannya, Bukan dengan Orangnya

14 Mei

Mari kita belajar dari 3 orang sahabat Rasulullah: Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah al-Anshari radhiyallahu anhum. Mereka termasuk sahabat-sahabat Rasulullah yang senior.

Suatu hari, Abu Darda berjalan bersama para sahabatnya. Di tengah jalan, ia melihat seorang pendosa. Para sahabatnya yang lain mencaci orang itu.

Lalu Abu Darda berkata, ‘Bagaimana menurut kalian jika kalian menemukan dosa itu pada hati kalian, apakah kalian akan mengeluarkannya?’

Mereka menjawab, ‘Tentu saja’

Abu Darda berkata, ‘Makanya, janganlah kalian mencaci saudara kalian. Sebaiknya pujilah Allah karena Dia-lah yang telah menyelamatkan kalian dari dosa’.

Mereka bertanya, ‘Apakah engkau tidak membenci orang itu?’

Abu Darda menjawab, ‘Innama ubghidhu amalahu, fa idza tarokahu fa huwa akhi -sesungguhnya yang aku benci adalah perbuatannya. Jika ia sudah meninggalkan perbuatannya, maka ia tetap saudaraku’.

Lain lagi dengan Ibnu Masud. Ia pernah berkata, ‘Jika kalian melihat seseorang melakukan perbuatan dosa, maka janganlah kalian ikut-ikutan menjadi backing syetan terhadap orang itu, dengan mengatakan, ‘Ya Allah, balaslah perbuatannya. Ya Allah, laknatlah ia. Namun, mohonlah kepada Allah agar kalian mendapatkan afiat (keselamatan dari dosa). Sesungguhnya kita ini, para sahabat Nabi, tidak akan mengatakan sesuatu terhadap seseorang sampai kita tahu tanda kematiannya. Jika akhir hidup orang itu ditutup dengan kebaikan, maka tahulah kita bahwa ia sudah mendapat kebaikan. Jika hidup orang itu berakhir dengan keburukan, maka kita menjadi takut mendapat yang seperti itu’.

Begitulah sikap mulia Abu Darda dan Ibnu Masud dalam menyikapi pelaku dosa. Padahal kalau dilihat dari persfektif kesucian pribadi mereka, tentu saja keduanya lebih pantas untuk mencaci para pelaku dosa. Sebagaimana kita ketahui, Abu Darda adalah sahabat Rasulullah yang terkenal dengan figur yang rajin ibadah. Begitu pula dengan Ibnu Masud, yang punya suara indah, yang membuat Rasulullah menangis ketika mendengar Ibnu Masud membaca al-Quran di hadapannya. Bukan hanya itu, meskipun Ibnu Masud punya betis yang kecil, namun jika nanti ditimbang pada hari Kiamat, maka berat betisnya yang kecil itu akan melebihi beratnya Bukit Uhud. Ini menjadi tanda bahwa pemilik betis itu adalah orang mulia.

Lain lagi dengan orang yang bernama Abu Dujanah. Suatu hari ia sakit. Para sahabat yang lain datang menjenguknya.

Yang mengherankan, meskipun wajahnya pucat akibat sakit yang dideritanya, wajah Abu Dujanah tetap memancarkan cahaya.

Para sahabat bertanya, ‘Ma li wajhika yatahallalu? – Apa yang membuat wajahmu senantiasa bercahaya?’

Abu Dujanah menjawab, ‘Ada dua amal yang selalu aku pegang teguh dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah berbicara dengan sesuatu yang kurang bermanfaat. Kedua, hatiku  selalu menilai sesama Muslim dengan hati yang tulus’.

Abu Darda, Ibnu Masud, dan Abu Dujanah menjalani hidup sesuai hati mereka, bukan sesuka hati mereka. Tentu saja, ada beda antara hidup SESUAI hati dengan hidup SESUKA hati.

Setiap hati akan bercerai-berai, kecuali hati yang saling mencinta atas dasar kecintaan kepada Allah, dan surga adalah tempat yang paling pantas untuk bersatunya hati seperti ini…

Ingat-ingat Pesan Mama (Special for Women)

12 Mei

Inilah pesan paling indah sepanjang masa buat orang-orang yang menginginkan indahnya rumahtangga dan harmonisnya perkawinan. Pesan ini melintas batas waktu dan zaman.

Baiklah, saya kembali memulainya dengan sebuah kisah, sebagaimana Ibnul Jauzy menulisnya dalam kitab Ahkam an-Nisa’.

Dahulu kala, ada seorang raja di negeri Yaman yang bernama al-Harits bin Amru al-Kindi. Ia mendengar berita bahwa ada seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya. Wanita itu adalah putri Awf al-Kindi. Lalu sang raja mengutus seorang wanita yang bernama Asham, sebagai comblang, kepada keluarga Awf untuk membuktikan langsung kebenaran berita itu.

Maka berangkatlah Asham menuju rumah Awf. Sesampainya Asham di sana, ia diterima oleh istri Awf yang bernama Umamah binti al-Harits. Asham mengabarkan maksud kedatangannya. Lalu Umamah menemui salah satu putrinya, yang dimaksud oleh Asham. Dari dalam kamarnya, Umamah berkata kepada putrinya, ‘Wahai putriku, sesungguhnya di luar ada bibimu yang datang kepadamu untuk ‘memperhatikan’ sebagian urusanmu. Keluarlah engkau. Temui dia. Jangan kau sembunyikan apapun darinya. Berbicaralah kepadanya sesuai pembicaraan yang dimaksud olehnya’.

Singkat kisah, Asham kembali ke sang Raja, mengabarkan apa yang ia lihat. Ia kabarkan bahwa wanita yang ditemuinya adalah seorang wanita yang wajahnya putih bersih layaknya cermin dan untaian rambutnya tersusun indah.

Sang Raja bulat hati melamar putri Awf. Lamaran diterima, dan Awf, sang ayah, menikahkannya dengan putrinya.

Pada malam pertama, Umamah, sang ibu, mendatangi putrinya. Sang ibu memberinya nasihat berharga sebagai bekal perkawinannya. 

Sang ibu berkata, ‘Wahai putriku, engkau akan pergi dari rumah tempat engkau dibesarkan menuju seorang lelaki yang belum engkau kenal dan kepada seorang teman yang belum tentu dekat. Jadilah engkau seperti hamba-sahaya terhadapnya, niscaya ia akan menjadi hamba-sahaya bagimu juga. Jagalah baik-baik 10 perkara, maka engkau akan bahagia: 

Pertama dan kedua, bergaullah dengannya dengan sikap merasa-cukup (qana’ah) dan dengarkan baik-baik ucapannya dan taatlah padanya. Sesungguhnya dalam sikap merasa-cukup ada ketentraman hati, sedangkan dalam mendengar dan taat ada keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat, perhatikanlah tempat tatapan matanya dan penciumannya tertuju. Jangan sampai matanya tertuju kepada dirimu di saat engkau dalam keadaan jelek dan jangan sampai penciumannya tertuju kepada dirimu di saat dirimu kurang wangi.

Kelima dan keenam, perhatikanlah waktu tidur dan makannya, karena panasnya lapar dapat membakar perasaan dan kurangnya tidur dapat menimbulkan marah.

Ketujuh dan kedelapan, jagalah hartanya dan perhatikan kemuliaannya dan keluarganya. Mengatur harta secara baik adalah dengan cara melakukan takaran yang baik, dan menjaga keluarga secara baik adalah dengan cara mengatur yang baik pula.

Kesembilan dan kesepuluh, janganlah engkau melawan perintahnya dan jangan bongkar rahasianya. Jika engkau melawan perintahnya, berarti engkau membuatnya dadanya cemburu. Jika engkau bongkar rahasianya, maka engkau tidak akan aman dari tipu-dayanya. Janganlah engkau bergembira di hadapannya di saat ia sedang bersusah hati, dan jangan pula engkau bermuram durja di saat ia sedang bahagia.

Begitulah…

Kisah Tiga Roti dan Tiga Batu Emas

11 Mei

Wahb bin Munnabih adalah salah satu alim besar di zamannya. Lahir di masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Dengan begitu, ia termasuk generasi tabi’in. Kelebihannya adalah kemampuannya dalam menganalisis kitab-kitab suci Ahlul Kitab. Dia sendiri pernah mengatakan, ‘Aku sudah membaca 30 kitab yang turun kepada 30 Nabi’. Ia juga terkenal dengan koleksi kisahnya tentang lika-liku hidup kaum Israil.  Selama 40 tahun, Wahb tidak pernah mencaci angin (karena memang ada larangan dari Rasul untuk mencaci angin). Selama 20 tahun, ia melakukan shalat Isya dan Shubuh dengan satu kali wudhu’. Sewaktu melaksanakan haji pada tahun 100 H, ia didatangi para ahli fiqh terkemuka saat itu, di antaranya adalah Atho’ dan Hasan al-Bashri.

Begitulah biografi singkat dari Wahb bin Munabbih, sebagaimana yang ditulis oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’.

Nah, kali ini Wahb bin Munabbih akan bercerita kepada kita tentang kisah Nabi Isa dan Batu Emas. Nabi Isa adalah salah satu Nabi yang berasal dari kalangan Yahudi dan diutus kepada bangsa Yahudi. (Baca juga tulisan sebelumnya tentang turunnya Nabi Isa pada akhir zaman). 

Suatu hari Nabi Isa melakukan perjalanan ditemani seorang Yahudi. Nabi Isa membawa satu roti, sedangkan orang Yahudi membawa dua roti.

Sampai pada suatu tempat, Nabi Isa berkata, ‘Bagaimana kalau sekarang kita makan bersama?’ Yahudi itu menjawab, ‘Baiklah’. Tapi ketika ia mengetahui bahwa Nabi Isa hanya punya satu roti, ia menyesal. Dia berpikir bahwa satu rotinya akan dimakan oleh Nabi Isa. Ia tidak ingin hal itu terjadi.

Sebelum makan, Nabi Isa mencari tempat untuk berdoa. Di saat itu pula, orang Yahudi juga mencari tempat untuk makan satu rotinya secara diam-diam.

Tibalah waktunya makan. Masing-masing mengeluarkan makanannya. Ketika Nabi Isa melihat Yahudi hanya mengeluarkan satu roti, Nabi Isa berkata kepadanya, ‘Di manakah satu roti lagi?’ Yahudi itu menjawab, ‘Saya hanya punya satu roti ini, kok’.

Lalu Nabi Isa makan satu roti dan orang Yahudi makan satu roti. Kemudian mereka pergi, meneruskan perjalanan.

Di perjalanan, mereka melewati sebuah pohon. Nabi Isa berkata kepada Yahudi, ‘Bagaimana kalau kita istirahat di bawah pohon ini, tidur sampai pagi hari?’ Yahudi itu berkata, ‘Baik, mari kita lakukan’. Mereka berdua tidur di bawah pohon itu sampai pagi hari.

Pagi hari, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan orang buta. Nabi Isa berkata kepadanya, ‘Bagaimana kalau aku menyembuhkan matamu, sehingga Allah mengembalikan penglihatanmu, apakah engkau akan bersyukur kepada Allah?’ Orang buta itu menjawab, ‘Ya, tentu saja’.

Lalu Nabi Isa mengusap mata orang buta itu dan berdoa kepada Allah. Setelah itu, orang buta itu dapat melihat. Kemudian Nabi Isa berkata kepada orang Yahudi yang menemaninya, ‘Demi Dia yang telah memperlihatkan kepadamu bagaimana orang buta ini dapat melihat, apakah engkau punya satu roti lainnya?’ Yahudi itu menjawab, ‘Demi Tuhan, hanya ada satu roti’. Nabi Isa terdiam.

Mereka meneruskan perjalanan, hingga melewati seekor rusa. Lalu Nabi Isa memanggil rusa itu, kemudian menyembelihnya dan memakannya. Sehabis menikmati daging rusa, Nabi Isa berkata, ‘Wahai rusa, berdirilah dengan izin Allah’. Maka rusa itu kembali hidup, seperti sedia kala.

Yahudi itu berkata, ‘Mahasuci Allah’. Nabi Isa berkata, ‘Demi Dia yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu, siapakah yang memakan roti ketiga itu?’ Orang Yahudi itu menjawab, ‘Hanya ada satu roti, sebagaimana yang sudah saya katakan’.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hingga tiba di sebuah perkampungan. Tak disangka, di dekat mereka ada tiga batu besar terbuat dari emas. Nabi Isa berkata, ‘Satu batu emas untukku, satu untukmu, dan satu lagi untuk orang yang punya roti ketiga’. Mendengar ucapan Nabi Isa, orang Yahudi berkata, ‘Akulah yang punya roti ketiga itu. Aku memakannya ketika engkau sedang berdoa’.

Nabi Isa berkata, ‘Kalau begitu, semua batu ini untukmu’. Lalu Nabi meninggalkan Yahudi itu.

Tinggallah orang Yahudi itu sendiri. Ia mencoba membawa tiga batu emas itu, namun ia tidak sanggup membawanya. Tidak lama kemudian, lewatlah tiga orang, lalu mereka membunuh Yahudi itu dan menguasai batu emasnya.

Tiga batu emas itu sungguh menggoda. Lalu dua orang di antara mereka berniat buruk kepada salah satunya. Lalu salah satunya berkata, ‘Pergilah engkau ke perkampungan terdekat. Belilah makanan untuk kita’. Setelah orang itu pergi, satu orang berkata, ‘Jika nanti ia datang, kita bunuh saja, dan emas ini kita bagi berdua’. Temannya setuju.

Sementara temannya yang sedang mencari makanan berkata dalam hati, ‘Nanti setelah membeli makanan, maka aku akan taburkan racun di dalam makanan itu agar mereka mati keracunan. Dengan begitu, aku sendiri yang menguasai batu emas itu’.

Sampailah orang itu dengan membawa makanan yang telah ditaburi racun. Lalu dua orang temannya langsung membunuhnya. Kemudian keduanya menikmati makanan itu. Tak lama kemudian, keduanya mati juga.

Setelah peristiwa itu, Nabi Isa melewati batu itu bersama para sahabatnya yang lain. Ketika ia melihat ada 4 orang mati di samping batu emas itu, ia berkata kepada para sahabatnya sambil menunjuk batu emas dan orang-orang yang mati itu, ‘Begitulah dunia memperlakukan penghuninya. Oleh karena itu, berhati-hatilah kalian’.

Pesan moral kisah ini sungguh jelas. Pertama, pilihlah teman perjalanan yang baik, apakah itu istri, suami, atau sahabat. Kedua, jangan berlaku culas terhadap teman perjalanan. Ketiga, jika hati terlalu terpikat dengan dunia, maka ia tidak akan sanggup menghadapi godaan dunia. Keempat, harta berpotensi untuk membuat gelap hidup. Demi harta, orang rela bunuh-membunuh. Inilah yang dimaksud Rasulullah ketika beliau bersabda, ‘Sesungguhnya yang aku kuatirkan terhadap kalian sesudahku adalah terbukanya sebagian kemewahan dan gemerlap dunia’ (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Yang membuat kita selamat di dunia adalah manakala kita menghiasi hidup kita dengan zikir (ingat, mawas diri) kepada Allah, menjadikan apapun sebagai sarana untuk dekat kepada Allah, mendekatkan diri dengan para ulama, dan terus belajar sepanjang hidup. Begitulah pesan Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.