Akhlak Rasulullah saw. terhadap Musuh

11 Apr

Shofwan bin Umayyah adalah seorang yang memusuhi Rasululullah saw. Bapaknya, Ummayyah, juga memusuhi Rasulullah. Jadi, komplit sudah. Anak dan bapak sama-sama memusuhi Rasulullah.

Ketika Rasulullah memasuki Makkah dalam peristiwa Fath Makkah (Penaklukkan kota Makkah), banyak orang-orang Quraisy yang merasa ketakutan, bahkan tidak sedikit yang melarikan diri. Mereka takut kalau Rasulullah akan balas dendam atas perbuatan mereka selama ini. Di antara yang melarikan diri adalah Shofwan. Ia pergi menuju Jeddah. Dari Jeddah ia berencana menuju Yaman, dengan menyeberangi lautan. Shofwan merasa bahwa lebih baik ia mati di tengah lautan daripada mati di tangan Rasulullah. Padahal, Rasulullah memaafkan semua orang-orang yang sejak lama memusuhinya. Bahkan, Rasulullah memberi mereka hadiah-hadiah.

Shofwan tetap bersikeras dengan keinginannya. Maka, berangkatlah ia menuju Jeddah.

Pada saat yang sama, Umayr bin Wahb datang kepada Rasulullah. Umayr berkata, ‘Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shofwan sudah melarikan diri darimu. Saat ini ia akan menyeberangi lautan dan ia akan bunuh diri di sana. Maka, berilah ia jaminan keamanan’.

Rasulullah berkata, ‘Dia akan aman’. Umayr berkata, ‘Wahai Rasulullah, berikan padaku tanda jaminan keamananmu’. Maka, Rasulullah memberikan imamah (sorban yang melilit di kepala) yang dipakainya saat itu.

Maka, berangkatlah Umayr menuju Jeddah, menyusul Shofwan. Umayr berhasil menemukan Shofwan, yang saat itu akan menaiki kapal. Lalu Umayr berkata, ‘Wahai Sofyan, demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya. Ingatlah dirimu. Jangan kau celakakan dirimu sendiri! Aku datang kepadamu dengan membawa jaminan kemananan dari Rasulullah’. Umayr menunjukkan sorban Rasulullah kepada Shofwan.

Shofwan berkata, ‘Tapi aku kuatir dengan keselamatan diriku’. Umayr berkata, ‘Dia (Rasulullah) lebih lembut dan mulia dari yang kau kira’. Shofwan membatalkan niatnya naik kapal. Lalu, bersama Umayr ia kembali ke Makkah, mendatangi Rasulullah.

Sesampainya di hadapan Rasulullah, Shofwan berkata, ‘Inikah orang yang telah engkau berikan jaminan kemananan?’ Rasulullah menjawab, ‘Benar’. Shofwan berkata, ‘Kalau begitu, beri aku waktu 2 bulan untuk menentukan sikap (apakah masuk Islam atau tidak)’.

Rasulullah menjawab, ‘Engkau aku beri waktu 4 bulan’.

Subhanallah… Begitulah akhlak Rasulullah terhadap musuh-musuhnya.

Rasululullah tidak menekan Shofwan untuk mengambil keputusan dengan cepat, namun memberinya waktu lebih lama dari yang ia minta.

Rasulullah tidak eforia dengan kemenangannya. Rasulullah tidak memanfaatkan posisinya yang ‘di atas angin’ untuk membalas perlakuan buruk para musuhnya.

Rasulullah begitu lembut hatinya dan begitu sempurna pemaafannya.

I miss you, duhai Rasulullah…

About these ads

8 Tanggapan to “Akhlak Rasulullah saw. terhadap Musuh”

  1. ARIEF MAULANA 31 Mei 2011 pada 15:04 #

    TERIMAKASIH ABI.. IZINKAN SAYA UNTUK MENGCOPY INI UNTUK TUGAS AGAMA SAYA,…..

  2. abizakii 24 September 2010 pada 09:37 #

    Assalamu alaikum,
    Pak Ustad Aziem ,Saya mohon ijin copy ya :)

    • Bang Aziem 26 September 2010 pada 18:44 #

      alaykumussalam ya akhi… silakan…

  3. arroudloh 12 April 2010 pada 07:35 #

    Imam bushiry dalam burdahnya berkata, “Alangkah mulia pribadi Nabi, terhias budi pekerti. Keindahan yang di miliki, paras wajahnya tampak berseri. Kehalusannya bagai bunga, kemuliaannya bagai purnama, kedermawanannya bagai samudara, cita-cita nya bagai perjalan masa.” Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala Alih Wa Shahbihi Wa Sallim..

    Salam ukhuwah..

    • Bang Aziem 12 April 2010 pada 09:45 #

      Imam al-Bushiry juga berkata dalam Burdah-nya,

      مُنَزَّهٌ عَنْ شَرِيْكٍ فِى مَحاَسِنِهِ
      فَجَوْهَرُ الْحُسْنِ فِيْهِ غَيْرَ مُنْقَسِمِ
      دَعْ ماَ ادَّعَتْهُ النَصَارَى فِى نَبِيِّهِمْ
      وَاحْكمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيْهِ وَاحْتَكَمِ
      فَانْسُبْ إِلَى ذَاتِهِ مَا شِئْتَ مِنْ شَرَفٍ
      وَانْسُبْ إِلَى قَدْرِهِ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ

      Mulia dan sempurna
      tak dijumpai yang serupa
      sebab keagungan itu
      tak dibagi lebih dari satu

      Jangan kau anggap dia
      seperti Nashrani terhadap Isa
      kibarkanlah madah dan puji-puji
      setiggi apapun yang kau sanggupi

      Sebutkan untuknya
      yang kau tahu tentang yang mulia
      dan ucapkan kepadanya
      kebesaran yang tak terhingga

      Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa man tabi’ahu ila yawmiddin…

      • abihasan 6 September 2012 pada 15:42 #

        Allahumma sholli wasallim wabaarik ‘alayhi wa ‘alaa aalih..
        Kami rindu padamu, ya Rasul…

Trackbacks/Pingbacks

  1. Akhlak Rasulullah saw. terhadap Musuh | Sirah Rasulullah Muhammad Saw - 24 September 2010

    [...] Sumber : Ust.Aziem [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 209 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: