Berbuat Baik kepada Orangtua yang Berbeda Agama

13 Apr

Saad bin Abi Waqash masuk Islam. Namun, ibunya yang masih musyrik tidak setuju dengan pilihan Saad. Ibunya berusaha menggoyahkan pilihannya, agar ia kembali kepada agamanya semula. Ibunya tahu bahwa selama ini Saad adalah anak yang berbakti kepada orangtua dan Saad sangat lembut perasaannya.

Ibunya mulai merayu, ‘Wahai anakku Saad, agama apa yang kau peluk itu? Akibat tindakanmu itu, sekarang kau harus pilih: tinggalkan agama itu atau Ibu mogok makan dan minum sampai mati, sehingga hatimu diliputi kesedihan dengan kepergianku dan engkau menyesali tindakanmu itu’.

Dengan santun, Saad menjawab, ‘Jangan lakukan itu, Ibu. Bagaimanapun juga, aku tidak akan meninggalkan agama baruku’.

Sehari semalam ibunya mogok makan-minum. Pada hari ketiga, kondisi ibunya sudah payah. Lalu Saad berkata, ‘Ya ummah, inni ala syadidi hubbi laki, la asyaddu hubban lillahi wa rasulihi.. wa wallahi, law kana laki alfu nafsin fa kharajat minki nafsan ba‘da nafsin ma taraktu dini hadza li syay‘in — Wahai Ibu, sungguh aku cinta padamu. Namun cintaku kepada Allah dan rasul-Nya lebih besar lagi. Demi Allah, meskipun Ibu punya seribu nyawa yang keluar satu persatu, aku tetap  tidak akan meninggalkan agamaku ini dengan apapun juga’.

Melihat kuatnya tekad Saad, Ibunya akhirnya mengalah. Ia akhirnya kembali makan dan minum.

Karena peristiwa ini, turunlah wahyu kepada Rasulullah saw., ‘Jika kedua orangtuamu memaksamu untuk berbuat syirik kepada-Ku dengan sesuatu yang kau sendiri tidak tahu, maka jangan kau turuti ajakan mereka dan pergaulilah mereka berdua di dunia ini dengan ma‘ruf’ (al-Quran, surat Luqman ayat 15)

Begitulah. Islam memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik kepada orangtua kita, meskipun mereka berbeda agama. Satu saja yang tidak bisa ditolerir, yaitu manakala mereka mengajak kita kepada kekufuran, maka kita wajib tidak taat padanya. Kita juga boleh mendoakan mereka dengan kebaikan, asal tidak memohonkan ampun untuk mereka. Islam melarang kita untuk memohonkan ampun untuk orang non-Muslim. Selain dari itu, kita tetap diperintahkan berlaku ma‘ruf kepada keduanya. Secara bahasa, ma‘ruf artinya ‘diketahui’. Secara istilah, artinya ‘tindakan kebaikan yang sudah diketahui atau dimaklumi oleh masing-masing pihak’. Jadi, berbuat ma‘ruf artinya melakukan kebaikan yang kondisional, sesuai dengan tempat, keadaan, dan orangnya. Makanya, tradisi atau kebiasaan di suatu daerah disebut Urf, seakar kata dengan ma‘ruf. Tentu saja, urf satu daerah dengan daerah lain tidak selalu sama, bukan?

Jadi, berbuat baik kepada orangtua yang berbeda agama adalah berdasarkan yang ma‘ruf, berdasarkan kepantasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: