Tag Archives: ibnu taymiyyah

Sunnah-sunnah yang Mulai Ditinggalkan

14 Jan

Pertama, me-ruqyah diri sendiri dan keluarga

Menurut Aisyah, ‘Rasulullah meniupkan badannya dengan bacaan al-muawwidzat (surat al-Falaq dan surat an-Nas) di saat sakit yang membawanya kepada kematian. Ketika sakitnya makin parah, aku sendiri yang meniupkan ke tubuhnya dengan bacaan tersebut, dan aku mengusapkan badannya dengan tangan beliau sendiri untuk mendapatkan keberkahan’ (Hadits, riwayat Bukhari)

Kedua, berdoa ketika memakai pakaian baru

Menurut Said al-Khudri, ‘Jika Rasulullah mendapatkan pakaian baru, maka beliau memberi nama terhadap pakaian tersebut, apakah pakaian itu berupa ‘imamah (sorban yang melilit di kepala), baju, atau selendang. Lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, segala puji untuk-Mu. Engkau-lah yang memakaikan aku dengan pakaian ini. Aku memohon kepada-Mu kebaikan pakaian ini dan kebaikan dari tujuan pembuatannya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pakaian ini dan keburukan dari tujuan pembuatannya’ (Hadits, riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Ketiga,  mengucapkan salam kepada semua orang Islam termasuk anak kecil

Menurut riwayat Abdullah bin Amr, ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah tentang ajaran Islam yang paling baik. Rasulullah menjawab, ‘Engkau memberi makan kepada orang lain, membacakan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal’ (Hadits, riwayat Muslim)

Menurut riwayat Anas, Rasulullah melewati sekelompok anak kecil, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka (Hadits, riwayat Muslim)

Keempat, berwudhu sebelum mandi janabah (mandi hadats besar)

Menurut riwayat Aisyah, jika Rasulullah mandi janabah, beliau memulainya dengan mencuci tangannya, lalu berwudhu, lalu memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu dengan jari-jarinya itu beliau menyela-nyela pangkal rambutnya, lalu menyiramkan air ke atas kepalanya, lalu menyiramkannya ke seluruh kulitnya (Hadits, riwayat Bukhari)

Kelima, mengucapkan amin dengan keras di belakang imam

Menurut riwayat Abu Hurayrah, Rasulullah bersabda, ‘Jika imam mengucapkan amin, maka kalian ucapkan juga amin. Barangsiapa yang ucapan amin-nya bersamaan dengan ucapan amin malaikat, maka dosanya yang lalu diampuni Allah’ (Hadits, riwayat Bukhari dan Muslim).

Para generasi salaf (terdahulu) terbiasa mengeraskan suara amin mereka sampai-sampai masjid menjadi bergema.

Keenam, mengeraskan zikir setelah shalat

Dalam kitab Shahih dinyatakan bahwa orang-orang mengeraskan suara mereka dengan zikir setelah selesai shalat, dan kebiasaan ini sudah terjadi pada zaman Rasulullah.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah berkata, ‘Dianjurkan mengeraskan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir setelah selesai shalat’.

Ini adalah sunnah yang terputus (ditinggalkan) pada kebanyakan masjid setelah imam mengucapkan salam, karena para jamaah shalat tidak mengeraskan membaca zikir-zikir yang telah dicontohkan Rasulullah.

Ketujuh, membuat sutrah (pembatas) ketika shalat

Menurut riwayat Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda, ‘Jika kalian shalat, hendaknya ia shalat menghadap sutrah (pembatas) dan mendekat kepadanya. Jangan biarkan seorangpun melintasi pembatas itu. Jika ada yang melintasi, maka tolaklah ia, karena sesungguhnya ia adalah syetan’ (Hadits, riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Menurut riwayat Abdullah bin Umar, Rasulullah mendirikan jariyah (budak)-nya, lalu shalat menghadapinya’ (Hadits, riwayat Bukhari)

Kedelapan, mengikuti (menjawab) azan mu’azin

Abdullah bin Amr mendengar bahwa Rasulullah bersabda, ‘Jika kalian mendengar suara muazin mengumandangkan azan, maka katakanlah seperti yang ia katakan, lalu (setelah selesai azan) ucapkan shalawat kepadaku, karena barangsiapa yang mengucapkan satu kali shalawat kepadaku maka Allah akan ber-shalawat kepadanya sebanyak 10 kali. Setelah itu, mintalah kepada Allah untukku al-wasilah, karena itu adalah suatu tempat di surga yang tidak akan diberikan kecuali kepada hamba Allah. Dan aku berharap akulah orang yang mendapatkannya. Barangsiapa yang memintakan untukku al-wasilah, maka ia berhak mendapatkan syafaatku’ (Hadits, riwayat Muslim)

Kesembilan, berlomba-lomba dalam mengumandangkan azan, bersegera menuju shalat, dan berada di shaf (barisan) paling depan

Menurut riwayat Abu Hurayrah, Rasulullah bersabda, ‘Seandainya manusia tahu keutamaan mengumandangkan azan dan berada di shaf terdepan, lalu mereka tidak mendapatkan peluang itu kecuali dengan melakukan undian, niscaya mereka akan melakukan undian itu. Seandainya manusia tahu tentang keutamaan bersegera menuju shalat di masjid, niscaya mereka akan saling berlomba-lomba. Seandainya manusia tahu tentang keutamaan shalat Isya dan Shubuh berjamaah di masjid, niscaya mereka mendatanginya meskipun dengan cara merangkak’ (Hadits, riwayat Bukhari dan Muslim)

Kesepuluh, mengibaskan tempat tidur ketika akan tidur

Menurut riwayat Abu Hurayrah, Rasulullah bersabda, ‘Jika kalian mendatangi tempat tidur, hendaknya ia mengambil bagian dalam (ujung) sarungnya lalu mengibaskan tempat tidurnya dengan sarung itu, kemudian menyebut nama Allah, karena tak seorangpun tahu apa yang terjadi setelah ia meninggalkan tempat tidurnya. Jika ia berbaring, hendaknya ia berbaring dengan sisi kanan sambil berkata, ‘Maha Suci Engkau wahai Tuhanku. Dengan-Mu aku baringkan dan aku angkat pinggangku. Jika Engkau menahan nyawaku (ketika tidur) maka ampunilah aku. Jika engkau melepaskan nyawaku (yaitu bangun tidur) maka jagalah nyawaku dengan apa yang telah Engkau jaga terhadap hamba-hamba-Mu yang shalih’ (Hadits, riwayat Muslim)

Kesebelas, segera tidur malam (tidak begadang)

Jika ada keperluan penting, seperti mempelajari ilmu, mengobati orang sakit, dan sebagainya, maka dibolehkan tidak segera tidur malam. Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah tidak menyukai tidur sebelum melakukan shalat Isya dan tidak menyukai banyak mengobrol (begadang) sesudah melakukan shalat Isya.

Diterjemahkan dari:

Abdul Malik al-Qasim, Durus al-Am, (Riyadh: Dar al-Qasim, 2000).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 231 pengikut lainnya.