Inikah Mati yang Indah?

20 Mei

Saya membaca kitab Malak al-Mawt wa al-Anbiya’, yang ditulis oleh Syaikh Musthafa Murad. Di dalamnya berisi tentang bagaimana malak al-mawt (malaikat pencabut nyawa) mencabut nyawa manusia, disertai contoh-contoh nyata dari para Nabi dan orang-orang shalih. Bahkan di dalamnya diceritakan orang-orang yang meninggal dunia secara husnul khatimah atau su’ul khatimah.

Saya akan ceritakan salah satunya.

Di Mesir, ada seorang pemuda yang tugas sehari-hari mengumandangkan azan dan menjadi imam shalat di masjid. Dari wajahnya terlihat kewibawaan dan cahaya ketaatan. Suatu hari, sebagaimana biasanya, ia naik ke atas menara untuk mengumandangkan azan. Persis di bawah menara, ada rumah keluarga Nashrani. Ketika ia sampai di atas menara, ia melihat anak perempuan keluarga Nashrani. Pemuda tersebut tergoda. Ia tidak jadi mengumandangkan azan. Ia turun dari menara dan masuk ke rumah tersebut.

Ketika pemuda itu masuk, sang perempuan bertanya, ‘Ada apa gerangan denganmu? Mau apa kamu?’

Pemuda tersebut menjawab, ‘Aku menginginkanmu’.

Perempuan itu bertanya, ‘Mengapa bisa begitu?’.

Pemuda itu menjawab, ‘Kamu sudah merobek-robek hatiku dan mengambil seluruh isi hatiku’.

Perempuan itu berkata, ‘Aku tidak mau menimpali sesuatu yang belum jelas’.

Pemuda itu terus merayu, ‘Aku akan mengawinimu’.

Perempuan itu berkata, ‘Kamu seorang Muslim, sedangkan aku Nashrani. Ayahku tidak akan mengawinkan aku denganmu’.

Pemuda itu berkata, ‘Aku akan masuk Nashrani’.

Perempuan itu berkata, ‘Kalau memang begitu, baru aku mau kawin denganmu’.

Maka pemuda itu masuk Nashrani, kemudian ia tinggal bersama dalam rumah itu. Suatu hari, ia naik ke atas rumah tersebut, tiba-tiba ia terjatuh. Ia meninggal seketika. Ia meninggal dalam keadaan tidak beragama.

Begitulah ceritanya. Mudah-mudahan itu tidak terjadi dengan kita dan anak-keturunan kita.

Allahumma inna na’udzu bika min su’il khatimah. Amin…

9 Tanggapan to “Inikah Mati yang Indah?”

  1. Dewi 5 Mei 2012 pada 19:04 #

    Tuhan itu cuma satu,jd tidak usah kamu wahai manusia seolah2 membenarkan kepercayaanmu sendiri.kamu bukanlah Tuhan,jadi sesungguhnya kamu juga manusia yang berdosa n orang kafir. Dan tidak hanya orang nasrani aja yang jelek di matamu,orang muslim jg banyak yang keji,muna dan banyak menyakiti orang di sekitarnya.mudah2n yang menulis tadi matinya lebih keji dari yang telah di karangnya sendiri.amin..

    • Bang Aziem 9 Mei 2012 pada 11:26 #

      Alhamdulillah, Mbak Dewi masih percaya bahwa Tuhan itu Maha Esa. Semoga Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa, memberi rahmat kepada Mbak Dewi. Terimakakasih sudah berkomentar, dan mohon maaf saya tidak bisa mengomentari unek-unek Mbak Dewi.

  2. alfaqir 24 Mei 2010 pada 15:37 #

    Allahumma sholli ‘alaa Sayyidina Muhammad,

    Allahumma inna nas aluka husnul khootimah, wa na ‘uudzubika min su’il khootimah

    Ya dzal jalaali wal ikram, amitsna ‘alaa diinil islaam

  3. A.J.I 21 Mei 2010 pada 01:22 #

    postingannya sangat informatif bro,…Thanks

    Bandwidth Telkomsel Unlimited

  4. tedisobandi 20 Mei 2010 pada 20:19 #

    ya allah ya salaam sallimna ya rahmaan.
    allahumma inna nasaluka husnal khotimah.
    wana’udzubika min su’uil khotimah..ya rabbal alamiin.

    benar ya ustad, saya juga minta perlindungan allah dari mati tidak membawa iman, islam dan ihsan….
    pernah saya membaca kitab, seperti tadzkiratul qurtubi, dan daqoiqul akhbar, menjelaskan tentang sakaratul maut,, yaa allah, saya,mah jadi gak tenang, sebelum allah, memberikan ketenangan kepada saya.

    bagus ya ustsdz, suatu peringatan yang baik, bagi orang yang selalu merenungkanya….

    seperti ada penjelasan bahwa : cukuplah dengan kematian menjadi peringatan.

    syukron ya ustadz, doakan saya ya ustadz supaya saya termasuk orang-orang yang husnul khotimah…amiin

    • Bang Aziem 22 Mei 2010 pada 08:13 #

      Dalam pengantar kitab (khutbah al-kitab) at-Tadzkirah fi Ahwal al-Mawta wa Umur al-Akhirah, Imam al-Qurthubi menulis: fa inni ra’aytu an aktuba kitaban wajizan, yakunu tadzkiratan li nafsi, wa amalan shalihan ba’da mawti – Aku memandang perlu untuk menulis sebuah kitab yang ringkas, yang menjadi peringatan untuk diriku dan sebagai amal shalih setelah aku mati.

      Kalau Imam al-Qurthubi masih saja tidak tenang dengan kematian dan bersiap-siap dengan amal shalih, apalah artinya kita. Namun, kita boleh berbesar hati dengan sabda Rasul saw.: kafa bi al-mawti wa’izhan (cukuplah kiranya kematian menjadi nasihat bagi kalian). Siapapun yg senantiasa menjadikan kematian sebagai nasihat (peringatan atau renungan), maka insya Allah dicabut nyawanya dalam keadaan husnul khatimah. Kita berdoa dan tetap berbaik sangka kepada Allah bahwa Dia akan mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

Trackbacks/Pingbacks

  1. Web Hidup Mulia - 13 Juni 2010

    Hukum Wanita Jadi Imam Sholat Jum’at…

    I found your entry interesting thus I’ve added a Trackback to it on my weblog :)…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: